It’s our own life: jangan biarkan orang menentukan jalan hidup kita

Kapan nikah? itulah adalah pertanyaan populer di Indonesia. Saking populernya, sampai-sampai ada iklan rokok yang minjem istilah tersebut. Untungnya iklan itu ngga cuma minjem pertanyaan populer tersebut tetapi juga sekaligus memberikan jawaban ampuh-nya. May? Maybe yes or Maybe no? Banyak orang di Indonesia terbantu sesaat dengan iklan tersebut. Hampir semua teman-teman saya pada waktu itu, termasuk saya sendiri, jika ditanya kapan nikah, maka saya akan menjawab, May? Namun tentunya jawaban tersebut ngga mempan jika pertanyaan tersebut diajukan oleh keluarga ataupun orang terdekat dengan kita. Terutama, jika mereka memasang wajah serius segala, dan meminta bicara empat mata (udah kaya acaranya tukul aja).

Jawabannya saya adalah tidak tahu. Karena saat ini saya tidak memiliki pasangan yang saya yakini untuk berkomitmen lebih jauh. Saya memiliki beberapa teman dekat, kalau dibilang teman, mungkin lebih dari teman, tetapi saya menyukai status yang seperti itu. Saya belum siap dengan komitmen yang serius. Percaya atau tidak, banyak orang karena desakan orang tua, akhirnya memutuskan menikah. Baik menikah dengan pacar atau temannya saat itu (meskipun dia tidak terlalu yakin dengan orang tersebut) atau menikah dengan orang yang dipilih oleh orang tua. Perjodohan di zaman ini? ternyata hal tersebut masih banyak, percaya atau tidak. Atau ada juga orang yang menikah didasarkan pilihan yang ditetapkan oleh seorang ahli agama atau ustadz.

Saya memiliki seorang kenalan yang menikah dengan cara seperti ini. Prosesnya menarik. Si pihak perempuan dan juga pihak laki-laki mengirimkan CV ke ustadz, yang juga dilengkapi dengan cover letter mengenai kriteria istri atau suami yang diinginkan. Mau istri yang seperti apa, dari suku apa, mau yang hobi yang bagaimana, wajah seperti apa, umur berapa, etc. Dan si Ustadz akan berperan sebagai match maker. Dan proses ini biasanya tidak terlalu lama. Jika ada yang dirasakan cocok, dipertemukan dengan ditemani oleh ustadz tersebut, dan setelah itu menikah. Dan biasanya tahun kedua pasangan tersebut sudah memiliki anak. Tak susah bukan?

Iya, tidak susah bagi orang yang meyakini menikah dengan cara yang seperti itu. Bagi saya sendiri, saya tidak percaya dengan pernikahan melalui proses seperti itu. Dan tentunya orang seperti saya, tidak akan terpilih juga didalam seleksi perjodohan tersebut, saya tidak memenuhi kriteria. Seperti, saya menentang jika ada persyaratan yang mengharuskan istri menjadi ibu rumah tangga saja kalau sudah menikah. Kok teganya seseorang merampas kesempatan orang lain untuk mengaktualisasikan diri. Bekerja tidak hanya mengenai materi, tetapi juga mengenai aktualisasi diri. Saya mendengar cerita dari tante saya, kalau ada orang yang dia kenal, menikah dengan cara seperti ini. Dan lelaki yang dipilihkan untuk dia adalah lelaki baik-baik, sholeh, punya pekerjaan, dan berwajah lumayan. Padahal menurut tante saya, wajahnya jauh dari “lumayan”. Jika dibandingkan dengan perempuan tersebut yang sangat cantik, maka laki-laki yang dipilihkan tersebut menjadi tidak sebanding. Tetapi si perempuan setuju (saya tidak benar-benar yakin si perempuan setuju, pasti karena ada campur tangan keluarga), akhirnya mereka menikah. Satu tahun kemudian mereka di karunia anak, dan kemudian di karunia anak lagi. Sejalan dengan itu bisnis suami berkembang menjadi luar biasa sukses. Dia menjadi kaya raya. Dan berlindung di balik agama, dia mengungkapkan keinginananya untuk menikah lagi. Si suami ingin menikahi orang yang lebih muda, dengan alasan kalau si bapak anak gadis tersebut sudah tiada. Dan anak gadis tersebut adalah anak baik yang butuh pertolongan.

Jika si Istri tidak setuju, maka si Istri akan diceraikan. Karena katanya si istri sudang menghalangi dia dari niat berbuat baik. Kebayang dong, si istri sudah punya anak 2 orang, dan si istri tidak bekerja. Si istri tidak bekerja karena ketika hendak menikah dulu dia diminta oleh suami untuk tidak bekerja. Si istri tidak punya pilihan, dan akhirnya memberikan persetujuannya. Akhirnya si laki-laki menikah lagi. Hanya sekitar 5 tahunan, dia ternyata menikah lagi (kok ngga pernah puas sih ini orang). Sekarang dia memiliki 3 istri dan banyak anak (banyak banget, ngga bisa dihitung). Hal ini mungkin belum berakhir, bisa jadi dia akan memutuskan untuk menikah lagi. Bukannya jatahnya ada 4?

