Today’s Indonesia Agriculture

Seperti apakah wajah pertanian Indonesia saat ini? Ditengah pemanasan global, perubahan iklim, pupuk yang semakin langka, dan jumlah petani yang semakin berkurang.  Apakah kita pantas untuk mempersalahkan generasi muda sekarang yang enggan mengikuti jejak orang tuanya menjadi petani? Atau mempersalahkan ketika banyak petani yang akhirnya meninggalkan lahan mereka di desa  dan memilih untuk menjadi buruh migran di negara orang? Pernahkah kita benar-benar berfikir mengenai nasib petani kita?

Mungkin gerasi diatas usia diatas 25/30 saat ini, masih ingat ketika dulu dibangku SD kita dibuai dengan cerita-cerita kehidupan yang damai di desa? Dengan sungai jernih mengalir, dan anak-anak bisa berenang dengan ceria sepulang membnatu orang tua di sawah atau sepulang mengembalakan ternak? Atau bagaiman anak-anak di desa bisa memperoleh berbagai macam buah seperti rambutan, mangga, kedondong, kelapa muda dengan gratis? Semuanya tersedia.  Kehidupan desa yang tenang, damai, dan juga keluarga yang harmonis.  Meskipun pagi sampai sore bapak dan ibu harus bekerja keras membanting tulang di sawah, namun sore harinya seluruh keluarga akan berkumpul dan menikmati makan malam bersama.  Si anak akan membuat tugas rumah/ belajar, bapak dan ibu menonton televisi, dan setelah jam 9 semua keluarga akan pergi tidur beristirahat.  Dan besok paginya, ketika ayam berkokok di pagi hari si ibu sudah bangun dan mulai memasak air dan nasi, ayah juga berangkat ke sawah, dan tak lama kemudian anak juga akan bangun dan bersiap-siap ke sekolah.  Masih sangat melekat diingatan saya, bagaimana keluarga petani yang dilukiskan dalam buku bacaan SD tersebut bena-benar bahagia, meskipun pendapatan dari hasil pertanian hanya seadanya, namun makanan untuk dikonsumsi cukup dan orang tua juga bisa menyekolahkan anak.

Tapi apakah keluarga petani Indonesia generasi sekarang masih merupakan keluarga harmonis seperti digambarkan oleh cerita diatas? Selintas, tidak perlu membaca data statistik kemiskinan di Indonesia, kita bisa mengetahui bahwa cerita keluarga sejahtera hanya merupakan ilusi semata.  Mungkinkah petani meninggalkan keluarganya, lahan sawahnya, jika saja hal tersebut bisa menghidupi mereka? Tentu saja petani akan memilih tinggal jika saja hal tersebut masih bisa menjadi sebuah pilihan, tapi jika pilihannya antara menahan lapar, dan hutang yang semakin menumpuk, maka petani tentunya akan memilih peluang lain, peluang untuk bekerja ke kota atau menjadi buruh migran di negara asing, dengan harapan bisa memperoleh sedikit uang yang bisa dikirim pulang untuk menghidupi keluarga, menyekolahkan anak.  Pilihan tersebut tentu saja memiliki resiko, dan petani sangat sadar dengan resiko tersebut.  Namun kenapa pilihan menjadi buruh migran masih lebih menarik dibanding tinggal di desa menggarap sawah? Karena permasalahan pertanian yang sudah semakin pelik.

Ketika tanah menjadi kering, membentuk bongkahan dengan tingkat kekerasan yang hampir menyerupai batu, atau ketika tidak ada salauran irigasi yang cukup memadai, ketika pupuk menjadi langka dan harga menjadi mahal, ketika petani harus menghadapi resiko yang cukup besar dimana padi yang ditanam belum tentu bisa panen dikarenakan hama tikus atau hama lain yang menyerang. Sedangkan investasi yang sudah dilakukan cukup besar, dan sering petani berhutang terlebihdulu, dengan harapan akan dibayar ketika panen.  Belum jika berbicara mengenai jumlah tenaga yang harus dikeluarkan.  Disaat orang kantoran mengeluh dengan kerjaannya didalam ruangan yang ber AC, petani sibuk mengangkat cangkul, berjemur di bawah terik matahari dengan suhu bumi yang semakin panas, dan perlu diingat, ketika pekerja kantoran pasti akan memperoleh upah/gaji dari hasil kerjanya setiap bulan, petani baru menerima hasil dari pekerjaan mereka 3-4 bulan lagi, dan itupun masih belum tentu mereka peroleh.  Bisa saja datang hama yang menghabiskan semua pagi mereka, atau bahkan banjir. Petani menannggung resiko itu sendiri.  Satu lagi, bahkan disaat petani berhasil panen, belum tentu juga petani untung, karena disaat panen raya, hukum pasar berlaku, supply yang tinggi permintaan tetap maka harga akan rendah. Dan belum sering petani dipermainkan oleh tengkulak, dan hasil pertanian mereka dibeli dengan harga murah.

Sekarang dengan semua permasalahan yang ada, akankah petani memberikan nasihat untuk anaknya, nak “jadi petani saja seperti ibuk/ bapak mu” jika kita bertanya kepada petani, umunya petani akan menjawab tidak, nasihat yang sering diberikan oleh petani ke anaknya adalah “nak, rajin-rajin belajar, biar nanti ngga susah seperti ibu/bapak mu” “ibu/bapak akan sangat senang jika kamu menjadi dokter, guru, dosen, tapi jangan menjadi petani”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s