Kunjungan yang pertama ke Bali

Di dalam buku The Naked Traveler 2, Trinity bilang kok bisa ya ada orang Indonesia belum pernah ke Bali? (saya lupa bunyi kalimat persisnya dan juga halamannya). Ya tentu bisa, karena biayanya mahal, dan jika punya uangpun masih banyak yang lebih penting yang harus di-prioritaskan. Sewaktu saya masih tinggal di ujung pulau Sumatra, biaya sekali terbang PP ke Bali sama dengan biaya terbang ke PP ke Malaysia 4 kali (bahkan bisa lebih jika dapat pesawat Air Asia yang lebih murah lagi). Sehingga jika saya hendak pergi ke Bali dengan biaya sendiri, harus berfikir sepuluh kali terlebih dahulu.

Pengalaman saya pergi ke Bali pertama kali adalah ketika saya diundang untuk tes seleksi tahap akhir untuk sebuah pekerjaan yang bertempat di Bali. Saya sangat girang pas tahu kalau seluruh pengeluaran saya, tiket pesawat, tiket taksi, makan dan juga penginapan semuanya ditanggung. Bahkan saya juga di beri uang makan malam. Saya ngga tahu mimpi apa, padahal sekitar 3 bulan yang lalu, sebelum saya melamar pekerjaan tersebut saya berencana pergi ke Bali dengan biaya pribadi (tentu saja setelah melalui pertimbangan yang panjang). Pada waktu itu kalau ngga salah saya dapat tiket PP seharga lebih dari 3,5 juta. Harga penginapan dan makan serta ongkos taksi belum termasuk. Ada 3 orang yang mengikuti seleksi akhir untuk pekerjaan yang saya incar. Satu orang laki-laki, dan 2 orang perempuan termasuk saya. Kandidat laki-laki, Ilman, ternyata ditempatkan di hotel yang sama dengan saya. Ilman orangnya ganteng, ramah, baik hati dan tidak sombong.

Setelah mengikuti seleksi ketat selama satu hari penuh, saya dengan ilman jalan-jalan di pantai sanur pada malam harinya. Ini kali pertama saya bertemu dengan dia, tetapi kita langsung cepat akrab. Dan ternyata kita juga punya satu teman yang sama. Ilman bilang kalau saat ini status-nya sedang tidak bekerja, dan dia lagi ngumpulin duit agar bisa menikah dengan kekasihnya. Oppss ternyata dia sudah punya tunangan. Saya jadi bersimpati dengan dia. Malah saya rela jika pekerjaan tersebut dimenangkan oleh dia. Menurut saya, kandidat yang kuat adalah kita berdua. Kandidat ketiga asli Bali, orangnya pintar, tetapi pengalaman dia dengan job des yang diminta masih tidak begitu relevan. Pada saat itu status saya masih bekerja.

Acara jalan-jalan di pantai sanur diawali dengan makan jagung bakar dan minum segelas kopi, dan berselang 1.5 jam kita berakhir di salah satu restoran bali dimana kita makan ikan bakar nikmat. Kita makan dengan lahap, selera makan menjadi bertambah karena diluar gerimis. Suasana menjadi romantis, tetapi sayang, dia sudah bertunangan. Memang benar kata pepatah, orang baik itu cepat lakunya, he he…

Paginya, kita janji bangun pagi untuk melihat sunrise di Sanur. Jam 5.20 dia sudah siap di depan pintu, dan kitapun segera pergi ke pantai yang hanya berjarak sekitar 10 menit dari hotel dengan berjalan kaki.

Pantai tersebut sudah penuh dengan ora ng. Di pinggir pantai ada banyak bis pariwisata. Pada umumnya turis yang datang di pagi itu adalah turis domestik yang masih muda, atau bisa jadi itu adalah rombongan study tour anak-anak sekolah. Setiba dipantai kita segera mencari tempat duduk di pinggir pantai.

Udara pagi itu masih dingin. Kita duduk bersebelahan, dan ilman tidak pernah berhenti bercerita. Dia selalu mempunyai bahan untuk diceritakan. Setelah menunggu setengah jam, matahari yang kita tunggu tidak kunjung terbit. Hal ini mungkin karena mendung, sehingga matahari tertutup oleh awan dan kita tidak bisa menyaksikan bagiamana dia bergerak naik meninggalkan peraduannya. Ketika jam 6 lewat, ternyata gerimis mulai turun.

Kita segera bergegas kembali ke Hotel. Ilman berencana pulang siang kembali ke Jogja, sedangkan saya berencana kembali pulang besoknya. Mumpung gratis, saya harus menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Sayapun merental motor dan pergi ke tanah lot.

Di tanah lot waktu itu siang tidak banyak orang. Berhubung saya lapar, saya segera memesan makanan. Saya memesan garlic bread dan minumnya adalah kelapa muda. Harganya lumayan mahal. Satu kelapa muda harganya 25 ribu dan garlic bread yang hanya berupa 2 lembar roti tawar yang dikasih bawang putih seharga 20 ribu rupiah.

Tetapi dari restoran tersebut saya bisa langsung melihat pura di tanah lot, dan menyaksikan indahnya pemandangan. Dari atas saya bisa melihat banyak turis yang ingin masuk ke dalam pura. Katanya disana ada dua ekor ular. Saya takut ular, sehingga saya memutuskan untuk tidak pergi kesana.

Menurut saya, tidak enak jalan sendiri. Akan lebih enak jika ada teman, minimal satu orang. Ketika saya sedang asyik makan, ada 2 orang pasangan suami istri kulit putih yang meminta lada dan garam dari meja saya. Karena orangnya ramah, jadi saya persilahkan. Si perempuan, ibu cantik berusia sekitar awal 50an, menegur saya, dan bertanya saya dari mana? akhirnya kita jadi ngobrol. Mereka berasal dari jerman, dan sudah satu minggu berada di Bali. Si ibuk dan si bapak sangat menikmati Bali. Bali begitu indah, dan juga damai.

Karena takut tersasar, saya minta izin untuk pulang duluan, dan meneruskan jalan-jalan dengan motor, besoknya pagi-pagi sekali saya sudah harus meninggalkan Bali.

Akhirnya, Ilman mendapatkan pekerjaan itu. Skor hasil tes kita hanya terpaut beberapa poin, nilainya tipis banget. Dan setelah satu tahun, kita bertemu lagi di Bali. Waktu itu saya ada tugas kantor ke Bali. Dan ternyata dia sudah menikah, dan saya diperkenalkan dengan istrinya. Kita makan malam bersama. Saya senang Ilman mendapatkan pekerjaan tersebut. Dan sampai sekarang persahabatan kita masih berlanjut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s