Talking about my best friend: Rambut Api

Rambut Api, adalah panggilan khusus untuk seorang sahabat baik yang ku kenal 4 tahun yang lalu. Pekerjaan mempersatukan kita, dan kita tinggal di rumah yang sama selama lebih kurang satu tahun.

Rambut Api memiliki banyak kesamaan karakter dengan ku. Tetapi dalam beberapa hal kita juga berbeda jauh; bagaikan langit dan bumi. Dia seorang perempuan di usia awal 30an. Dia seorang antropolog, dan sangat menyukai antropologi visual. Dia memiliki jiwa adventure yang tinggi sekaligus bakat meneliti yang luar biasa. Dia mencintai buku sekaligus meluangkan waktu untuk menulis apa yang terlintas di fikirannya. Dia orang yang tidak banyak bicara, dan kadang kita tidak tahu apa yang difikirkannya. Adapun demikian, rambut api adalah sahabat baikku.

Persahabatan kita cukup unik. Kita tidak pernah bercerita hal-hal yang sifatnya personal. Kita tidak pernah bercerita keluarga. Kita tidak pernah bercerita pacar. Kita hanya bercerita mengenai ide-ide “aneh” kita, dan menyusun strategi jitu bagaimana ide tersebut dapat terlaksana. Seperti, Rambut Api pernah memiliki keinginan untuk tinggal di sebuah pulau terpencil, pulau yang mungkin tidak tercantum di peta, dan meneliti kehidupan disana; meneliti mengenai penduduk asli, budaya, nilai-nilai yang mereka anut, lingkungan sekitar, dan lain-lain. Rambut api memiliki banyak koleksi buku ilmu-ilmu sosial, dan dia memiliki beberapa penulis favorit (yang aku tidak ingat). Dia memiliki banyak teori, dan dari teori-teori yang ada, dia berharap bisa melahirkan teorinya sendiri.

Rambut Api tidak banyak bicara, dan hanya menjawab seperlunya. Sehingga bagi orang yang belum mengenalnya, akan ragu-ragu untuk mendekatinya. Ketika kita bekerja satu kantor dulu, kita ditempatkan diruangan yang terpisah. Aku dengan rambut api bekerja di departemen yang berbeda. Adapun demikian, banyak orang yang datang ke ruangan ku hanya untuk sekedar menanyakan “mood” rambut api pada saat itu. Sebagai contoh, Yasmin, seseorang berkewarganegaraan inggris, adalah orang yang cukup dekat dengan rambut api. Mereka beberapa kali bekerja satu tim. Mereka berdua pencinta sastra dan juga menyukai jenis musik yang sama. Tetapi sungguh aneh, ketika Yasmin masuk keruangan ku hanya untuk menanyakan “mood” rambut api. Dia bercerita kalau dia masuk keruangan rambut api (RA), dan RA terlihat serius didepan komputernya, dan juga headset di telinganya. Waktu itu yasmin hendak memberitahu ke RA kalau ada professor antropologi yang akan datang dari inggris untuk melakukan penelitian. Dan yasmin ingin berdiskusi dengan RA mengenai jadwal kunjungan tersebut dan bertanya apakah RA mau terlibat membantu penelitian professor tersebut. Saya tersenyum, dan saya bilang kalau RA mood-nya baik-baik saja. Terus Yasmin bertanya kenapa dia ngga segera melepas headset-nya ketika dia masuk? saya bilang karena, kamu juga tidak langsung menegur dia. Mia orangnya tidak suka berbasa-basi. Dia orang yang to the point. Yasmin kembali masuk ke ruangan RA, dan ketika malam, dirumah sewaktu kita makan malam aku bercerita kejadian tadi pagi ke RA, dia hanya tersenyum. Dia bilang Yasmin suka masuk ke ruangan dia, dan itu tidak selalu ingin berbicara dengan dia. Kadang dia masuk hanya untuk mengambil beberapa dokumen umum yang ditempatkan diruangan mia. Jadi dia tidak ingin menegur dan menghabiskan waktunya untuk basa-basi yang tidak perlu. Dia bilang itu buang waktu dan banyak hal lain yang harus dia kerjakan. “Jika dia perlu dengan saya, ya langsung ngomong aja” kata RA ringan. Yasmin hanya salah satu contoh orang yang datang menghampiri ku hanya untuk sekedar menanyakan suasana hati mia pada saat itu. Masih banyak orang lain yang datang kepada ku. Mereka bilang, mereka datang karena aku adalah sahabat RA, orang yang mengerti RA.

Benarkah aku mengerti RA? Benarkah aku sahabatnya? kadang aku berfikir iya, tetapi kadang aku juga berfikir kita hanya teman tetapi bukan sahabat. Dulu, aku beranggapan kalau seorang sahabat itu harus berbagi suka dan duka. Bercerita satu sama lain mengenai perasaan, keluarga, impian, dan lain-lain. Tetapi jika dibilang bukan sahabat, RA mengerti aku lebih dari orang lain yang aku kenal, meskipun kita tidak saling bercerita. Kita saling mengerti dan memahami dari tingkah laku. Rambut Api tidak senang berkata-kata, tetapi dia membuktikan kalau dia ada. Dia melakukan banyak hal. Dan dengan kehadirannya banyak hal positif yang terjadi di hidupku. Tentu saja aku akan bilang kalau dia Sahabat-ku.

Ketika aku bilang, kalau aku akan ke Surabaya, RA tidak serta-merta menawarkan aku untuk menginap di rumahnya. Jika aku tidak kenal dengan RA, mungkin aku akan takut mengajukan permohonan untuk menumpang di rumah dia. Jadi dengan tanpa malu aku bilang ke dia kalau aku akan menginap di Rumah-nya. Aku kan turis kere, jadi aku perlu berhemat kata-ku pada-nya. Dan seperti yang sudah ku duga, RA membuka pintu untuk ku. