Reconcile with the Past

Setiap orang memiliki kisah hidup yang berbeda. Ada orang yang beruntung dan ada juga yang tidak. Orang yang memiliki masa kecil yang bahagia pada umumnya akan tumbuh menjadi orang yang berbahagia.

Tetapi orang yang memiliki masa kecil yang tidak menyenangkan umumnya akan tetap menjadi orang yang tidak berbahagia. Paling tidak, hal itulah yang terjadi pada diri saya. Bagi saya kebahagian tersebut adalah relatif. Saya tidak bisa mengingat secara persis kapan saya benar-benar bahagia dalam hidup ini. Hidup saya mengalir tanpa nada.

Saya lama terpuruk dalam kesedihan. Dan saya bisa saja berakhir dengan menjadi orang yang tidak berguna, dan orang yang tidak bermanfaat bagi orang lain.

Dari kecil saya merasa tersisih. Saya tidak cantik seperti kakak saya. Saya berkulit hitam legam dan juga gendut. Sedangkan saudara saya yang lain semuanya memenuhi kriteria ganteng dan  cantik seperti yang diagungkan banyak orang. Saya juga tidak brilian seperti kakak saya yang lebih tua 2 tahun dari saya. Dia selalu menjadi juara umum di sekolah. Dia juga aktif dan memiliki banyak bakat. Parahnya, saya satu sekolah dengan dia. Saya selalu dibandingkan dengan kakak saya. Mereka bilang kenapa saya tidak bisa menjadi seperti dia. Dia populer, di taksir banyak orang, dan juga memiliki banyak teman. Hal ini sangat kontradiktif dengan saya. Saya orangnya sensitif, tidak percaya diri, dan tidak bisa bergaul. Hal ini sangat wajar kata saya. Saya tidak memiliki apa yang dimiliki oleh kakak saya. Dia begitu cantik, sedangkan saya? saya selalu menjadi olok-olokan dan juga cemoohan banyak orang. Banyak yang bilang kalau saya anak pungut, atau ada juga yang bilang kalau saya itu anak angkat.

Parahnya lagi, yang mengatakan hal tidak pantas diatas bukan hanya teman sepermainan yang notabene-nya adalah anak-anak yang masih kurang akal. Tetapi hal tersebut juga diucapkan oleh guru, saudara, tante, om, tetangga, dan lain-lain. Padahal mereka itu adalah orang-orang dewasa yang seharusnya memberikan semangat dan menghibur saya, tetapi mereka justru mengatakan sebaliknya. Pada waktu itu saya membenci semua orang. Orang tua saya juga tidak pernah membela saya atau berusaha menenangkan saya. Saya merasa sebagai anak yang terbuang dan tidak berharga. Saya tidak memiliki kepercayaan diri. Self esteem saya sangat rendah, dan nyaris ngga ada mungkin. Saya merasa useless, meaningless, dan desperate. Ketika saya berumur 5 tahun, saya ingat banget bahwa banyak teman perempuan yang tidak mau main dengan saya. Saya dulu tidak mengerti kenapa, tetapi sekarang saya baru sadar, kalau anak-anak pada usia tersebut sangat pemilih dalam berteman. Teman yang bisa menjadi anggota “gang” mereka haruslah  cantik seperti mereka. Dalam hal ini saya tersisih. Hal ini mungkin tidak akan terjadi jika saja aku memiliki kepercayaan diri dan juga self esteem. Saya tidak punya tempat mengadu. Dan ditengah sendirian, anak laki-laki yang merupakan tetangga baru  memperlakukan saya berbeda. Dia sering mengajak saya main. Saya senangnya luar biasa ketika ada orang yang  menggangap saya temannya. Tetapi karena dia laki-laki tentu saja permainan yang dimainkan adalah permainan yang umumnya dilakukanoleh anak laki-laki. Saya diajak main kelereng dan main gundu. Tetapi tak lama kemudian dia mulai masuk sekolah dan sekolahnya jauh dari rumah. Dia berangkat pagi dan baru pulang sore hari. Dan ketika sore, dia sudah tidak boleh lagi main keluar oleh orang tuannya. Dan lagi-lagi saya sendirian.

Kemudian saya menemukan kembali komunitas bermain yang mau menerima saya. Tetapi komunitas ini dikategorikan sebagai “anak-anak nakal” dan dianggap tidak pantas berteman dengan saya oleh ibu saya. Hal ini dikarenakan secara ekonomi mereka tidak mampu, dan mereka juga tidak bersekolah. Dan kesadaran saya untuk membela orang yang lemah terbentuk disini. Saya tidak bisa menerima diskriminasi orang tua saya terhadap teman-teman saya tersebut. Saya sendiri juga merupakan korban diskriminasi, dan saya tidak ingin hal ini terjadi dengan orang lain.

