Bertemu Adik Saif Ali Khan di India? (Part 2)

Semakin sering kita bepergian semakin banyak yang kita lihat, dan kita juga akan sadar bahwa dunia tersebut tidak sesempit dunia seperti yang kita bayangkan.  Dunia itu begitu luas, penuh dengan warna dan corak. Begitu banyak perbedaan di atas dunia ini dan hal itulah yang membuat dunia ini indah.  India adalah salah satu negara yang mempunyai tingkat keberagaman yang tinggi.  India terdiri dari 29 states (atau provinsi) yang menggunakan bahasa yang berbeda.  Dari film-film India yang pernah kita tonton, kita mengenal India dengan bahasa Hindi.  Tetapi ketika kita berkunjung ke India, kita akan surprise mengetahui betapa negara India sangat luas dan tidak seperti apa yang kita tonton di TV.  Di India Selatan tidak semua orang bisa berbahasa hindi tetapi banyak diantara mereka yang berbahasa Inggris lancar . Atau ada juga yang bisa mengerti hindi tetapi mereka tidak akan begitu suka menggunakan bahasa tersebut.  Mereka sering memilih berbahasa Inggris.  Saya memasuki India dari bandara Trivandrum, di Kerala.  Kerala terkenal sebagai daerah komunis dan daerah yang memiliki tingkat melek huruf tertinggi di India.  Menurut salah seorang teman saya, hal ini bisa jadi karena pengaruh komunis tadi.  Sebagai provinsi sosialis, pastinya pendidikan di daerah ini merata.  Tetapi komunis kerala juga unik.  Disini umumnya orang masih beragama. Disepanjang jalan saya melihat banyak gereja.  Banyak penduduk kerala yang beragama kristen, hindu dan muslim juga ada. Tidak jauh dari penginapan, ada beberapa pura, dan ketika saya menginap disana di pura tersebut sedang ada perayaan.  Perayaan yang cukup meriah. Musik dengan volum tinggi, di putar siang dan malam.  Menurut teman saya, suara musiknya mirip dengan musik kasidah.  Bisa jadi, hal tersebut sangat mungkin, mengingat penyebaran agama Islam di Indonesia banyak dipengaruhi oleh India.
Ketika di India, saya menginap di kovalam, di Soma Palm Shore hotel, harga penginapan semalam adalah sekitar 80 USD, (Untuk lebih lanju
t mengenai penginapan ini bisa click link berikut: http://www.somapalmshore.com/index.php), menurut saya suasana pantai disini biasa saja, demikian halnya dengan hotelnya.  Tetapi yang paling menarik disini adalah burung gagaknya.  Pagi-pagi ketika hari pertama saya menginap di hotel ini, saya bersemangat pergi ke beranda kamar untuk melihat suasana pagi hari sambil berharap melihat matahari terbit.  Tetapi saya terkejut ketika membuka pintu kamar yang saya dapati adalah puluhan ekor gagak.  Gagak tersebut berterbangan dari pohon kelapa yang satu ke pohon kelapa yang lain sambil mengeluarkan suara khas-nya.  Suara khas yang mirip pekikan dan mengingatkan saya akan sandiwara radio nini pelet.  Bagi yang pernah mengikuti sandiwara radio ini mungkin akan ingat bagaiman hal-hal yang menakutkan yang akan terjadi ditandai terlebih dahulu oleh suara burung gagak.  Misal ketika mendengar susara burung gagak pada malam hari itu adalah pertanda buruk.

Hari pertama saya belum terbiasa melihat banyak gagak yang bertebaran.  Meskipun gagak tersebut tidak mengganggu tetapi kehadiran mereka cukup menakutkan bagi saya.  Tetapi ketika memasuki malam kedua dan ketiga, saya sudah terbiasa dengan rauangan dan pekikan burung gagak tersebut.  Bahkan, burung gagak tersebut yang mengingatkan kalau saya bukan sedang di Indonesia.
Penginapan tersebut dilengkapi dengan restoran, yang menu sara
pan dan makan siangnya terbatas kepada menu India.  Bagi yang tidak bisa makan masakan India seperti saya, untuk sarapan pagi ada roti yang bisa dimakan dengan selai atau butter.  Dan setiap pagi anda akan selalu menemukan jus semangka dan jus nenas.  Mungkin dua buah tersebut banyak dihasilkan di daerah ini.  Nenasnya kuning dan rasanya manis banget.  Dari hotel ini kita tidak bisa melihat matahari terbit, tetapi kita bisa menyaksikan matahari tenggelam.  Jika kita hendak menyaksikan matahari terbit, atau jika hendak menyelusuri pantai pasir putih, yang salah seorang teman saya bercanda dengan menyamakannya dengan pantai pasir putih adeknya bali, maka kita harus terlebih dahulu berjalan kaki meninggalkan hotel sekitar 15 menit.  Pantai kovalam yang tenang di pagi hari, meskipun menurut saya tidak terlalu bersih tetapi cukup menarik.  Karena ketika pagi kita bisa melihat perahu nelayan yang ditarik ke pinggir pantai, atau melihat beberapa orang turis asing yang melakukan yoga dengan khusuknya di tepi pantai.  Daerah pantai yang saya maksud ketika malam akan ramai.  Daerah ini dipenuhi dengan hotel dan juga restoran dan kafe.  Dan tak jauh dari restoran tersebut kita bisa menemukan toko-toko souvenier.  Dan menurut saya belanja souvenier di Kovalam kerala sangat murah.  Kita bisa mendapatkan syal cantik seharga 300 rupee atau seharga 60 ribu, atau baju longgar dari bahan katun khas India seharga 200-300 rupee.

