Russel Wong in Vanishing Son

Saya dulu pernah terinspirasi dengan serial televisi yang diputar di RCTI. Kalau tidak salah, serial televisi yang dibintangi oleh Russel Wong ini diputar jam 10 malam.

Russel Wong didalam film ini adalah seorang pelarian incaran polisi. Dia lari dari China ke Amerika setelah terlibat dalam demonstrasi mahasiswa menentang pemerintah, dan dituduh atas pembunuhan yang tidak dia lakukan. Selama dalam pelariannya Russel Wong akan membantu orang dengan keahlian beladiri dan bakat musik yang dimilikinya.

Saya sangat suka dengan Russel Wong, dia begitu gagah. Tetapi terlepas dari ketampanan Russel Wong dan keahliannya dalam beladiri, saya mengagumi alur cerita dari film itu sendiri. Saya terinspirasi dengan ide bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain, berbuat baik, dan membantu yang lemah. Saya suka dengan ide pengembaraan tersebut. Saya dulu berharap bisa ikut dengan Russel Wong dalam pengembaraannya. Tetapi hal ini tentu saja tidak mungkin. Di dalam film action, biasanya cewek yang dipasangkan dengan aktor laga adalah cewek cantik yang feminin. Saya tentu tidak akan pernah terpilih meskipun saya casting ribuan kali. Saya tidak cantik dan saya juga tidak gemulai.

Terinspirasi dari film tersebut saya ikut olah raga beladiri. Tidak banyak anggota cewek pada klub beladiri yang saya ikuti. Mungkin karena latihannya terlalu keras. Meski tidak bisa berdekatan dengan Russel Wong, saya bertemu dengan kembaran Russel Wong. Teman laki-laki saya yang ikut klub beladiri rata-rata berpenampilan gagah dan jantan, tak beda dengan Russel Wong. Coba bayangkan, saya bisa menatap mereka beraksi dengan tendangan dan juga pukulan seperti yang diperagakan Russel Wong, Van Damme dan Jet Li.

Saya jatuh cinta dengan orang-orang yang bisa beladiri. Saya sempat berkhayal untuk bisa jadian dengan salah satu pelatih beladiri saya. Tetapi tentu saja itu hanya impian, karena tak beda dengan film yang saya tonton, pelatih beladiri saya juga memiliki pacar cantik, ayu, dan berkulit putih.

Meskipun saya tidak mendapatkan Russel Wong atau pelatih beladiri yang mendampingi saya, keinginan mengembara tidak pernah luntur. Impian saya terbesar adalah suatu saat bisa bekerja di Afrika.

Kenapa Afrika? karena ketika saya duduk di sekolah menengah atas saya tergugah dengan berita bencana kelaparan yang melanda Afrika. Saya menyaksikan bagaimana banyak orang yang mati kelaparan, atau bayi-bayi yang seharusnya tumbuh menjadi manusia yang gagah dan jenius malah harus menderita Marasmus dan penyakit kurang gizi lainnya. Mereka kehilangan masa Golden Age. Mereka akan tumbuh dewasa tetapi mereka tidak akan pernah menjadi manusia yang sama.

Seiring saya beranjak dewasa dan belajar ilmu pertanian, ekonomi pedalaman, ketahanan pangan dan juga gizi, saya sadar kalau ternyata kelaparan tersebut tidak hanya ada di Afrika. Kelaparan juga banyak di Indonesia. Banyak daerah Indonesia bagian timur ditandai dengan warna merah yang artinya daerah tersebut rawan pangan dan banyak anak-anak yang menderita kurang gizi disana. Daerah yang kering ternyata tidak hanya di Afrika, ternyata di Indonesiapun ada.

Umur saya sekarang 26 tahun dan semenjak lulus kuliah saya sudah berkelana kebanyak daerah pedalaman di Indonesia. Percaya atau tidak bahwa kemiskinan yang terbesar ditemukan di daerah pedesaan atau daerah pedalaman. Dulu ketika SMA, saya bermimpi menjadi Russel Wong, dan sekarang saya memperolehnya (dalam bentuk yang berbeda). Saya tidak perlu menjadi ahli beladiri seperti Russel Wong dan memerangi ketidakadilan dengan tendangan dan pukulan. Saya bisa menolong orang dalam bentuk yang lain. Saya bisa berbagi ilmu dengan penduduk desa yang saya jumpai. Mereka tidak sepenuhnya belajar dari saya, karena saya juga belajar dari mereka.

Saya mengembara dari satu desa ke desa yang lain. Dari satu daerah miskin ke daerah miskin lainnya. Saya melakukan sesuatu, sesuatu yang kecil, sesuatu yang bisa saya berikan. Saya tidak tahu bagaiman hal yang saya lakukan bisa memperbaiki nasib hidup hidup mereka secara permanen.

Saya akan pindah lagi, jika daerah tersebut tidak lagi memerlukan saya. Saya terus berkelana, sama dengan Russel wong di dalam Vanishing Son.

Saya berharap, suatu saat nanti, saya bisa mengembara sampai ke benua lain; Afrika. Saya sudah mendengar banyak hal mengenai Afrika, membaca buku-buku mengenai Afrika, dan juga memiliki beberapa kenalan yang sedang bekerja di Afrika. Mereka mengerjakan apa yang sudah menjadi mimpi saya. Saya belajar dari mereka. Mendengarkan cerita mereka. Dan saya berjanji kepada diri saya sendiri, kalau suatu saat saya akan kesana.

Jika suatu saat saya sampai di Afrika, saya tidak akan menghentikan pengembaraan ini. Saya akan terus berjalan. Pergi ketempat dimana saya dibutuhkan. Pergi ke tempat dimana saya akan membuat perubahan untuk hidup yang lebih baik.

PS: foto diambil dari google.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s