Life full of options?

Benarkah hidup itu selalu memiliki pilihan. Bagaimana jika seseorang tidak bisa memilih dalam hidupnya? atau ketika dia memiliki pilihan tetapi konsekuensi dari pilihan tersebut begitu menakutkan sehingga akhirnya mereka memilih untuk menggunakan pilihan tersebut. Di dalam beberapa film action mandarin yang pernah saya tonton, sering sesorang yang menjadi saksi mata dalam satu kasus pembunuhan diancam kalau dia atau keluarganya akan dibunuh jika dia bersaksi di peradilan. Orang tersebut memiliki pilihan untuk mengungkapkan kebenaran di persidangan dan mengadili pelaku dari pembunuhan tersebut. Namun disatu sisi dia juga takut dengan pilihan yang dia buat. Bagaimanapun dia ingin untuk mengungkapkan kebenaran dan menegakkan keadilan tetapi dia takut kalau keluarganya dibunuh. Dalam hal ini apakah kita masih bilang jika orang di dalam perumpamaan ini memiliki pilihan?

Atau conton lain, saya memiliki seorang sahabat laki-laki, Joni, yang memiliki orientasi seksual menyukai sesama jenis (Gay). Pada umumnya masyarakat kita akan bilang kalau Joni punya pilihan. Joni bisa bertobat dan minta ampunan kepada tuhan dan kembali ke jalan yang benar. Joni bisa menikah dan dia akan belajar mencintai istrinya sehingga orientasi seksualnya bisa kembali “normal”. Tetapi apakah memang hidup selalu berjalan berdasarkan kondisi “ideal” yang diyakini banyak orang? Saya sudah mengenal sahabat saya dalam waktu yang cukup lama. Sewaktu saya pertama berkenalan dengan dia, saya tidak langsung mengetahui kalau dia itu Gay. Joni orangnya ganteng; cara berjalan dan berbicaranya tidak ada beda dengan bannyak teman laki-laki saya yang lain. Dia memiliki karir yang sukses, orangnya pengertian, ramah, dan pintar. Banyak cewek yang naksir Joni. Jika saja Joni hetero, maka tentu dia akan menikmati situasi ini. Dia bisa memilih cewek manapun. Cewek yang naksir dia juga cantik-cantik dan pintar. Tetapi situasinya berbeda. Dia bisa berteman dengan cewek tersebut, tetapi dia tidak bisa mencintai cewek tersebut. Dia mungkin bisa memberikan nafkah batin tetapi tidak nafkah lahir (dalam artian luas). Joni bilang kalau dia terlahir sudah Gay. Hal ini berbeda dengan pemahaman banyak orang kalau orientasi seksual tersebut merupakan pengaruh dari pergaulan yang hedonis (modern). Ketika mimpi basah pertama kali yang menandakan kalau seorang laki-laki sudah memasuki usia dewasa, didalam mimpi Joni yang hadir adalah laki-laki bukan perempuan. Apakah dalam situasi tersebut Joni memilih untuk menghadirkan seorang laki-laki dalam mimpinya?

Selama bertahun-tahun dia melawan perasaan tersebut, dan meyakini klau orientasi seksualnya adalah sebuah penyakit. Gay adalah dosa besar dalam agama yang dia anut. Masyarakat dimana dia tinggal dan dilahirkan tidak akan memberikan ruang bagi seorang gay untuk “hidup”. Masyarakat Indonesia, yang mayoritas beragama islam sebahagian besar mengutuk homoseksual, dan bahkan didalam beberapa diskusi di online atau di media cetak banyak orang yang mengutuk gay. Beberapa mengeluarkan pernyatana provokatif kalau gay boleh dibunuh jika dia tidak mau berubah. Baru-baru ini kita juga mungkin mendengar berita di banyak media cetak dan online yang menolak diadakannya konferensi ILGA di Surabaya.

Balik lagi membahas diskusi mengenai pilihan. Setelah pergulatan jiwa yang panjang, Joni menerima kalau dia gay. Jikalau dia menikahi perempuan, tidak akan menyelesaikan masalah. Dia sama sekali tidak tertarik secara seksual terhadap perempuan. Dan dia tidak ingin menyakit perempuan tersebut. Joni pernah bercerita kepada saya, kalau banyak diantara beberapa teman gay-nya yang akhirnya memutuskan untuk menikah dengan perempuan pilihan orangtua-nya. Mereka tidak tahan dengan tekanan keluarga. Dan mereka juga tidak memiliki keberanian untuk mengakui kalau mereka gay. Mereka bisa diusir dan pecat dari status “anak”. Akhirnya mereka menikah, dan mereka memiliki anak. Orang menganggap kalau dia sudah “sembuh” karena dia sudah memiliki keluarga kecil. Tetapi bagaimana mereka bisa sembuh jika mereka tidak sakit.

