Buku Trinity Bagus; Highly Recommended

Saya sudah lama mengenal nama Trinity. Blog-nya sudah menjadi pembicaraan banyak orang jauh sebelum bukunya diterbitkan.

Salah satu staf senior di kantor saya dulu memberikan link alamat blog Trinity karena dia tahu kalau saya suka jalan, kalau ngga salah di tahun 2007.

Hanya saja pada waktu itu saya tidak sempat membacanya. Saya membaca sekilas dan setelah itu kembali tenggelam pada kesibukan kerja rutin.

3 tahun kemudian, saya kembali mendengar nama Trinity. Dia ramai dibicarakan, dia sudah mengeluarkan buku yang bersumber dari blog-nya.

Saya ingin membeli buku tersebut, tetapi karena saya mempunyai banyak buku yang belum dibaca maka saya mengurungkan niat untuk membeli buku Trinity.

Hingga sampai pada awal bulan ini, ketika saya memiliki jatah libur selama satu bulan, teman saya menantang saya untuk backpacking sendiri. Padahal 2 tahun yang lalu saya dan dia berjanji akan berpacking ria keliling Indonesia berdua.Saya menerima tantangan tersebut, meskipun saya harus berangkat sendiri.

Teman saya, jeng RA (rambut api), adalah seorang Antropolog. Dan sebagai Antropolog yang sering terkenal dengan “aneh”-nya, di membekali saya tips jitu dan dia juga merancang travel plan untuk saya.

Jika benar saya akan melakukan perjalanan keliling Indonesia selama sebulan sendiri maka saya wajib membaca buku The Naked Traveler.

Ketika menunggu X-trans di blok M yang akan membawa saya ke Bandung hari hari sabtu lalu, saya menyempatkan untuk mampir ke toko buku gramedia di blok M. Dan sumpah, buku Trinity lucu baget. Saya tersenyum-senyum dan bahkan tertawa terbahak-bahak ketika membaca bbuku tersebut. Buku tersebut saya baca di sela jadwal kegiatan saya yang lumayan padat di Bandung, saya membaca di angkot, di bis, dan di ruang tunggu. Saya hanya membutuhkan 2 hari untuk menyelesaikan membaca buku tersebut. Buku tersebut sangat bagus, saya merekomendasikan agar buku tersebut dibeli.

Saya tidak kaget ketika di bukunya Trinity meng-highlight banyak orang Indonesia yang tidak bisa berenang. Meskipun malu mengakuinya, saya adalah termasuk orang Indonesia yang ngga bisa berenang tersebut. Ketika kelas 4 SD saya sempat belajar berenang dengan teman main saya ketika saya berkunjung ke rumah nenek di kampung. Kita berenang di sungai yang airnya sejuk dan jernih banget. Saya sudah sedikit bisa berenang ketika tiba-tiba teman kecil saya tersebut menarik saya jauh masuk kedalam air. Saya kaget, dan berusaha melepaskan pegangan tangannya. Sekuat tenaga saya berusaha naik kembali ke permukaan. Tetapi bukannya melepaskan tangan malah dia lebih kenceng lagi menarik saya jauh ke dalam. Ternyata dia bermaksud mengajarkan saya berenang. Saya begitu pucat dan takut ketika dia menarik saya ke pinggir sungai. Saya kira saya sudah tenggelam. Teman kecil saya tersebut hanya tertawa melihat ketakutan saya. Dan semenjak itu saya tidak pernah mau berenang lagi.

Ketika SMA saya pernah dipaksa oleh guru olahraga saya untuk menyebur ke kolam renang, tetapi saya menolak. Sehingga waktu itu saya harus mengerjakan tugas tambahan, dan nilai oleh raga saya hanya dapat 6. Padahal jika saya mau mengikuti permintaannya dan ikut ujian renang maka saya tentu mendapat nilai yang lebih tinggi. Selain trauma dengan kejadian lalu, pada waktu itu saya juga tidak PD dengan berat badan saya. Saya kelebihan berat badan. Hal ini membuat saya tidak percaya diri untuk ikutan berenang ditengah teman-teman yang ber-body langsing. Sekarang saya sudah tidak takut air lagi. Satu tahun lalu saya sempat belajar berenang di Sabang. Tetapi hanya beberapa kali. Saya ngga pernah latihan lagi. Bisa berenang adalah target saya di tahun ini, dan itu harus tercapai.

Teman saya, RA, tidak begitu suka dengan buku Trinity. Menurut dia buku tersebut terlalu jujur, terkesan rasis, dan kadang mendiskreditkan kelompok tertentu. Tetapi menurut saya, kadang kita juga harus jujur, dan mengungkapkan segala sesuatu apa adanya, dan saya kagum dengan keberanian Trinity. Saya bekerja dilingkungan multikultur, ngga hanya dengan orang yang berbeda etnis dan suku di Indonesia, tetapi juga dengan orang berkebangsaan berbeda Beberapa gambaran yang diberikan oleh Trinity di dalam bukunya, banyak yang pas dan sesuai dengan pengalaman saya. Saya dengan teman-teman kerja yang indonesia sering membahas ini. Dan tentu saja informasi ini hanya beredar di segelintir orang di jaringan saya yang terbatas. Syukurlah Trinity menulis ini di dalam buku-nya. Hal ini sebagai tambahan wawasan bagi siapa saja yang membacanya sehingga jika bertemu dengan orang seperti yang diceritakan tersebut tidak lagi kaget. Tetapi ingat kalau Stereotype tersebut ngga berlaku mutlak. Hal tersebut juga akan tergantung kembali dengan diri orang masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s