Exploring Kerinci, Part 1: Waiting for public transport to go to Kerinci

Saya memulai perjalanan ke Kerinci dari kabupaten Bangko, Jambi. Setelah sebelumnya berangkat dari Jakarta dengan pesawat dan mendarat di Jambi (kurang lebih satu jam/ 59 menit). Dari Bandara Sultan Thaha Syaifuddin, saya melanjutkan perjalanan ke kabupaten Merangin dengan mobil carteran dengan waktu tempuh kurang lebih 7 jam.  Tidak banyak hal yang menarik yang dilihat disepanjang jalan, hanya ada rumah-rumah dan bangunan lain khas yang ditemukan di daerah kota kecil lainnya di Indonesia.
Setelah 2 hari menginap di Merangin, di hari ketiga saya dan 2 orang teman, memutuskan untuk menginap di Bangko. Di salah satu penginapan yang cukup terkenal disana. Tgl 24 Desember adalah hari libur cuti bersama karena besoknya adalah hari raya natal, ditambah hari sabtu dan minggu, jadilah ini weekend yang panjang. Saya memutuskan untuk sedikit berpetualang ke Kerinci, salah satu kabupaten di Jambi yang lebih dekat ke Sumatera Barat. Namun teman saya memutuskan untuk balik ke Jambi.
Saya akhirnya  pergi ke Kerinci sendirian. Malam tgl 23 Desember saya memesan mobil travel yang akan mengantarkan saya ke Kerinci. Berdasarkan tiket yang saya pegang, saya seharusnya akan di jemput di hotel pada pukul 10 pagi esok harinya. Perjalanan ke Kerinci adalah perjalanan yang kurang persiapkan dan juga kurang perencanaan. Tapi jika tidak sekarang kapan lagi. Kadang hidup itu tidak perlu direncanakann biarkanlah mengalir, dan tinggal kita tunggu kemana ujungnya.
Saya sudah lama tertarik untuk pergi ke taman nasional Seblat di Kerinci, tapi saya tidak memiliki cukup informasi, bagaimana cara untuk bisa sampai disana dari Jambi. Referensi yang saya dapatkan umumnya hanya untuk perjalanan dari Padang ke Kerinci. Namun tidak dari Jambi ke Kerinci. Saya baru menggali informasi tersebut setelah tiba di Jambi. 2 orang rekan kerja saya yang menemani saya ke Merangin tidak tahu banyak mengenai Kerinci, demikian juga supir mobil rental.  Dari terminal di Bangko, saya memperoleh informasi kalau dari Bangko ke Kerinci, membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam. Dan dari kerinci ke Padang membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam. Namun 2 orang teman saya memperingatkan kalau jalanan kesana sangat buruk dan curam terutama disaat hujan seperti sekarang.