Di daerah inilah saya bertemu dengan adek Saif Ali Khan.  Well, tentu saja bukan adek saif beneran, hanya saja saya lebih suka menyebutnya demikian. Seperti saya jelaskan diatas India sangat luas, dan orang India yang kita temui di India selatan tidaklah menyerupai Amir khan.  Selama hampir satu minggu saya di kerala, saya selalu menjumpai wajah gagah berkulit hitam manis, tetapi belum pernah bertemu dengan wajah India berkulit putih seperti image umum yang sering ditampilkan di film. Hingga suatu malam, ketika saya mengantar salah seorang teman saya, Lita, berbelanja, saya bertemu dengan wajah yang selama ini saya cari.  Toko tersebut hanya toko kecil, tetapi terlihat mewah dari luar, awalnya kita tidak mau mampir karena berasumsi toko tersebut pasti mahal.

Disana ada dua orang penjaga toko, yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Javeed dan Shahlil.  Javeed adalah si kakak, berusia mendekati 30an dan si adek mungkin berusia sekitar 22 tahun.  Si kakaklah yang sangat ramah menyambut kita.  Dan terlihat kalau dia pengin tahu lebih banyak mengenai kita.  Si adek tidak banyak berbicara, hanya sekali-kali menjawab dan membantu kakaknya dan tersenyum manis ke arah kita.  Adeknya lebih ganteng dari si kakak, dan hal yang saya suka dari Shahlil, dia tidak banyak omong.  Dia terlihat lebih serius dan hal ini justru menambah kesan “cool” .
Diantara teman-teman saya yang ikut perjalanan ini saya adalah satu-satunya yang masih lajang, dan ada satu teman saya akan selalu berusaha menjodohkan saya.  Dan untuk menyenangkan mereka, ditambah sudah satu minggu disini dan belum ada berita yang heboh untuk dikenang, maka sayapun berniat iseng. Dengan ramah saya menyapa Shalil, dan meminta dia untuk melihat ke kamera sambil mengambil foto-nya. Dan saya hanya melakukan hanya sebatas itu, ketika akhirnya saya memutuskan keluar toko dan membiarkan teman-teman saya berbelanja di dalam.  Saya memutuskan duduk di tangga dekat pintu toko. Saya melirik jam ditangan dan waktu sudah menunjukan pukul 9 malam.  Tak lama si Shahlil datang menghampiri saya dan ikut duduk tak jauh dari saya.  Dengan ramah dia menyapa.  Dia bertanya kenapa saya tidak didalam lagi menemani teman saya berbelanja.  Saya bilang kalau saya butuh udara segar, dan kalau saya sudah cukup banyak berbelanja. Saya juga bilang kalau saya hanya senang jalan-jalan tetapi tidak senang berbelanja.  Ketika sedang asyik mengobrol dengan Shahlil, dua orang teman saya yang lain lewat, dan saya langsung mempromosikan kalau mereka musti berbelanja di Toko ini karena harganya sangat murah.  Saya berkata benar, saya sudah memasuki beberapa toko dan tidak pernah menemukan toko semurah ini.  Teman saya masuk kedalam, dan beberapa menit kemudian dia sudah kalap dan belanja banyak barang.  Kakak si Shahil terlihat sibuk, dia mengeluarkan barang yang satu dan kembali memasukannya, ketika dia melayani teman saya yang satu, yang satu lagi sudah berteriak. Dan Shahil, bukannya membantu kakaknya dia malah memilih duduk di dekat saya sambil melanjutkan pembicaraan kita yang tadi terputus.  Dia bilang dia berasal dari Kashmir, dia juga kuliah di Kashmir jurusan Commerce, dan dia disini membantu kakak-nya.  Kakaknya sudah lama berjualan disini, dan dia sendiri sedang liburan jadi dia datang membantu kakaknya.  Aku bertanya dia hendak bekerja dimana nanti setelah lulus, dia bilang kalau dia mau mengembangkan bisnis kakaknya. Shahlil sendiri bisa berbahasa Hindi, dan dia juga berbahasa Inggris lancar.  Dia mananyakan saya sudah berapa lama di India, dan saya hendak bepergian kemana saja?  Saya menjelaskan kalau saya sudah lima hari disini dan ini hari terakhir saya di kerala, saya akan melanjutkan perjalanan ke House boat dan setelah itu ke Kanyakumari.  Dia menyarankan jika suatu saat saya balik lagi ke India maka saya harus mampir ke Kashmir, dia bilang kalau Kashmir sangat Indah.

