Kawah Putih- Bandung

Meskipun anda bisa jalan-jalan sendiri, saya akan tetap menyarankan jika memungkinkan untuk pergi berdua. Terutama jika anda perempuan. Fakta bahwa masyarakat Indonesia umumnya masih sangat patriakal tidak bisa dikesampingkan. Berdasarkan pengalaman saya, terutama jika saya berjalan-jalan ke daerah pedesaan/pedalaman di Indonesia seorang diri, saya selalu mendapati tatapan bingung. Wajah tersebut menyiratkan kenapa si mba ini jalan-jalan ke desa terpencil seperti ini seorang diri. Ketika saya menginap di penginapan, saya sering ditanya ke daerah tersebut dalam rangka apa? dan jika saya menjawab saya pergi jalan-jalan, maka pertanyaan yang biasanya keluar selanjutnya adalah kok jalan-jalan sendiri? hal yang sama juga saya alami ketika saya naik ojek. Tukang ojek biasanya akan menanyakan mau kemana? kok sendiri aja? trus setelah itu, biasanya dia akan memberikan tarif yang lumayan tinggi. Tukang ojek tersebut, di bantu oleh tukang ojek lainnya, akan menambahkan cerita jika tarif ojek di daerah tersebut memang segitu. Dan kendaraan umum tidak ada. Trus biasanya mereka akan mengkerubuti, bisa satu atau bahkan lima orang.

Mereka akan mengorek informasi lainnya dari saya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk memastikan seberapa jauh saya mengenal daerah tersebut, apakah saya sudah pesan penginapan atau belum, jika saya mau pergi ke daerah wisata apakah saya sudah memiliki kendaraan atau belum. Biasanya mereka akan terus mendesak saya hingga memberikan jawaban. Dengan alasan mereka peduli, dan mereka bisa memberikan saya informasi yang saya butuhkan.

Tetapi percayalah, jangan pernah menjawab pertanyaan tersebut. Saran saya menjauhlah dari mereka. Kadang kala hal ini agak sulit, terutama ketika mereka sudah langsung mengkerubuti kita sewaktu turun dari bis. Wajah asing kita akan langsung mereka kenali, kalau kita bukan berasal dari daerah tersebut. Hal ini mengukuhkan asumsi mereka bahwa kita adalah turis. Pengalaman saya ketika pergi ke Ciwidey-Bandung, saya terus di kejar oleh tukang ojek, bahkan ketika saya bilang kalau saya akan dijemput oleh teman, mereka tetap tidak mau meninggalkan saya. Bahkan ketika saya sedang membaca catatan saya, salah seorang dari tukang ojek tersebut langsung mengambilnya. Saya  menegur. Saya bilang kalau dia tidak boleh melihat apalagi sampai mengambil catatan saya tanpa seizin saya. Karena saya berhenti di terminal umum, maka saya hanya bisa melihat kerumanan orang, bis, angkot, dan tentu saja ojek. Bingung bagaimana cara lepas dari tukang ojek tersebut, akhirnya mata saya melihat sebuah toilet umum. Saya segera berlari ke dalam. Ketika saya keluar, tukang ojek tersebut sudah pergi. Saya bertanya ke tukang jaga toilet, jikalau saya hendak ke kawah putih, saya harus naik angkot warna apa? si tukang toilet bilang kalau angkot kesana sangat jarang. Dia menyarankan agar saya naik ojek saja.

Syukurnya saya sudah survei duluan. Berdasarkan informasi yang saya dapat, cukup banyak angkot yang menuju kesana. Hal yang saya notice adalah ternyata kekeluargaan dan juga persahabatan di terminal sangat kuat. Si tukang jaga toilet, melihat saya dikerubuti oleh tukang ojek dan berkemungkinan salah satu diantara mereka adalah teman si penjaga toilet tersebut. Atau bisa juga mereka akan mendapatkan komisi dari si tukang ojek tersebut jika saya jadi memakai jasa mereka.