Homoseksual bukanlah penyakit kejiwaan. Kalau tidak salah WHO sudah lama mengeluarkan pernyataan ini. Fungsi tubuh laki-laki gay, tidak ada bedanya dengan laki-laki hetero. Dia masih memiliki sperma yang bisa membuahi. Tetapi ketika mereka berhubungan dengan istri mereka rasanya sama dengan hetero yang berhubungan dengan sesama jenis. Dan banyak dari mereka yang akhirnya balik lagi mencari pasangan gay meskipun mereka sudah menikah. Menurut Joni, gay yang menikah telah merampas hak “bahagia” si perempuan yang dia nikahi. Gay mungkin selamat dari tekanan keluarganya, tetapi keselamatan dia telah menimbulkan bencana orang lain, yaitu bagi perempuan yang dia nikahi. Saya kagum dengan keberanian Joni untuk mengakui kalau dia Gay. Dia orang yang beriman dan kalau tuhan telah menciptakan dia sebagai gay maka dengan jiwa besar akan dia terima.

Setiap pilihan memiliki konsekuensi. Asalkan kita sadar dengan pilihan tersebut, dan yakin dengan keputusan yang dibuat, maka jangan pernah ragu. Tidak ada kebenaran mutlak di dunia ini. Setiap orang akan meyakini kalau mereka adalah yang paling benar. Tetapi satu hal yang harus ingat adalah, kebebasan dalam memilih jangan sampai merusak, menyakiti, dan merugikan orang lain.

Bagi pelaku bom bunuh diri, yang nyata telah merampas hak hidup orang lain menganggap apa yang mereka lakukan adalah benar. Tetapi yang mereka lakukan adalah salah dan terkutuk. Mereka berjuang untuk sesuatu yang mereka percayai. Mereka berjuang atas nama agama. Tetapi apakah mereka pernah memikirkan konsekuensi dari tindakan mereka? bagaimana nasib dari anak-anak, istri, suami, atau keluarga dari korban yang sudah mereka bunuh tersebut? apakah mereka bisa menggantikan rasa sakit kehilangan orang yang dicintai? dan apakah mereka memikirkan kalau mungkin saja orang yang telah mereka bunuh tersebut adalah orang-orang yang berkontribusi besar di dalam masyarakat. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang berjuang untuk masyarakat miskin. Orang-orang yang berjuang untuk terciptanya perdamaian diatas dunia ini. Apakah pelaku bom bunuh diri tersebut juga menyadari kalau akibat kelakuan mereka, nama Islam menjadi tercoreng. Mereka telah membuat pilihannya, pilihan yang mereka anggap benar, tetapi pilihan yang telah menimbulkan duka dan tragedi bagi orang banyak. Siapa mereka yang menganggap kalau mereka lebih baik dari orang lain.

Dunia yang damai hanya akan tercipta jika orang menghargai pilihan orang lain. Tolerir terhadap orang lain apapun agama-nya atau bahkan terhadap orang yang tidak beragama sekalipun. Saya memiliki kenalan orang Indonesia, yang berusia sekitar 50 tahun. Dia perempuan yang cukup terkenal di Indonesia. Dia mengaku kalau agamanya adalah “kebaikan”. Pada awalnya saya sempat bingung, kok bisa? trus saya menanyakan maksudnya. Dia bilang kalau dia dulu pernah meyakini satu dari enam agama yang diakui di Indonesia. Dan dia juga bergaul dengan banyak teman-teman yang memeluk agama lain. Adalah proses pencaharian yang panjang sehingga dia meyakini apa yang dia yakini sekarang. Dia percaya dengan tuhan, dan dia juga percaya dengan agama. Tetapi hal yang tidak dia percayai adalah fanatisme yang berlebihan terhadap satu agama. Dia tidak hafal banyak dalil atau ayat. Dia tidak berceramah mengenai cara bagaimana berbuat baik. Tetapi seluruh yang dia lakukan sudah menjelaskan hal tersebut. Tindakannya adalah bukti nyata dari apa yang dia yakini. Tujuan hidupnya hanya berbuat baik, tujuan yang sangat mulia. Tujuan yang mulai terlupakan di zaman sekarang.

One thought on “Life full of options?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s