Membeli barang second to save the planet?

Jika anda pencinta lingkungan, mungkin anda akan bilang kalau membeli barang second akan lebih baik dibandingkan dengan membeli barang baru, terutama jika barang second tersebut kualitasnya bagus.

Saya juga berfikir demikian. Sedikitnya dengan membeli barang second berarti kita sudah menjalani salah satu prinsip hidup berkelanjutan, yaitu dengan “re-use”, sehingga barang-barang tersebut tidak terbuang menjadi sampah. Dan kita sudah berpartisipasi mengurangi sampah itu.

Makanya ketika saya hendak pindah rumah, saya memutuskan untuk membeli beberapa furniture second. Khususnya furnitur yang berbahan “kayu”, dimana ini berarti saya sudah mencegah satu batang pohon ditebang untuk dijadikan furnitur baru. Salah satu dalam list barang yang hendak saya beli adalah “kursi dan meja belajar” atau mungkin umum dikenal dengan meja dan kusi kantor.

Sayapun segera browsing di Internet untuk menemukan tempat yang menjual meja dan juga kursi kantor bekas. Setelah hampir satu jam mencari saya menemukan beberapa artikel kompas yang membahas perkembangan usaha peralatan kantor bekas di jalan saharjo (deket manggarai). Artikel tersebut membahas bagaimana demand terhadap meja, kursi, brakas, filing cabinet, dan banyak peralatan kantor lainnya meningkat. Di artikel tersebut diulas bagaimana banyak perusahaan kecil yang baru buka mulai melirik untuk investasi peralatan kantor dari jalan saharjo ini dibandingkan membeli peralatan baru. Untuk barangpun, toko-toko peralatan kantor bekas di jalan saharjo ini juga sering kebanjiran supply dari beberapa kantor yang pindah lokasi atau yang tutup atau yang downsizing. Sehingga kualitas produk yang dijual masih bagus.

Artikel tersebut begitu menarik, sehingga saya memutuskan kalau furnitur saya haruslah berasal dari jalan saharjo tersebut.

Sedikit tergesa-gesa saya meninggalkan rumah. Waktu sudah menunjukan pukul 2 sore. Saya harus bergegas karena tokonya sore jam 5-6an sudah tutup. Dan katanya kalau minggu mereka tidak jualan.

Cuaca diluar sangat panas, dan saya berkeringatan. Saya jarang keluar rumah, apalagi harus berjalan-jalan dibawah teriknya sinar matahari dan debu serta polusi yang bertebaran di Jakarta. Saya menelusuri jalan saharjo berharap untuk mendapatkan kursi dan meja yang saya incar. Ada banyak toko, dan saya bingung harus memasuki toko yang mana. Saya mulai dari toko yang paling kiri, disitu ada mba-mba yang mungkin owner dari toko tersebut. Saya menunjuk beberapa barang yang dipajang, dan menanyakan harga-nya. Sepertinya dia tidak begitu mengetahui harganya. Dan sayapun segera beralih ke toko lainnya. Berbelanja disini sangat berbeda dengan berbelanja di Carrefour atau di Hypermart yang juga memajang beberapa furnitur dengan harga bersaing, dan furnitur yang dijual juga baru. Disini sangat panas dan berdebu. Ingin rasanya saya segera pulang, namun saya ingat kalau saya harus mendapatkan kursi dan meja kantor saya. Belum tentu saya bisa balik lagi kesini, karena tempatnya cukup jauh di tempat saya tinggal. Saya tinggal di kemang, dan jika saya naik taksi kesini maka saya akan menghabiskan sekitar 35ribuan naik express atau 45-50 ribuan naik bluebird. So better not to think untuk balik lagi ke tempat ini. Dengan rasa malas saya kembali menyeret kaki saya untuk memasuki toko-toko lain dan menanyakan harga. Saya tidak begitu sreg dengan barang-barang yang saya lihat. Semuanya terlihat kumal, dan harga yang ditawarkan penjual juga cukup mahal, bahkan ada beberapa penjual yang menawarkan kursi/ meja mendekati harga asli-nya. Saya ingat lagi salah satu artikel yang ditulis di dalam sebuah blog kalau jika pergi kesana jangan endiri, mending pergi berdua dengan teman yang ahli tawar-menawar. Saya jadi menyesal karena pergi sendiri. Setelah berputar-putar saya masih belum menemukan kursi yang pas. Harga dan kualitas masih belum sesuai. Dan menurut saya jika memang harga-nya seperti yang ditawarkan oleh pedagangnya mending membeli kursi baru. Meskipun membayar sedikit lebih mahal, namun kualitasnya dijamin puas. Barang yang didapat sesuai dengan harga yang dibawarkan. Namun jika membeli barang bekas hal ini belum tentu.

Tetapi saya ingat lagi niat “baik” saya. Kalau berbelanja disini bukan cuma sekedar membeli meja dan kursi namun juga demi misi “mulia” menyelamatkan lingkungan. So saya akhirnya balik algi ke toko pertama. Karena dari beberapa pedagang yang sudah saya datangi, pedagang pertama terlihat lebih jujur dan tidak banyak omong (ketika saya kesana kali yang kedua, ada suami dari si owner perempuan tadi yang benar-benar tahu harga). Meskipun harga yang dia tawarkan relatif mahal dan tidak bisa kurang lagi. Entah kenapa, saya akhirnya memutuskan untuk membeli satu meja, lemari kecil, dan satu kursi. Harga meja 300 ribu (bukan dari kayu), Kursi yang bisa disetel turun naik seharga 200 ribu (kursinya tidak terlalu nyaman, dan yang pasti ini kursi bekas meskipun terlihat baru), dan lemari 150 ribu. Ongkos kirim untuk 3 item ini adalah 100 ribu. Dari ketiga barang yang saya beli saya merasa kalau lemari adalah yang paling masuk akal, sedangkan 2 produk lainnya termasuk mahal. Dan jika nilainya dikonversikan ke produk baru, harganya akan sama dan mungkin bisa jadi lebih mahal. Lebih murah disini adalah karena kualitasnya juga berkurang, dan saya akan bilang kalau kualitasnya tidak bisa dibanding dengan produk baru. Terlepas dari itu, saya merasa kebutuhan saya juga bukan barang baru. Saya cukup puas dengan kualitas yang saya dapat. Dan penghematan saya dibandingkan dengan produk baru mungkin hanya sekitar 20-25%. Tidak murah memang, tetapi lihat sisi lainnya. Saya sudah membantu pemerintah DKI dalam mengelola sampah atau turut menyelamatkan pepohonan yang merupakan paru-paru dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s