Green has a price!

“Hijau” atau “green” adalah kata yang sering kita dengar belakangan ini. Mulai dari istilah green economic, green energy, green entrepreneur, green lifestyle, dan lain sebagainya. Kata “green” tersebut memiliki makna yang sangat luas, dan kata tersebut menjadi populer saat ini ditengah isu global warming, kelangkaan energi, meningkatnya polusi, dan juga perubahan iklim. Bagi orang yang tinggal di desa, pada umumnya, melihat sesuatu yang hijau sudah menjadi hal yang biasa. Tidak ada hal yang istimewa dengan hutan, melihat pohon mangga, melihat bunga, dan hal-hal hijau lainnya, karena hal tersebut sudah menjadi keseharian, dan ketersedian lahan sangat memungkinkan agar pepohonan tersebut bisa terus tumbuh, dan menghasilkan udara yang segar bagi penduduk sekitar. Pohon tersebut juga membiarkan burung membuat sarang dan tinggal tentram di rantingnya, yang dengan setia melindungi burung dari panas matahari dan hujan dengan daunnya yang hijau dan rimbun. Sebaga gantinya, burung akan bernyanyi setiap pagi untuk pohon tersebut, yang telah memberikan memberikan naungan sehingga burung bisa hidup dengan tenang.

Pertemanan burung dengan pohon ini, telah memberikan manfaat tersendiri bagi manusia, tanpa harus menangkap atau membeli burung tersebut, penduduk yang tinggal disekitar pohon bisa menikmati nyanyian dan kicauan burung dengan gratis. Gratis? banyak orang tidak mengetahui bahwa harga untuk mendengarkan suara burung berkicau sangat mahal. Terutama bagi orang yang hidup di kota besar (terkecuali bagi orang kaya yang mampu membeli hutannya sendiri). Dengan meningkatnya tingkat stress di kota besar, banyak orang berharap bisa pergi liburan keluar kota, meskipun harus bermacet-macetan, orang tetap berlomba-lomba pergi ke puncak disaat weekend. Suara burung juga dijual online, dengan harga sekitar 5-10 USD per satu lagu (sekitar2-5 menit).

Di jakarta, jika ingin tinggal di lokasi hijau, namun masih berada ditengah kota, maka orang harus membayar dengan sedikit harga ekstra.

Di tempat tinggal saya yang sekarang, saya harus mengeluarkan harga ekstra (2 kali lebih mahal dari harga sewa biasa), dikarenakan lokasi rumah tempat saya tinggal masih sangat asri. Banyak orang membayangkan tidak akan bisa melihat matahari terbit di jakarta, hanya dengan membuka jendela, melihat dedaunan, dan juga mendengarkan suara burung di Pagi hari. Saya beruntung karena tempat tinggal saya sekarang menawarkan segala hal yang sangat jarang bisa ditemui di Jakarta.

Saya sangat menyukai tinggal di rumah, mendengarkan suara musik, membaca buku, sambil membuka jendela dan menatap hamparan hijau di depan saya. Seperti yang pernah saya ungkapkan sebelumnya, saya bukan penggemar kota besar. Saya lahir di kota kecil, dan selalu berharap jika suati saat kota ditempat dulu saya dibesarkan bisa berkembang sehingga orang tidak perlu lagi meninggalkan tanah kelahirannya demi alasan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. kadang hidup ini ironis, di kota besar, tanah sudah semakin langka, dan harganya juga sudah selangit. Namun di desa, pada umunya tanah masih tersedia dengan harga yang masuk akal. Dengan uang yang terbatas, masih memungkinkan untuk mendapatkan rumah yang sehat dan indah. Namun orang masih lebih memilih untuk hidup di kota besar dengan segala tantangannya.

Pagi tadi, sewaktu membersihkan kamar, saya mendengarkan acara di radio Netherland. diskusi di radio tersebut membahas mengenai pertanian. Ada 3 orang dari Afrika yang diwawancara. Salah satu perempuan di acara tersebut, berasal dari Kenya, bercerita bahwa bekerja di bidang pertanian tidak populer di Kenya. Pertanian identik dengan kemiskinan dan juga gensi yang rendah. hal ini berbeda jika bekerja di bidang hukum, musik, industri kreatif, bisnis, dan sejenisnya. Banyak teman kuliahnya dulu, yang sama-sama mengambil jurusan agribisnis, terpaksa membantir setir, bekerja di isu yang sama sekali berbeda. Mereka meninggalkan pertanian, hal ini dikarenakan lapangan pekerjaan untuk bidang pertanian terbatas. Namun dia melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Kita tidak seharusnya menunggu pekerjaan, namun menciptakan pekerjaan. Selagi lahan masih terbentang, kita masih bisa menanam, dan hal tersebut akan membuahkan hasil.

