Indonesia and Job Seekers

Saya memiliki sepupu laki-laki, Dedi, yang masih sedang mencari kerja. Ini adalah bulan yang ke 10 dia berjuang, namun pencarian panjang tersebut masih belum membuahkan hasil.

Dedi sudah pernah bekerja di Bali sebelumnya. Disalahsatu perusahaan ternama di Indonesia. Dedi adalah lulusan PT di jakarta dengan jurusan psikologi dan IPK diatas 3. Dia ganteng, tinggi, berkulit putih, pintar berkomunikasi, pintar, dan juga sangat persuasif. hal-hal yang saya sebutkan diatas biasanya menjadi dipertimbangkan oleh perusahaan di Indonesia. Namun ternyata seluruh aset yang dia miliki tidak cukup untuk mengantarkan dia ke sebuah pekerjaan yang dia impikan.

Saya juga bingung dengan hal ini. Kok bisa? Dedi menjelaskan bahwa proses seleksi yang dia jalani ini biasanya berlangsung dengan lancar. Dia sering lulus ke seleksi tahap 2, tetapi setelah wawancara dia tidak kepanggil lagi. 4 bulan yang lalu saya bertemu dengan dia, kita berdua mendiskusikan hal ini. Dia bercerita menganai tahapan yang sudah dia jalani, dan saya menjadi pendengar. Setelah itu kita mendiskusikan bersama, apa yang sudah bagus dari proses tersebut, dan hal apa yang masih perlu diperbaiki.

Menurut cerita Dedi, dia juga sering diperlakukan tidak adil oleh perusahaan atau pewancara kerja.  Banyak dari pewancara yang berlaku dingin, sombong, dan kadang suka memandang rendah pencari kerja.  Mereka juga se-enaknya dengan waktu dan membiarkan si pencari pekerjaan menunggu tanpa tahu sampai kapan mereka akan menunggu untuk diwawancara. Hal ini sangat mungkin terjadi karena pada fakta-nya banyak orang yang mencari kerja sehingga pihak pemberi kerja kadang suka seenaknya.

Beberapa hal yang menjadi evaluasi kita bersama adalah: 1) nego salary, dedi merasa kalau dia memiliki banyak kekuatan sehingga dia layak untuk memperoleh gaji dengan nominal tertentu berdasarkan standar dia. standar ini tidak terlalu muluk menurut saya. gaji yang dia minta adalah diatas 10% standar gaji fresh graduate dalam negri di Indonesia. Hal ini dikarenakan standar gaji fresh graduate lulusan dalam negri (secara umum) terlalu kecil. kisaran dari informasi yang saya peroleh dari dedi, gaji yang ditawarkan berkisar 1,5 juta sampai dengan 2 juta per bulan. Angka tersebut masih dikurangi pajak. Saya percaya ada beberapa perusahaan besar apalagi perusahaan asing yang bisa menawarkan gaji lebih tinggi bagi fresh graduate. Saya ingat 5 tahun yang lalu, teman saya mendapatkan gaji 4 juta per bulan sebagai seorang MT di perusahaan otomotif terkenal di Indonesia.

Setelah lelah berjuang, Dedi, tidak lagi mematok gaji sesuai dengan angka yang dia harapkan. Dia sudah mulai bosan di rumah. Dan apapun yang membuat dia sibuk akan dia lakukan. Dan itupun masih belum membuahkan hasil. Hal yang sama juga terjadi dengan kekasih-nya. Kekasihnya adalah lulusan 1 dari 5 perguruan tinggi terbesar di Indonesia, dengan IPK 3,5. Saya sudah pernah berjumpa dengan kekasihnya. Dia sosok yang menarik dan juga cerdas. Dan dia mengalami hal yang sama dengan Dedi. Tetapi untung bagi dia, pencahariannya sudah berhenti satu bulan yang lalu ketika dia dinyatakan lulus di salah satu kantor pemerintah di Jakarta.

Saya juga memiliki teman perempuan, yang tinggal di Bogor, yang semenjak lulus sampai sekarang masih belum memperoleh kerjaan formal. Hal ini juga aneh menurut saya. Mungkin dia ngga terlalu pinter secara akademik, tetapi dia memiliki pribadi yang menarik. Dia orang yang baik, ramah, dan pekerja keras. Karena sudah merasa bosan di rumah, dia akhirnya membantu dosen atau masiswa S3 di kampus dengan upah “seadanya”

Selain dua contoh diatas, saya juga memiliki contoh lain dari teman-teman yang belum sukses.  Dan saya juga memiliki banyak contoh teman-teman yang sudah sukses dalam memperoleh kerjaan yang mereka impikan. Hal ini pernah saya bicarakan dengan salah seorang teman baik saya asal surabaya, dan menurut dia memperoleh kerjaan juga tidak terlepas dari faktor “keberuntungan”.  Sedangkan menurut teman saya yang lain asal Aceh, untuk bisa memperoleh pekerjaan maka harus kerja keras, dan prestasi harus terus ditingkatkan. Indonesia setiap tahunnya meluluskan ribuan siswa/i pintar, dan mereka tentunya akan mencari kerja setelah lulus. Jika kualifikasinya biasa dan sama dengan ribuan orang pencari kerja tersebut maka akan susah menang-nya. Hal ini persis seperti piramida. Jika kita dibawah maka persaingan akan banyak, tetapi jika kita masuk kategori yang diatas, maka persaingan akan semakin mengecil.

Kalau menurut saya banyak faktor yang menentukan sukses tidaknya seseorang dalam melamar pekerjaan. Tetapi satu yang perlu diingat adalah jangan sampai kehilangan semangat. Selagi punya kemauan pasti akan ada jalan. Dan sambil menunggu, ada baiknya untuk melengkapi diri dengan keahlian lain, apakah itu mengambil kursus bahasa, atau mengambil kursus komputer untuk aplikasi software tertentu. Dan jangan lupa pula untuk menjaga komunikasi dengan teman-teman, baik yang sudah bekerja ataupun yang belum bekerja. Setiap kerja keras pasti akan membuahkan hasil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s