Orang tua saya memiliki alasan, tetapi seharusnya mereka menyampaikan dalam bahasa yang berbeda. Dari mereka saya belajar bermain layang-layang, sepak bola, memancing ikan, dan juga main badminton. Saya mendapat cap anak bandel dari orang tua saya dan juga tetangga di kompleks ditempat saya tinggal. Para orang tua yang merasa dari keluarga mampu dan keluarga berpendidikan melarang anak-anaknya bermain dengan saya. Karena saya dianggap akan memberikan pengaruh yang buruk untuk anaknya. Orang tua saya juga semakin keras terhadap saya. Dan tanpa sadar ibu saya sering membandingkan saya dengan kakak saya. Bagi dia, kakak saya tersebut ibarat permata yang sangat berharga. Dia selalu memperoleh apa yang dia inginkan. Dia selalu memperoleh barang baru. Sementara saya hanya memperoleh barang bekas. Hal ini semakin mengukuhkan kalau saya tidak berarti. Orang yang menerima saya apa adanya di rumah hanya pembantu saya. Dia tidak pernah menganggap saya salah. Dan dia biasanya akan memperingatkan orangtua saya jika mereka memarahi saya secara berlebihan.

Ketika lulus SD, orang tua saya mengirimkan saya sekolah keluar kota. Tujuan mereka hanya satu, memisahkan saya dari teman-teman saya yang tidak “pantas” tersebut. Kepindahan saya tidak dikonsultasikan dengan saya terlebih dahulu. Saya dijebak. Saya tingal dengan nenek saya. Disatu sisi saya mulai merasa berarti karna saya terlepas dari bayang-bayang kakak saya. Dan seiring dengan masa pertumbuhan saya juga mulai menyadari kalau saya tidak selegam seperti yang selama ini yang saya bayangkan. Perlahan dan pasti prestasi sekolah saya juga meningkat. Hanya saja trauma masa kecil saya tidak serta merta hilang. Saya masih merasa tidak percaya diri, dan juga merasa sangat rendah diri. Bayang-bayang masa lalu dimana saya sering dicemooh dan juga ditolak, masih lekat diingatan. Hal ini yang akhirnya menghambat pergaulan saya. Saya tidak percaya diri berteman. Ketika remaja, saya tidak bisa lagi dengan mudah-nya berteman dengan laki-laki. Karena pada masa pubertas orang mulai memperhatikan penampilan dan juga ketertarikan fisik. Saya akhirnya berteman dengan beberapa teman sekelas perempuan. Tetapi lagi-lagi ini tidak mudah. Saya juga mulai naksir cowok ketika SMP. Tetapi biasanya selalu berakhir dengan kekecewaan karena cowok saya taksir tidak pernah balik menaksir. Dan biasanya setelah menunggu cukup lama, ternyata cowok yang saya taksir malah naksir teman saya, atau jadian dengan cewek lain. Saya mengalami beberapa kali patah hati. Dan hal ini lebih memperburuk rasa percaya diri saya.

Ketika lulus saya kembali ke kota asal saya. Dan tanpa bisa saya hindari, saya juga masuk ke sekolah dimana kakak saya juga bersekolah. Dan ternyata ini masa di SMU adalah masa yang lebih parah lagi. Karna ketika saya masuk, dan ketika saya ikut ospek, saya mengetahui kalau kakak saya adalah bintang di sekolah itu. Dia terkenal dengan cantik, gaul, dan prestasinya. Selama saya ospek, pengalaman ketika saya kecil kembali terulang. Saya selalu ditanya kenapa saya berbeda dengan kakak saya. Dan lagi-lagi perbedaan fisiklah yang selalu dibahas. Hanya kali ini saya sedikit berbeda. Secara prestasi akademik saya jauh lebih baik dari pada saya SD dulu. Tetapi hal ini belum cukup ampuh untuk menandingi kakak saya. Karena dia benar-benar jenius. Dia bisa memperoleh hasil ujian matematika dan fisika 9 ketika ujian umum. Dan saya jarang melihat dia belajar. Karena dia lebih suka menghabiskan waktunya menonton acara sepak bola di TV.

To be Continue.  Sorry, tulisan ini belum selesai.  Saya harus ke Bandung sore ini, saya akan menyelesaikannya ketika saya kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s