Tergerak hendak meyakinkan saya, dia segera pergi menghampiri kakaknya, berbicara sebentar, mendekati sebuah meja, membuka laci, dan mengambil sesuatu.  Ternyata dia mengambil sejumlah foto.  Iya, dia mengambil foto-foto Kashmir.  Dia kembali duduk disebelah saya, kali ini lebih dekat.  Dan dengan antusias dia memperlihatkan foto-foto tersebut.  Ini adalah universitas dimana saya sekolah, kemudian dia memperlihatkan foto gunung bersalju, foto sungai dengan bapak tua mendayung sampan, trus foto-foto berikutnya.  Semua foto yang dia perlihatkan sangat indah.  Dia tidak berbohong.  Dan saya berjanji di dalam hati jika suatu saat saya balik lagi ke India maka saya harus mengunjungi Taj Mahal dan tentu saja Kashmir.  Si Kakak yang masih sibuk melayani teman saya yang semakin menggila, dengan tangan yang penuh tumpukan baju menghampiri saya, dia meminta kartu nama saya. Saya sedikit surprise, saya mengobrol  dengan adeknya kok malah dia yang meminta kartu nama saya.  Shahil malah tidak memintanya.  Saya bilang kalau kartu nama saya ketinggalan di Hotel.  Ketika dia hendak bicara lagi, salah seorang teman saya memanggil.  Teman saya menanyak an apakah dia bisa menerima kartu kredit, karena cash-nya dia sudah habis. Javeed bilang kalau teman saya bisa bayar dengan kartu kredit.

Tetapi teman saya yang lain menyarankan kalau mending dia kembali lagi saja besok ke tok o ini.  Bisa jadi dia hanya impulsif dan menghabiskan uang untuk barang yang seharusnya dia tidak beli.  Dia setuju dan akhirnya kita semua menyudahi belanja disana.  Shahlil menjabat erat tangan saya, dan dia menanyakan apakah besok saya akan balik lagi? saya bilang kalau besok saya harus melanjutkan perjalanan dan jam 5 pagi saya sudah harus meninggalkan hotel.  Saya tidak mau meninggalkan kontak apapun, ini hanya keisengan.  Di sepanjang jalan menuju hotel, teman saya tidak hentinya menggoda dan bilang saya akan menyesal kalau saya tidak meninggalkan alamat.  Saya hanya tersenyum.  Saya tidak melihat sesuatu yang spesial dari pembicaraan tadi.  Bagi saya itu hanya pembicaraan biasa.  Meskipun saya harus mengakui kalau wajah Shahlil terlalu manis untuk dilupakan.  Saya berpisah dengan teman saya untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.  Ketika bangun pagi saya sudah melupakan Shahlil. Dan saya melupakan dia untuk waktu seterusnya.  Sampai setelah 10 hari, saya kembali bertemu dengan dua teman saya tersebut di Indonesia.  Ternyata teman saya yang kalap berbelanja, benaran balik lagi ke toko Javeed untuk melanjutkan belanjanya.  Dan Shahlil menanyakan saya kepada teman saya tersebut.  “Where is your friend?, dia sudah pergi jawab teman saya.  Teman saya bilang kalau Shahlil terlihat kecewa.  Saya tidak yakin kalau Shahlil  kecewa, kata terakhir pasti hanya karangan mereka yang sengaja menggoda saya.  Meskipun demikian, cerita kakak beradik sangat sayang jika tidak ditulis.
Jika anda ke Kovalam, jangan lupa untuk mampir ke toko mereka ya.  Anda akan langsung mengenalinya.  Toko tersebut sangat unik.  Anda akan menjumpai tulisan “Nama saya Javed, dan adek saya Shahlil, kita berdua menjual barang dengan harga murah dan kualitas terbaik.  Kita membeli langsung dari pengrajinnya.  Dan dijamin anda tidak kecewa.  Jika anda menemukan barang yang lebih murah dari harga yang kami tawarkan anda bisa mengembalikannya lagi kepada kami” kurang lebih begitulah yang tertulis, meski saya tidak bisa mengingat persisnya.

One thought on “Bertemu Adik Saif Ali Khan di India? (Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s