Menjelang keberangkatan dengan KA ke Surabaya

Kemarin malam, tgl 11 April 2010, saya janjian dengan toni untuk mengambil tiket. kita janjian di pasar festival, kuningan, Jakarta. Setelah membayar sebesar 290.000 ke Toni, sayapun memperoleh tiket kereta ke Surabaya. kereta tersebut akan berangkat senin pagi, jam 9.30. Malam itu saya menginap di rumah kakak saya di pancoran. dia agak cemas dengan ide saya untuk bepergian sendirian selama beberapa minggu kedepan. saya memberikan beberapa nomor telfon teman-teman yang akan saya kunjungi di perjalanan dan memberikan gambaran mengenai rencana perjalanan saya. Akhirnya dia menyetujui kepergian saya. Dia memberikan tips dan trik mengenai bagaimana cara menjaga diri. Jika saya dibunuh trus mati mungkin ngga masalah (kata kakak saya). Tetapi bagaimana jika saya diperkosa, disiksa, dan lebih parah lagi punya anak atau terkena penyakit menular?

Awalnya saya memandang apa yang diungkapkan oleh kakak saya berlebih-lebihan. Tetapi setelah saya fikir ulang dan saya resapi, kakak saya benar! Kakak saya bercerita kalau dia dulu sering menonton acara buser atau sergap, acara yang mengulas berita kejahatan di indonesia. Dari berita yang dia tonton, dia melihat bahwa di daerah pedesaan atau daerah pedalaman kejahatan sering terjadi. Hal ini disebabkan oleh himpitan ekonomi dan karena rendahnya pendidikan sehingga kejahatan di daerah pedalaman menjadi tinggi. Lokasi yang sepi dimana rumah yang satu dengan rumah yang lain berjauhan juga menjadi faktor pendukung terjadinya kejahatan. Orang merasa aman untuk melakukan kejahatan karena tidak ada yang melihat.

Saya pernah ikutan bela diri selama 4 tahun tetapi itu dulu. Sudah 5 tahun saya tidak lagi berlatih beladiri. Kakak saya menyarankan agar saya membawa pisau kecil. Jika ada hal yang buruk terjadi sedikit banyaknya saya bisa menakuti lawan. Saya setuju, “sedia payung sebelum hujan”. Lebih baik mencegah dari pada memperbaiki. Kakak saya tidak suka jalan-jalan/ berpetualang seperti saya. Tetapi saya kagum dengan nasihat yang dia berikan. Itulah beda menjadi laki-laki dan perempuan. Perempuan lebih beresiko terhadap kejahatan dari pada laki-laki.

Saya mengobrol sampai malam hari denagan kakak saya, sampai jam 1 malam. Sudah lama kita tidak mengobrol panjang seperti ini. Sejak dia mempunyai anak dia menjadi super sibuk. Hal ini juga dikarenakan anak dan suaminya tinggal diluar kota dan mereka hidup terpisah. Mereka berkomunikasi lewat telfon. Dan setiap tiga minggu kakak saya terbang menjenguk anak dan suaminya. Kakak saya bekerja di salah satu perusahaan BUMN. Dari dulu bekerja di BUMN sudah menjadi mimpinya. Dia berharap suatu hari nanti bisa pindah ke lokasi dimana suaminya bekerja, sehingga mereka bisa berkumpul sekeluarga lagi. Saya berharap harapan dia dipermudah.

