Happy and Sad times

Hidup tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Sering kali kita juga dipaksa untuk sedih karena kehilangan.

Beberapa minggu ini, saya merasa kelelahan, jadi akan lebih baik jika saya mengambil cuti dari kerjaan, beristirahat dan juga memanjakan diri.

Saya bangun agak siang, menikmati secangkir kopi, membuka jendela kamar, mersakan matahari pagi dan juga mendengarkan kicauan burung. Dunia terasa sangat damai.

Saya merasa sangat bahagia. Hal yang mungkin terkesan kecil, tetapi sayayakin sangat banyak orang yang tinggal di kota besar yang tidak bisa merasakan nikmatnya hal kecil seperti ini.

Hidup sudah berubah menjadi mesin waktu. Semuanya mengenai deadline dan rutinitas pekerjaan yang seperti tidak ada ujungnya. Tidak ada orang yang menginginkan terjebak di dalam siklus ini. Tetapi ketika untuk bisa bertahan hidup harus bekerja, maka mau tak mau orang harus menjalankannya. Dan disaat perasaan lelah itu datang maka jangan segan untuk mengambil jatah cuti.

Cuti tidak harus identik dengan liburan keluar kota. Cuti juga tidak harus identik dengan sesuatu yang membutuhkan uang. Cuti bisa dinikmati dengan hanya istirahat dirumah dan merasakan waktu yang berjalan dengan lambat. Menikmati suasana pagi sambil mendengarkan suara musik. Semuanya menyenangkan.

Saya memutuskan untuk pergi ke salon dan memanjakan diri setelah sebelumnya menikmati indahnya pagi. Saya sudah merencanakan untuk body massage dan luluran. Hal ini bisa dilakukan disaat weekend, namun biasanya salon akan penuh dan kalau kita tidak berangkat pagi maka kita terpaksa harus antri. Saya membayangkan salon atau tempat spa di hari kerja pasti sepi, dan ternyata saya benar.

saya datang agak siang, sekitar jam 11 dengan mengendarai motor. Salonnya tidak jauh dari tempat saya tinggal. Dengan hati riang saya mengantongi sejumlah uang dan juga STNK. Saya tidak mau membawa tas, karena saya penin mendapatkan kesan santai dan praktis. Saya juga membawa satu buku yang baru saya beli di Gramedia “A doctor without borders” atau buku yang dalam bahasa aslinya berjudul 6 months in Sudan. Saya mendapati salon masih kosong, dan petugasnya mempersilahkan saya untuk masuk ke salah satu bilik yang kosong. Saya bisa pilih. Rasanya lega! Saya segera mengganti pakaian saya dengan selembar kain yang terletak diatas tempat tidur massage. Tak lama si mba tukang pijatnya datang. Dengan sabar dan perlahan dia segera memijat betis saya, jemari kaki, keseluruhan kaki dan perlahan naik keatas. Jari-jari si mba tersebut begitu terlatih. Rasanya ketegangan saraf selama ini mengendur dan saya bisa merasakan darah saya bergerak lancar kembali. Saya menyesal kenapa selama ini saya tidak pernah mau mampir ke salon. Meskipun saya mampu untuk membayar pelayanan tersebut tetapi dulu rasanya seperti buang waktu. Dan saya merasa kalau salon bukanlah tempat yang pas buat saya. Saya orang yang cuek yang hobinya bertani dan pecinta alam. Sudah menjadi sangat tipikal kalau perempuan seperti saya sangat tidak memperhatikan kecantikan. Tetapi belakangan ini saya sering mendapat masukan dari teman-teman untuk mulai memperhatikan hal yang satu ini. Untuk mulai memanjakan diri setelah bekerja keras lebih dari 40 jam dalam seminggu.

