Samsara- Zara Zettira ZR

Jika sebelumnya dalam perjalanan saya ke Bandung saya membaca buku The Naked Traveller-nya Trinity, maka kali ini dalam perjalanan saya dari Jakarta ke Sumatra Barat saya membaca buku fiksi karangan Zara Zettira ZR yang judulnya Samsara. Awalnya buku tersebut akan saya baca dalam perjalanan saya ke Surabaya dengan menggunakan kapal laut dari Padang. Tetapi karena kemarin saya tiba di bandara Soekarno Hatta kepagian, maka saya akhirnya tergoda untuk membaca buku tersebut sambil ngopi di kafe Oh la la.

Saya sudah kenal Zara Zettira semenjak saya duduk di kelas 2 sekolah menengah pertama. Pada usia tersebut saya berlangganan majalah Anita. Majalah Anita berisi kumpulan cerpen. Dan cerpen karya Zarra selalu menjadi favorit saya. Ketika beranjak SMA, saya tidak lagi membaca majalah Anita. Kalau tidak salah majalah Anita sudah tidak lagi terbit. Saya tidak mengerti kenapa.  Saya yakin banyak juga yang menyukai majalah Anita sama halnya seperti saya. Karena saya tidak bisa menemukan majalah Anita, saya mulai berlangganan majalah Aneka. Namun menginjak tahun kedua, karena kesibukan saya kursus ini dan itu, saya tidak lagi menjadi pelanggan majalah.

Bertahun-tahun sudah berlalu, hingga 2 bulan yang lalu, saya mengobrol dengan salah seorang teman saya yang baru saja mengeluarkan buku. Buku dia diterbitkan oleh pustaka gramedia. Kita berdiskusi mengenai penjualan. Kapan sebuah buku bisa dikatakan sebagai best seller? menurut teman saya tersebut tidak gampang bagi sebuah buku menjadi best seller di Indonesia. Terutama jika isi dari buku tersebut terbilang “berat” hal ini berbeda dengan Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Laskar pelangi adalah salah satu contoh buku best seller. Demikian halnya the Naked Traveller. Teman saya tersebut bilang, bahkan penulis besar seperti Zarra Zettira belum jaminan bukunya menjadi best seller. Diskusi tersebut berlangsung disebuah kafe di sore hari sepulang kerja, dikarenakan kegemaran saya yang suka mengopi, saya selalu mempengaruhi teman-teman  untuk ketemuan di warung kopi.

Teman saya, RA, menyarankan agar saya membeli buku untuk persiapan adventure saya selama satu bulan ini. Dia memberikan beberapa judul buku baru dan meminta saya untuk mencarinya di Gramedia. Dia bilang, buku bisa membunuh kebosanan saya selama diperjalanan nanti. Terutama jika saya jadi naik kapal laut atau kereta api seperti yang dia sarankan. Satu hari menjelang keberangkatan saya ke Sumatra Barat  (saya akan start dari sini), saya menyempatkan diri mampir ke toko buku Gramedia. Sekaligus janjian dengan salah seorang sahabat baik saya, toni, yang sedang mengikuti pelatihan lintas budaya di Jakarta. Teman saya tersebut akan di berangkatkan ke Australia dalam waktu dekat ini. Saya memborong banyak buku, termasuk buku Samsara karangan Zarra.  Toni mengetahui rencana perjalanan saya, sehingga dia tidak heran melihat buku-buku yang saya beli. Dia malah berbaik hati membantu saya membawakan buku tersebut. Setelah dari toko buku, saya dengan toni makan di Rice Bowl. Sambil menunggu pesanan kita datang, diapun membuka kantong plastik yang berisi buku-buku dan segera meneliti judul dari buku-buku yang saya beli.

“Samsara? artinya apa? tanya Toni. Saya juga ngga tahu ton. Saya beli buku tersebut karena penulisnya adalah Zarra Zettira, dan saya menceritakan sedikit apa yang saya tahu mengenai zarra. Trus dia bilang bukunya sepertinya asyik, sayang dia tidak punya waktu untuk baca buku, belakangan ini jadwalnya padat banget, dan dia punya banyak tugas. Saya pun segera mengambil alih buku Samsara dari tangan Toni, dan membaca resensi di belakang novel tersebut. Iya, sepertinya menarik…