Pagi-pagi, tgl 12 April, jam 7 pagi, saya meninggalkan rumah kakak saya untk menuju ke stasiun Gambir. Saya akan bertolak ke Surabaya. Jalanan menuju stasiun tidak semacet yang saya bayangkan. Jalanan terbilang lancar. Saya hanya membayar ongkos taksi sebesar 20.000. Jika macet, mungkin harga yang saya bayar akan lebih mahal. Perjalanan saya ke Surabaya akan saya tempuh dengan kereta api. Kata toni waktu yang dibutuhkan untuk sampai di tujuan adalah sekitar 12 jam. Toni sudah beberapa kali naik kereta ke Surabaya. Toni memiliki ketakutan naik pesawat. Maka semaksimal mungkin dia akan menghindari naik pesawat. Meskipun ongkos pesawat tersebut akan diganti di kantor tempat dia bekerja. Saya juga memiliki 2 orang teman lagi yang takut naik pesawat. Satu teman saya, Mince, bela-belain naik bis ke Bali untk menghadiri meeting karena dia takut naik pesawat. Tetapi kasus Mince cukup lucu, karena dia hanya takut naik pesawat penerbangan domestik. Dia tidak takut naik pesawat jika bepergian ke luar negri. Satu lagi, teman saya Uki, dia juga takut naik pesawat. Tetapi dia lebih mirip dengan toni. Jika terpaksa, dia masih bisa naik pesawat, tidak seperti mince yang benar-benar ngga bisa naik pesawat domestik.

Awalnya saya berencana ke Surabaya naik kapal laut, tetapi setelah berdiskusi lebih lanjut dengan teman-teman, mereka menyarankan agar saya naik kereta api saja. Karena dalam kondisi hujan seperti saat ini, naik kapal laut memiliki resiko tinggi. Saya masih sayang dengan nyawa maka saya setuju untuk naik kereta saja. Toni, teman sudah beberapa kali naik kereta dari jakarta ke surabaya makanya dia berani bilang kalau saya pasti akan menikmati perjalanan ini, it’s a life changing experience, katanya. Disepanjang jalan kita bisa melihat sawah, rumah-rumah penduduk dan juga pohon-pohon hijau lainnya.

Saya tiba di stasiun 2 jam sebelum keberangkatan. Menurut saya ini lebih baik dibandingkan menghabiskan waktu di taksi. Toni memberitahu kalau ada coffee shop yang nyaman disana. Sayapun mencari warung kopi tersebut. Tempatnya benar-benar terlihat nyaman. Ada sofa merah yang terlihat empuk dan nyaman untuk membaca. Saya segera masuk kedalam dan memesan secangkir coffee latte. Harga kopi tersebut adalah 22 ribu rupiah termasuk pajak. Tempat duduknya seempuk yang saya bayangkan. Saya segera mengeluarkan laptop dan internet flash saya. Saya memiliki IM2 yang ketika saya coba di beberapa tempat tidak pernah bisa. Saya tidak teralu berharap kalau saya bisa konek dengan Internet. Saya menyambungkan internet flash im2 saya dengan laptop. Dan diluar dugaan, internet tersebut terhubung dengan kecepatan tinggi. 2 jam saya habiskan dengan browsing, cek email, dan chatting dengan teman saya berkebangsaan turkey yang saat ini sedang studi di Amerika. Saya juga chatting dengan Toni, meskipun malam sebelumnya kita bertemu dan sudah mengobrol banyak. Mengobrol dengan Toni memang selalu menyenangkan. Dia seorang pendengar yang baik, lucu dan juga bijak.

Ternyata kereta saya terlambat 1.5 jam. Berdasarkan pengumuman yang saya dengar, ada sedikit kerusakan dan keteretanya harus di cek dulu. Saya tidak terlalu kesal dengan keterlambatan tersebut, saya sudah mengantipasi situasi seperti ini dengan membeli banyak buku. Saya mengeluarkan buku saya “Menyusuri Lorong-Lorong Dunia jilid 2” dan mulai membaca. Seorang bapak-bapak bertanya kepada saya mengenai jalur kereta, dan ternyata kita satu kereta meskipun jurusan berbeda. Bapak tersebut orang yang menyenangkan dan memiliki wawasan luas. Akhirnya kita mengobrol akrab. Namanya suradi, dan dia sudah pensiun. Dulu dia bekerja di instansi pemerintah di Jakarta. Dia bertanya saya ke surabaya dalam rangka apa? Saya jawab kalau saya mau jalan-jalan. Dan saya menceritakan mengenai travel plan saya. Dia menjadi sangat tertarik dan tanpa saya minta dia menceritakan pengalamannya sewaktu masih bertugas dulu. Dia sudah mengunjungi beberapa temapat di Indonesia. Yang menarik dari cerita bapak tersebut adalah bagaimana dia bisa menjelaskan dengan baik keadaan suatu kota pada saat 30 tahun yang lalu dengan keadaan kota tersebut di saat ini. Bapak orang yang open minded, berwajah kebapakan, dan juga sangat ramah.

