A World Filled with Love

Sudah lama saya ingin menonton film Shah Rukh Khan “My Name is Khan” dan tadi akhirnya kesampaian juga. Film tersebut menurut saya sangat bagus.

Film tersebut mendukung pluralisme. Saya suka dengan apa yang diajarkan oleh ibu Shah Rukh Khan (SRK) di dalam film tersebut. Bahwa di dunia ini hanya ada dua jenis manusia, yaitu manusia yang berbuat baik dan manusia yang berbuat jahat. Jadi apapun agamanya, warna kulit, kewarganegaraan, selalu ada dua tipe ini. Sangatlah salah kalau kita membenci atau men-diskriminasikan orang berdasarkan agama atau berdasarkan perbedaan apapun.

Saya sendiri beragama Islam. Saya juga dibesarkan di dalam lingkungan yang mayoritas Islam. Saya ingat sewaktu kecil, teman-teman saya bilang kalau jangan berteman dengan si “A” karena dia bukan beragama Islam.  Waktu itu saya masih kecil, dan saya tidak mengerti kenapa didalam berteman harus melihat agama dan saya tidak bisa menerimanya. Saya masih ingat ketika kelas 4 SD saya punya teman sekelas baru, namanya Ilyas. Ilyas tinggal dengan tantenya, dan dia adalah turunan nias beragama non-muslim. Ilyas adalah anak yang baik, pintar dan lugu. Karena Ilyas berkulit putih, dan juga bermata sipit dan bukan beragama Islam ditambah juga karena dia baik, dia menjadi bulan-bulanan anak nakal di sekolah. Menurut saya dia sering diperlakukan tidak adil. Dan saya entah kenapa sering membantu dan membelanya.

Sedari dulu saya tergerak untuk memberantas apapun bentuk diskriminasi di dunia ini. Hal ini tentunya tidak gampang, tetapi hal tersebut juga tidak mungkin jika kita memulainya dari sesuatu yang kecil. Saya mulai dengan mencintai orang lain tanpa syarat. Terlepas apapun warna kulitnya, agama, suku, dan lain sebagainya.

Mencintai seseorang apa adanya, apakah hal tersebut mungkin? seringnya tidak mungkin. Saya punya teman yang akhirnya berpisah dengan kekasih tercinta karena mereka berbeda agama sehingga tidak bisa menikah. Mereka saling mencintai tetapi karena agama akhirnya hidup tersiksa. Teman saya sampai sekarang belum menikah. Kata dia, dia masih mencintai pria tersebut dan berat bagi dia untuk membuka hati lagi terhadap pria lain. Ketika saya tanya kenapa dia tidak menikahi pria itu? dia bilang kalau ibunya mengancam untuk bunuh diri atau ibunya tidak akan pernah menganggap lagi dia sebagai anak. Dia berada dalam pilihan yang sulit. Dan sering orang terpaksa memilih keluarga. Dia juga meyakini ajaran kalau seorang anak harus mengikuti kata orang tua, karna kalau tidak berarti dia adalah anak durhaka, dan tidak akan masuk surga. Atau ketakutan lain yang dia miliki, yaitu jika pernikahan tidak direstui oleh orang tuanya, pernikahan tersebut biasanya tidak akan harmonis. Hal itu juga yang ditakutkan oleh teman saya jika pernikahan gagal, dia harus pergi kemana? karena orang tua dan keluarganya tidak mau mengakui dia lagi.

Si orang tua bilang, kalau pacar teman saya tersebut benar mencintai anaknya maka pacar anaknya tersebut seharusnya pindah keyakinan. Sekarang coba dibalik, coba kalau seandainya orang tua pacar teman saya tersebut menuntut hal yang sama. Tetapi pacar teman saya menawarkan agar mereka menikah dan tetap mempertahankan keyakinan masing-masing. Teman saya sebenarnya setuju denga ide ini, namun karena pertimbangan keluarga dan orang tua tadi akhirnya mereka memutuskan berpisah. Teman saya tersebut cantik dan pintar, tetapihatinya kosong. Dia juga pernah bilang kalau dia tidak bahagia. Kadang dia membayangkan jika saja dulu dia berani mengambil resiko, mungkin segala sesuatunya akan berbeda. Orang tuanya juga menyadari kalau anaknya tidak bahagia, tetapi lagi-lagi yang disalahkan adalah dia, kenapa masih belum melupakan mantan pacarnya tersebut.

Balik lagi ke Film SRK tadi, jika saja SRK tidak nekat dan memilih Kajol dari pada keluarganya-nya mungkin kita tidak akan terhibur dengan Film ini. SRK mengambil resiko untuk kehilangan saudara kandungnya, dari pada disuruh untuk meninggalkan pujaan hatinya, Kajol. Dan dia bahagia dengan pilihannya tersebut. Sering orang tidak berani mengambil resiko dalam hidup, dan akhirnya dia tidak berbahagia. Sampai saat ini saya masih belum mengerti kenapa kawin berbeda agama tidak diperbolehkan. Padahal anak dari hasil perkawinan beda agama biasanya akan lebih bijak dan terbuka dalam menyikapi perbedaan. dan bukankah hal tersebut yang dibutuhkan untuk terwujudnya perdamaian?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s