Satu lagi laki-laki dari malawi yang diwawancara, Di negaranya, pertanian tidak sepenuhnya ditinggal. Orang tidak bisa terlepas dari pertanian. karena pertanian adalah sumber penghidupan bagi banyak petani di Malawi. Tapi hal yang sama berlaku. dimana banyak generasi muda sekarang, lebih suka pergi ke kota besar, mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan. Atau banyak anak muda yang lebih menyukai bekerja didunia musik dan hiburan, bersenang-senang dan menghasilkan uang dengan cepat. Jika bekerja sebagai petani, maka musti menunggu dulu sampai tanaman yang ditanam mengahsilkan. dan menunggu tersebut bisa 3-6 bulan, bahkan lebih. Tapi pemerintah mengupayakan menciptakan lapangan kerja di daerah perdesaan. Misalnya, dengan membeli lahan/ membuka lahan, menanam tanaman yang produktif dan memperkerjakan orang-orang yang tinggal di desa. Selalu ada harapan untuk sektor pertanian.

Satu orang lagi, masih dari salah satu negara di Afrika juga mengatakan, bahwa, pertanian adalah ilmu turun temurun yang wajib dipelajari oleh generasi penerus. dan meskipun orang tersebut memiliki pekerjaan lain, misal bekerja di radio, namun pasti akan tetap memiliki lahan, dan juga bekerja sebagai petani.

Di dalam posting sebelumnya, saya menceritakan bagaimana pertanian juga mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Di India, hal yang sama juga terjadi. Generasi muda akan belajar bidang IT, kedokteran, dan lain sebagainya, sebagian besar tidak akan mau menjadi petani. Petani juga identik dengan kemiskinan. Saking miskinnya, dan biasanya jika terjadi gagal panen, petani banyak yang bunuh diri. Mereka sudah tidak sanggup menanggung beban hidup, dengan hutang yang semakin menumpuk. (http://www.independent.co.uk/news/world/asia/1500-farmers-commit-mass-suicide-in-india-1669018.html)

Kita masih beruntung karena jumlah petani bunuh diri di Indonesia, masih sangat jarang. Namun tidak menutup kemungkinan dengan bertambahnya permasalahan petani seperti kekeringan, banjir, iklim yang tidak menentu, serangan hama, rendahnya harga jual produk pertanian, petani juga akan menyerah dan berputus asa. Banyak, orang-orang hebat di Indonesia, yang sekarang menjadi sukses dan kaya dalam berbagai bidang adalah dulunya anak petani, namun apakah sekarang, ditengah kesuksesan mereka, dan mereka masih menyimpan kepedulian terhadap petani lainnya? banyak dari anak yang ketika sudah berhasil, biasanya akan bilang ke orangtuannya “bu, pak, tidak usah kesawah lagi, nanti saya kirimkan uang tiap bulan” atau “ibu dan bapak tinggal dirumah saya saja, bermain dengan cucu” dan kata-kata yang sama sejenisnya.

Balik lagi dengan kata Hijau tadi, jika saya tinggal di desa, mungkin saya tidak perlu membayar untuk bisa menikmati kicauan burung dan juga hamparan pohon bambu di depan jendela kamar saya. Pada faktanya, hampir seluruh pendapatan saya terkuras habis untuk bisa tinggal ditempat seperti ini. Dan apa intinya saya tinggal di kota besar, dengan pendapatan yang sedikit lebih baik dari di kota kecil, namun dengan pengeluaran yang lebih banyak? mungkin saya bisa lebih banyak menabung jika hidup di kota kecil, dengan gaji yang lebih kecil, dibandingkan hidup di kota besar dengan gaji yang lebih besar namun dengan pengeluaran yang lebih besar? terus kenapa saya memilih untuk pindah ke kota besar? saya rasa, sama seperti jawaban orang lain pada umunya, bahwa kadang hidup meninggalkan kita dengan tanpa pilihan. Jika sebelumnya saya memilih untuk bisa tinggal di kota kecil dengan pendapatan yang sederhana, dan hal itupun juga tidak tersedia. Saya akan tetap bisa hidup dan memiliki pendapatan yang layak, namun harus melepas ilmu yang sudah saya pelajari, dimana saya masih memiliki harapan jika suatu saat ilmu saya masih bisa berguna.

Kesempatan saya untuk bisa menggunakan ilmu tersebut, mengharuskan saya untuk tinggal di kota besar, namun dengan ilmu yang saya aplikasikan ke kota kecil/ desa dan petani lainnya. Saya tidak punya pilihan selain mengikuti aliran sungai kehidupan. namun selalu ada cara untuk bisa tetap mendapatkan hidup yang kita inginkan. Meskipun ada harga yang harus dikorbankan. Berbicara mengenai lahan, ditempat saya sekarang ada satu kebun dibelakang rumah, yang pemiliknya membolehkan saya untuk mengolahnya. namun apa hendak dikata, karena, waktu kosong saya sangat terbatas, sehingga, saya tidak bisa memanfaatkan lahan tersebut untuk bertani dan juga beternak ikan. jika saja lahan tersebut bisa diolah, saya yakin banyak keuntungan dan manfaat yang bisa diperoleh. Jangankan kebun, pekarangan saja bisa mendatangkan keuntungan/ bisa mengurangi pengeluaran, dengan memanfaatkan pekarangan dengan menanam cabe, tomat, dan sayuran lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s