Di Bangko saya menginap  di salah satu hotel sederhana, tidak terlalu bersih dan juga tidak terlalu kotor. Bisa dibilang lumayan untuk harga hotel sebesar 175 ribu rupiah per malam. Ukuran kamar hotel cukup luas dan  merupakan bangunan lama.  Kamar tersebut saya tempati berdua dengan seorang teman.  Kamar mandinya dilengkapi dengan air panas. Ranjangnya cukup tua, dan kasur yg sudah agak kempos. Syukurlah saya sudah terlalu lelah, sehingga setelah mandi bisa langsung tidur lelap. Tidur saya terganggu ketika jam 4 pagi saya dikejutkan oleh teriakan teman saya,  dengan wajah pucat dia menjelaskan  bahwa barusan kaca jendela dibuka dan ada tangan dari luar yang berusaha menggapai HP yg disimpan tidak jauh dari jendela.  Pencuri tersebut langsung menarik tangannya dan lari.  Lampu diteras kamar yg sebelum kita tidur menyala, ternyata dimatikan.  Berarti ada orang yang mematikan. Keheranan lain adalah kamar saya terletak di bagian paling ujung, dan jauh dari pintu utama sehingga tidak mungkin kalau yang mengambil adalah orang luar.  Karena jika iya, orang tersebut harus terlebih dahulu melewati meja reception hotel. Kita segera berprasangka kalau yg mengambil pastilah staff dari hotel itu sendiri. Untung kunci yg tergantung di pintu kamar telah saya cabut sebelum tidur dan dipindahkan diatas meja yang jauh dari jendela.  Jika tidak mungkin saja salah satu kaca nako dibuka untuk mengambil kunci dan kemudian si pencuri bisa membuka pintu kamar. Jika saja kunci tidak saya pindahkan bisa jadi pencuri tersebut sudah leluasa masuk dan mengambil hp, laptop, uang, dompet, dan barang berharga lainnya.  Saya tidak berani membayangkannya.  Setelah keterkejutan kita reda, kita memutuskan untuk kembali tidur, dan berniat untuk melaporkan hal tersebut ke pihak hotel.
Pihak hotel paginya meminta maaf dan menjelaskan kalau mereka baru saja merekrut karyawan baru. Dan mereka berterimakasih atas laporan tersebut. Tapi menurut saya, permintaan maaf tersebut tidaklah cukup, jika pihak hotel tidak mencoba mengusut pelaku pencurian tersebut.
Kembali ke perjalanan ke Kerinci, hal yang tidak mengenakan kembali terjadi lagi. Mobil travel yg seharusnya datang menjemput saya pada pukul 10 pagi, tidak jua kunjung datang. Padahal saat ini sudah menunjukan pukul 11 siang. setiap ditelfon mobil travel selalu bilang tunggu, tunggu, dan tunggu… namun sudah 2 jam lebih menunggu mobilnya masih juga belum datang. Saya langsung mengultimatum kalau sampai jam 12 siang mobil masih belum datang, maka tiket akan saya batalkan dan saya akan minta pengembalian uang.  Saya sendiri tidak yakin akankah hal ini berpengaruh bagi perusahaan travelnya. Dan tentu saja tidak dikarenakan mereka adalah satu-satunya mobil travel yang berangkat ke Kerinci dari Bangko. Saya tidak bisa membandingkan profesionalitas travel di jambi dengan travel di Bandung atau travel di Jakarta.
Saya menunggu mobil travel tersebut di lobi hotel.  Seharusnya saya menunggu di kamar hotel. Tetapi tadinya saya berfikir kalau mobilnya on time, sehingga kunci saya kembalikan, dan check out.  Saya mencoba menunggu sambil membaca buku. 2 orang teman saya sudah kembali ke Jambi. Awalnya mereka menemani saya menunggu mobil travel, namun karena sudah lama menunggu dan mobilnya tidak kunjung datang saya menjadi tidak enak, apalagi mungkin mereka memiliki pekerjaan lain. Sehingga saya meminta teman tersebut untuk pergi saja, dan meyakinkan mereka kalau saya akan baik-baik saja. Keterlambatan ini tentu saja akan mempengaruhi jadwal perjalanan saya.   Saya belum pernah pergi ke Kerinci sebelumnya. Dan tentu saja tiba malam  hari di kerinci adalah hal yang berusaha saya hindari. Jika bepergian malam hari, maka hanya akan melihat kegelapan, dan bepergian malam hari juga rentan dengan risiko kejahatan.  Dengan kesabaran yang sudah hampir habis saya terus menunggu mobil travel tersebut. Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan.

2 thoughts on “Exploring Kerinci, Part 1: Waiting for public transport to go to Kerinci

    • Travel dari Bangko ke Kerinci sekitar 60 ribuan, dan dari Kerinci ke Padang sekitar 80 ribuan. Maaf lupa-lupa ingat.
      Saya masih punya contact person pemandu sewaktu saya jalan-jalan di kerinci, namanya feni, dan dia pasti akan senang membantu. Jika perlu saya akan kasih no hp-nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s