Sayapun berlalu dari tempat tersebut. Saya segera berjalan menuju tempat pemberhentian angkot. Disitu, saya kembali menanyakan jika hendak ke Kawah Putih saya harus naik angkot yang mana? untunglah orang yang saya tanya tersebut tidak mengarahkan saya untuk naik ojek lagi. Dia mengantarkan saya ke salah satu angkot kuning jurusan Situ patenggang. Saya melihat supir angkot memberikan sejumlah recehan orang yg mengantarkan saya tersebut. Hanya ada saya dengan salah seorang bapak tua di angkot tersebut. Si bapak menegur saya dengan ramah, dan menanyakan tujuan saya. Saya bilang kalau saya akan pergi ke kawah putih. Dia kembali bertanya, kenapa saya pergi sendiri? bukannya menjawab saya bertanya balik kepada bapak tersebut “memang kenapa kalau sendiri?” si bapak tidak membahasnya lagi. Saya jadi merasa tidak enak. Si bapak tua tersebut baik dan sopan, dan seharusnya saya tidak berkata demikian.

Untuk menebus rasa bersalah saya, saya bertanya kepada bapak tersebut “bapak mau kemana?” si bapak kembali bersemangat dan menjawab “saya hendak mengambil gaji”. Si bapak menjelaskan kalau dia sudah akan pensiun dari perusahaan kebun teh tempat dia bekerja. Si bapak tersebut turun duluan, dan dia memberikan saran agar saya naik ojek saja keatas naik ke kawah, karena tidak ada angkot yang menuju kesana. Pemandangan yang saya lihat sepanjang jalan luar biasa indahnya. Awan dan langit biru, dan sawah-sawah yang bertingkat-tingkat mirip sebuah lukisan.

Setelah berkendara kurang lebih 15 menit, saya membaca plang Kawah Putih dan saya meminta agar angkotnya berhenti. Si supir angkot bukannya berhenti, dia terus melaju, dia bilang kenapa saya tidak ke situ patenggang saja. Dia menambahkan kalau kawah putih sudah ditutup selama dua minggu. Saya kesal dan dengan nada tinggi saya ngotot minta berhenti. Jika dia tahu kalau kawah tersebut tutup seharusnya dia memberitahukan itu kepada saya dari awal. Kenapa dia memberitahukan tersebut ketika saya sudah tiba di lokasi? Saya membayar ongkos sebesar 5000, dan si supir minta Rp 7000. saya bilang kalau berdasarkan info yang saya dapat ongkos angkot-nya hanya Rp. 5000, dia tetap ngotot untuk dibayar 7000, dan saya karena sudah malas berdebat, sayapun bayar Rp 7.000. Saya tidak percaya begitu saja informasi dari supir angkot tersebut, saya terus masuk menuju loket jual tiket. Ternyata kawah tersebut buka. Si penjual tiket membenarkan kalau kawasan kawah tersebut sudah tutup selama 2 minggu. hari ini adalah hari pertama dia buka. Setelah membayar ongkos masuk sebesar 12.000 sayapun segera menghampiri tukang ojek. Kali ini saya tidak bernegosiasi harga. Saya hanya minta diantar ke lokasi kawah, dan ketika sampai dikawah, saya minta tunggu.

Kawahnya luar biasa indah. Saya serasa berada di dunia lain. Kawah yang hijau dan langit biru diatasnya. Pepohonan yang ada disekitar kawah juga terlihat cantik dengan warna seperti warna pohon kayu manis. Karena hari ini hari senin, wisatawan yang berkunjung tidak banyak, jadi pemandangan indah tersebut serasa milik saya seorang. Ketika saya hendak meninggalkan tempat tersebut, serombongan anak ABG datang. Mereka berjumlah 5 orang. Setelah menhabiskan waktu cukup lama disana, saya segera memanggil tukang ojek untuk turun. Saya membayar ojek sebesar 20.000 mungkin saya bisa menawar lebih murah, tetapi saya tidak tega. Jika saya naik ojek dari terminal ciwidey maka saya akan bayar sebesar 50 ribu pulang-pergi. Tetapi karena saya naik angkot, dan hanya naik ojek pas di lokasi, total uang yang saya keluarkan adalah sebesar Rp 32.000. Ternyata bedanya ngga terlalu signifikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s