Termotivasi dari perkataan mereka bahwa saya harus memanjakan diri saya sebagai bentuk penghargaan saya terhadap otak dan jemari tangan sudah bekerja keras maka akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke salon ini. Dan saya tidak menyangkal perkataan teman saya. Rasanya sangat menyenangkan. Aroma minyak serai tersebut menembus hidungku, masuk ke paru-paru, ke otak, dan tinggal disana membersihkan segala keruwetan di otak. Mereka benar dan saya telah bodoh karena selama ini tidak mau mendengar. Pijatannya begitu sempurna, kalau tidak salah mungkin ada satu jam. Setelah pijat selesai, treatment kedua dimulai. Saya dilulur. Hal yang saya senangi dari si mba Pijat tersebut adalah karena dia melayani dengan sepenuh hati. Saya tidak habis fikir kenapa dia mau menjadi tukang pijat. Bagaimana kalau orang yang dipijat jorok, dan juga cerewet. Si mba pijat juga tahan berdiri dengan jemari yang terus memijat tanpa merasakan rasa lelah. Saya seakan malu dengan diri saya sendiri, yang bekerja mungkin tidak sekeras si mba ini, dan mendapatkan kompensasi yang jauh lebih baik dan masih saja mengeluh dalam hidup ini. Si mba tersebut masih kecil, mungkin baru berumur awal 20an, dan dia sangat ramah.

Setelah selesai luluran, si mba langsung menyiapkan handuk saya dan mengantarkan ke kamar mandi. Dia terus tersenyum. Di kamar mandi tersedia air hangat. Rasanya begitu nikmat setelah dipijat dan dilulur sekarang tubuh disirami dengan shower hangat. It feels really good. Saya seakan lupa dengan segala kepenatan dan juga kerisauan hati. Ketika selesai mandi, si mbak tadi juga menawarkan secangkir jahe hangat yang langsung saya jawab dengan iya. Ketika membayar aku jadi lebih cinta lagi dengan salon ini. Harganya murah sekali. Aku hanya membayar rp. 67.500 untuk 2 perawatan tersebut. Mereka bilang mereka lagi punya program discount sebesar 50%. Saya langsung memberikan tip untuk si mbak tadi. Karena harganya sungguh murah. Dan menurut saya si mbak pijat tadi layak memperoleh lebih atas kerja kerasnya. Saya tidak yakin kalau dia digaji layak oleh si pemilik salon. Saya seakan lupa dengan semua-nya, saya sangat senang dan riang. Saya segera mengendarai motor saya pulang. Ketika dirumah saya mengeluarkan isi saku saya dan baru sadar kalau STNK motor saya hilang. Dan saya tidak tahu hilang dimana.

Saya menelfon salon yang tadi dan mereka segera mencarikan, tetapi saya kecewa karena tidak ada. Si mba yang mengangkat telfon minta nomor telfon saya dan berjanji akan menghubungi jika STNK tersebut ketemu. Saya sendiri tidak yakin kalau STNK tersebut tercecer di salon tersebut. Pasti STNK tersebut sudah terlebih dahulu hilang dalam perjalanan saya ke salon. Saya tidak bisa mengingat dengan persis. Yang saya ingat bahwa STNK tersebut saya simpan di saku celana belakang, sehingga mungkin saja terjatoh di jalan. Nikmatnya pijat tadi sesaat langsung lenyap. Di rumah saya kembali membongkar laci meja dan juga tas, tetapi STNK tersebut tidak ditemukan. Hal ini wajar menurut saya, karena jelas saya tadi membawa STNK tersebut, dan besar kemungkinan kalau STNK tersebut hilang di jalan. Saya hanya bisa menerima dengan ikhlas. Memang bencana bisa terjadi kapanpun, dan kita tidak pernah tahu kapan itu terjadi. Seperti saya, hari ini saya cuti merencanakan untuk mengalami hari yang indah, tetapi hal yang terjadi sungguh di luar kendali. Sekarang saya jadi sakit kepala lagi memikirkan untuk mengurus STNK yang hilang tersebut. Hal ini akan membutuhkan banyak waktu dan birokrasi yang membuat saya mumet.

Wednesday, 10 March 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s