Yang menyedihkan dari cerita tante saya tersebut adalah, fakta, kalau ketiga istri ini tinggal di satu kompleks perumahan, dengan rumah yang bersebelah-belahan. Saya tidak bisa membayangkan rasa hancurnya hati wanita-wanita tersebut tinggal dalam lingkungan seperti ini.

Si istri pertama yang merupakan kenalan tante saya, bilang kalau dia sangat frustasi dengan situasi ini. Dia sangat tertekan. Dia yang biasa cantik dan berwajah riang, sekarang sudah berwajah letih dan lelah. Binar dimasa muda dulu semuanya sirna. Dia ingin sekali untuk keluar dari situasi ini, tetapi ngga tahu caranya. Anak-anaknya sekolah dan butuh dana. Lagi-lagi alasan dia tidak bekerja, dan dia juga tidak memiliki ayah dan ibu lagi. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Dia merasa kalau dia tidak punya pilihan kecuali tetap terikat dalam perkawinan yang tidak membahagiakannnya.

Saya juga memiliki teman, Nia, dengan pendidikan tinggi, intelek, dan tinggal di perkotaan. Saya tidak tahu persis alasan dia menikah. Dia orangnya sangat tertutup. Yang pasti dia bilang sampai pada umur tertentu dia masih belum menikah, dan ada seorang laki-laki yang melamar dia, dan tanpa fikir panjang dia mengiyakan. Alasannya, jika tidak dia iyakan, dia takut tidak akan menikah lagi. Dia sudah beberapa kali menjalin hubungan, dan bahkan dia pernah berpacaran dengan seseorang lebih dari 5 tahun dan akhirnya putus. Dan hal tersebut memberikan keyakinan kepada dia, bahwa jika kita pacaran lamapun belum tentu juga akan berakhir dengan pernikahan. Dari diskusi lebih lanjut dengan dia, saya mengetahui bahwa dasar utama dia menikahi pria yang sekarang menjadi suaminya adalah karena faktor usia, dan tekanan dari keluarga dan orang terdekat. Lelaki yang dia pilih jadi suami memiliki pendidikan yang lebih rendah dari dia. Secara ideologi mereka juga berbeda. Si istri adalah orang yang sangat independen, logis, modern, dan tidak fanatik terhadap agama manapun. Si suami adalah orang yang konservatif dan fanatik terhadap agama tertentu. Mereka bertemu ketika teman saya tersebut sedang bertugas di Poso. Nia adalah lulusan psikologi, dan di bekerja di poso untuk trauma healing bagi korban konflik poso. Disitulah mereka bertemu. Suami dia berasal dari sana.

Nia dapat tawaran bekerja ke Jakarta ketika tugas dia di Poso berakhir. Tetapi si suami tidak mau. Dia mau si istri tetap tinggal di Poso, dan bersama-sama mereka akan mencoba pekerjaan apapun untuk menghidupi keluarga. Mereka juga sudah memiliki seorang anak perempuan.

Teman saya memberikan beberapa argumen, bahwa jika mereka pindah ke Jakarta, maka si anak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Orang tua teman saya tersebut tinggal di Jakarta, dia juga bilang kalau anak mereka juga bisa dijaga oleh ibu dia. Apalagi ibu teman saya tersebut tingal sendiri, karena suaminya sudah meninggal. Dia kesepian. Dengan alasan terebut, suami Nia bersedia pindah, tetapi dia hanya setuju untuk waktu yang sebentar.

Pelajaran yang saya ambil dari teman saya adalah, karena tekanan sosial, orang menjadi tergoda untuk mengambil keputusan yang kemudian mereka sesali. Hal ini tidak berarti pula, jika kita menikah dengan pilihan sendiri, pernikahan tersebut akan berjalan lancar tanpa kendala. Hal yang bisa perlu diingat adalah, bahwa jika anda belum menikah itu bukan berarti akhir dari dunia. Bukannya jodoh, hidup dan mati di atur oleh yang diatas? Apapun pilihan yang anda ambil, jangan melakukan hal tersebut karena tekanan orang lain.

Adalah kita yang bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri. Resiko hidup adalah resiko kita. Jikalaupun kita mengikuti keinginan orang lain, resiko tetap akan kita tanggung sendiri. Apapun pilihan yang kita buat, jika itu adalah berdasarkan suara di dalam hati kita, maka meskipun topan badai di depan menghadang, kita akan mampu untuk melewatinya. Hal ini berbeda jika anda menjalani hidup atas kehendak orang lain, karena anda akan mulai menyalahkan segala sesuatu yang ada dilingkungan anda, menyalahkan keadaan, dan bahkan menyalahkan diri sendiri.

One thought on “It’s our own life: jangan biarkan orang menentukan jalan hidup kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s