Ketika saya mengobrol dengan bapak tersebut saya melihat seorang sibuk dengan sepatunya. Sepertinya dia berusaha melepaskan sepatunya tetapi tidak bisa. Sepatu tersebut mungkin terlalu sempit sehingga sukar unuk dilepas. Sekuat tenaga dia berjuang untuk melepaskan sepatunya dan akhirnya terlepas juga. Dia agak sedikit terpental ke arah si bapak ketika dia menarik sepatu tersebut. Ada hal yang menarik dengan si mba ini. Saya awalnya ragu ini “mas” atau “mba”. Si mba mengenakan atasan kemeja kotak-kotak yang dikeluarkan dipadukan dengan bawahan celana panjang hitam. Rambutnya dipotong pendek, membawa satu tas pinggang dan satu map plastik. Map palstik tersebut transparan. Sehingga semua orang bebas mengintip masuk menembus map tersebut, dan melihat isinya. Disitu ada brosur yang bergambar orang hutan, buku tabungan BCA, dan beberapa dokumen lainnya. Si mba minta maaf kepada pak Suradi, karena dia hampir saya mengenai bapak tersebut. Pak Suradi bilang tidak masalah, dan akhirnya si mba tersebut terlibat pembicaraan panjang dengan pak Suradi. Ternyata mereka berasal dari daerah yang sama. Mereka berasal dari Semarang. Si mba tersebut sudah pernah berkeliling hampir semua provinsi di Indonesia. Bahkan dia juga sudah mengunjungi banyak negara di dunia. Saya melirik penampilannya. Mba eni tampil kucel seadanya. Melihat keadaan dia seperti itu, saya jadi teringat saya sendiri. Entah kenapa saya juga senang berpakaian kucel dan santai. Tadi pagi saya juga berniat tampil “seadanya”, tetapi disarankan untuk ganti baju oleh kakak saya. Saya tidak mengikuti saran kakak saya, sehingga saya terlihat lebih rapi dan bersih.

Saya sering berfikir kok bisa-bisanya orang melihat orang dari tampilan luarnnya saja, tetapi tanpa saya sadari, saya baru melakukan hal yang sama pagi ini. Pak Suradi memperkenalkan saya dengan si mba tersebut. Namanya mba eny. Si mba tersebut bisa menjelaskan dengan rinci tempat-tempatt yang pernah dia kunjungi. Informasi yang dia sampaikan begitu detail. Beberapa dari tempat yang dia sebutkan sudah pernah saya datangi. Jadi saya benar-benar percaya kalau dia benar sudah pernah kesana.

Ketika di tanya oleh si bapak apa urusan dia ke Jakarta, dia bilang dia baru saja selesai mengurus visa. Dalam bulan ini dia akan berangkat ke Swiss. Saya bertukaran email dengannya. Saya masih ingin mengobrol dengan mba Eny, tetapi kereta kita keburu datang. Kereta tersebut terlambat 1.5 jam, tetapi karena ada si bapak dan juga mba Eny saya sama sekali lupa kalau saya sedang menunggu kereta. Si bapak masuk ke gerbong1, saya ke gerbong 4, dan mba Eny ke gerbong 5. Kitapun terpisah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s