Don’t count every hour in the day, make every hour in the day count

Saya berfikir bany ak hal dalam hidup, sehingga hidup menjadi sangat kompleks dan sangat ribet. Kadang saya ingin untuk tidak berfikir, dan menjalankan segala sesuatunya tanpa beban tanpa harus takut dengan segala konsekuensi dari apa yang kita lakukan atau mengkhawatirkan anggapan orang mengenai diri kita. Saya juga berharap bisa lebih sabar dan memahami ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti halnya dunia ideal menurut saya. Saya berharap melakukan hal kecil dan bermanfaat bagi orang lain. Mungkinkah ada hal kecil tetapi bermanfaat untuk orang lain?

Ternyata jawabannya adalah ada. Yaitu dengan menulis. Setiap orang mempunyai cerita yang berbeda dalam hidup. Dan kadang cerita mereka unik, menghibur, atau ada kalanya cerita tersebut begitu sedih dan kita ngga pernah tahu bahwa ada orang yang hidup dengan situasi sulit seperti itu.

Saya pernah menonton film, dan salah satu aktor pada film tersebut bilang, kalau kata ayahnya “dia bisa berkeliling dunia dengan hanya duduk tanpa beranjak dari kursinya” dan si anak bertanya “bagaimana hal tersebut bisa terjadi?” dan si bapak menjawab “dengan membaca buku”. Hal itu merupakan percakapan ringan, namun begitu membuat saya tersentak. Kenapa hal tersebut tidak pernah terfikir oleh saya sebelumnya. Kenapa dulu, beberapa tahun dalam hidup saya hanya terbuang percuma tanpa saya harus tahu melakuka apa. Dan sekarang saya sudah punya jawabannya. Saya mulai membaca buku. Saat ini saya sedang membaca buku “six months in sudan” atau kalau berdasarkan cetakan Indonesia-nya judul buku tersebut berubah menjadi “A Doctor without borders”. Buku tersebut bercerita mengenai kehidupan seorang dokter yang bekerja di Sudan. Di suatu daerah kecil, Abiey. Hidup dengan segala keterbatasan dan juga fasilitas minimal. Keamanan yang tidak begitu terjamin, dan juga situasi dimana kematian sudah menjadi seperti hal yang biasa. Buku tersebut ditulis berdasarkan kisah nyata. Buku tersebut mungkin lebih tepatnya adalah catatan harian si Dokter tersebut. Saya berfikir dokter tersebut pasti sangat sibuk, dan fakta dia masih menyempatkan diri menulis mengenai pengalamannya adalah sesuatu yang luar biasa. Jika saja dia tidak menulis buku tersebut mungkin saya tidak akan pernah mengetahui jika ada kehidupan yang sangat mengenaskan seperti yang dia tulis terjadi di dunia ini.

Saya dulu pernah bekerja dengan orang dengan berkebangsaan Sudan. Dia orang yang sangat keras dan disiplin. Dia berbahasa arab dan juga inggris. Ketika bertemu dengan saya, dia bercerita kalau ini adalah pengalamannya yang pertama bekerja di luar negri, di Indonesia. Dan dia berkata kalau situasinya sangat berbeda dengan di Sudan. Dia bilang kalau bekerja di Indonesia sangat enak. Tidak mengerikan seperti di Sudan, dengan tembakan bahkan bom yang terjadi dimana-mana. Dia juga berceita kalau dia telah kehilangan saudara laki-lakinya yang meninggal di Sudan. Dan dia ingat ketika dia dengan seluruh tenaga yang dia miliki mengangkat mayat saudaranya tersebut, dengan darah yang berkucuran dimana-mana, dan membawanya ke rumah sakit terdekat dengan berjalan kaki. Tetapi sayang dia tidak bisa menyelamatkan saudaranya tersebut. Dia juga bercerita kalau di dalam hidupnya, dia sudah kehilangan banyak saudara dan orang yang dia kasihi. Baik dikarenakan oleh konflik, sakit, dan penyebab lainnya. Dengan pengalaman hidupnya dia melihat hidup dengan perspektif yang berbeda. Sewaktu dia bercerita, saya tidak bisa memahami sepenuhnya perih dan juga duka yang dia rasakan. Karena saya tidak pernah tahu kalau situasi hidup di Sudan begitu berat. Saya tahu kalau di Sudan ada konflik, dan juga banyak pengungsi dari siaran berita seperti CNN atau Al-jazeera. Tetapi pemikiran saya baru terbuka, dan saya seakan dapat merasakannya ketika saya membaca buku James Maskalyk tersebut.