Itulah alasan saya membaca buku Zarra terlebih dahulu diantara tumpukan buku yang sudah saya beli. Bahkan ketika dipesawat, saya tidak sempat mengintip majalah garuda edisi April ini. Saya juga tidak peduli dengan dua orang bapak-bapak yang duduk di samping saya, di kursi D dan E, karena saya sibuk dan khusuk membaca buku Zarra. Saya hanya berhenti sebentar ketika makan. Si bapak di sebelah saya masih terus mengobrol, suara mereka kekencengan dan hal ini tentu saja  mengganggu. Saya agak heran ketika mereka berbicara dalam bahasa Indonesia. Dua-duanya memiliki logat padang yang kental. Kenapa mereka tidak berbahasa padang saja? kejadian ini sangat berbeda dengan apa yang di tulis Zarra di dalam bukunya mengenai bagaimana masyarakat jawa susah untuk menanggalkan bahasanya.  Saya ngga heran, untuk beberapa kelompok masyarakat di Sumatra Barat, berbahasa Indonesia melambangkan status pendidikan yang lebih tinggi dan strata ekonomi yang lebih baik. Sambil meneguk kopi panas, saya melirik dua orang bapak tersebut. Mereka memakai baju rapi, berkemungkinan besar mereka adalah pejabat, jadi wajar jika mereka berbahasa Indonesia.

Balik lagi ke buku Samsara. Buku tersebut bagus. Sama seperti halnya buku Trinity, saya juga merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Saya menemukan buku tersebut disaat yang tepat. Adventure saya selama satu bulan tidaklah murni demi alasan untuk bersenang-senang. Saya pergi ke tempat-tempat tersebut tidak lain adalah untuk mencari cerita dan juga mencari jawaban atas banyak pertanyaan di kepala saya. Cerita lain dari kehidupan mainstream. Kehidupan dengan sudut pandang yang berbeda. Kehidupan yang jauh dengan kemapanan yang diidamkan oleh banyak orang. Sama memiliki kesamaan dengan tokoh yang ada di buku ini. Jika Asia pergi ke Amerika, maka saya akan bergi berkeliling Indonesia. Daerah prioritas saya adalah daerah yang belum pernah saya kunjungi, yaitu daerah timur Indonesia

Entah kenapa setelah selesai membaca buku ini, saya teringat dengan serial film “LOST”, everything happens for a reason. Di Novel samsara ini, saya juga menemukan kalimat tersebut. Bahwa segala sesuatu yang terjadi, ada maksud dan hikmahnya. Saya dan teman saya sangat menyukai serial film Lost. Saya sendiri menggambarkan, tokoh yang tepat untuk menggambarkan karakter saya adalah Jack, sedangkan teman saya tersebut menggambarkan diri dia sebagai sawyer.  Meskipun kita jack and sawyer tetapi kita sama-sama bermimpi untuk memiliki body seperti tokoh kate🙂

Jack tertekan dengan ayahnya yang keras dan juga demanding. Jack sangat sensitif, dan selalu muncul menjadi tokoh baik. Dia mengambil initiative dan menjadi leader dalam grup tersebut. Tak segan dia mengalah dan mempertaruhkan hidupnya demi orang lain. Sawyer adalah orang yang cuek. Dia bertindak semaunya. Teman saya tersebut bilang, jack dan sawyer harus berteman. Saya, biar bisa menjadi sedikit lebih cuek, sedangkan teman saya tersebut berharap agar bisa lebih sensitif terhadap orang disekitarnya. Menurut saya, somehow, Samsara terasa seperti Lost versi Indonesia. Saya masih belum bisa menjelaskan mengenai kesamaannya.

Samsara adalah karya yang jenius. Saya yakin banyak orang di zaman sekarang, khususnya generasi muda, memiliki pertanyaan yang sama dengan Asia. Banyak kegelisahan, banyak kegundahan, tetapi sedikit keberanian dalam mencari jawaban. Hal ini berbeda dengan tokoh Asia yang berani.

Berbicara mengenai kepasrahan, juga hal yang menarik di dalam buku ini. Hal yang saya pahami, kepasrahan tersebut muncul dari keyakinan, dan keyakinan muncul setelah proses pencaharian.

2 thoughts on “Samsara- Zara Zettira ZR

  1. trimakasih sudah meluangkan waktu membaca karya saya. Zara tidak ada tanpa pembaca seperrti kamu. Sharing dengan pambaca adalah kepuasan sejati dr saya sbg penulis. Terharu membaca review kamu. Samsara. Hidup adalah perjalanan yang sama bagi semua orang. dari titik kelahiran berakhir dititik kematian demikian berulang ulang. mengapa ada pertanyaan dlm tiap manusia yg sperti “membebanui’ dan membuat penasarab (obsesi). pertanyaan yg datang dr kehidupan sebelumnya, yg belum juga terjawab dalam pengulangan hidup yg diberikan Nya sbagai kesempatan (lagi) bagi kita tuk menuntaskan pencarian jawaan atas pertanyaan tertentu .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s