Ketika saya kuliah, saya juga terinspirasi oleh tulisan seorang ibu yang tinggal di Amerika. Ibu tersebut memilih untuk ikut dengan suaminya ke amerika, membesarkan 3 orang anaknya dan menjadi istri dan ibu rumah tangga. Dia berhasil menyekolahkan anaknya dengan baik, dan kalau tidak salah 2 dari tiga anaknya sudah menjadi professor di amerika dengan usia yang relatif muda. Anak tersebut juga memiliki profesi yang bergengsi di Amerika. Si Ibu mungkin bukan orang tua sukses yang pertama. Saya yakin banyak lagi orang tua sukses lainnya, dengan pengalaman lintas benua dan tidak hanya sukses di Indonesia. Tetapi hal yang membedakan ibu ini dengan orang Indonesia sukses lainnya adalah karena dia menulis pengalamannya dan membaginya dengan orang lain, termasuk dengan saya, yang pada waktu itu masih berstatus sebagai mahasiswi. Dia juga mengelola sebuah organisasi yang memberikan beasiswa kepada anak muda Indonesia. Anak muda yang terseleksi tersebut diharapkan dapat menjadi pemimpin bangsa. Ibu itu kerap memberikan motivasi melalui cerita sederhana dari kehidupannya sehari-hari, dan bagi saya cerita-cerita tersebut sangat inspiring.

Saya selalu ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Dan sampai saat ini saya masih belum merasa kalau saya sudah memberikan manfaat bagi kehidupan orang banyak. Tetapi meniru apa yang dilakukan oleh James Maskalyk dan Si Ibu bijak yang saya ceritakan, maka sayapun mulai untuk menulis.

Jika tulisan saya kacau, dengan struktur yang berantakan dan juga cerita yang berbolak-balik mohon dimaklumi. Tetapi somehow, saya berharap cerita-cerita yang saya tulis di blog ini dapat berguna bagi orang lain. Dan yang pasti, hal ini berguna bagi saya sendiri.

Saya baru menyadari kalau waktu tersebut adalah Pedang. Dan segala sesuatu yang kita kerjakan akan berlalu dan akan menjadi kenangan. Kita bisa mengenangnya dengan baik, jika pengalaman tersebut ditulis. Sudah banyak tahun berlalu dalam hidup saya. Ada susah dan senang, dan banyak dari cerita tersebut sudah saya lupakan. Saya masih bisa mengingat, tetapi tidak detilnya. Ketika semua itu saya coba tulis kembali, semuanya menjadi mengabur dan menghilang. Segala sesuatu berlalu begitu cepat, dan sangat disayangkan jika seluruh kejadian dalam hidup ini hanya berlalu, tanpa pernah diceritakan kembali. Saya sering naik taksi, dan saya tidak bisa mengingat dengan baik nomornya, ataupun wajah dari supir taksi yang pernah mengantar dan menjemput saya. Saya juga sering terbang, dan saya juga tidak bisa mengingat dengan baik pramugari dan juga pramugara yang saya temui di pesawat. Saya juga tidak pernah tahu jika saya menaiki pesawat yang sama atau pesawat yang berbeda. Saya sering melihat awan, dan awan tersebut biasanya selalu memiliki bentuk yang unik dan menarik. Dan jika saya disuruh menceritakan bentuk awan tersebut, saya tidak bisa menceritakannya. Saya juga tidak bisa mengingat wajah orang yang duduk disebelah saya, karna hampir tidak pernah ada interaksi.  Dengan alasan klise, yaitu kesibukan yang tinggi, orang jarang mengingat hal yang detail. Dan saya yakin hal tersebut tidak terjadi dengan saya saja. Atau sering juga saya tertidur di taksi, karena saya harus pergi tugas ke luar kota jam 4 pagi dari rumah menuju bandara. Dan biasanya saya akan melanjutkan kembali tidur saya di pesawat. Banyak hal yang saya lewatkan. Dan sejak saya menulis, saya mulai memperhatikan hal-hal yang kecil. Seperti, 2 hari yang lalu, saya terbang dari Jakarta ke Medan dengan penerbangan jam 6 pagi. Dan jam 5.40 saya bisa melihat matahari terbit, dengan warna merah dan bentuk bundar bersinar, dan seakan menggoda dia muncul dibalik pesawat-pesawat yang berbaris di bandara. Hal ini mungkin pernah terjadi sebelumnya, karena saya sering terbang pagi, tetapi mungkin saya sudah tidur lagi, atau saya akan sibuk membaca di pesawat sehingga saya tidak bisa menyaksikan pemandangan yang luar biasa tersebut. Saya berharap bisa memenuhi komitmen untuk diri saya sendiri, yaitu menulis dengan teratur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s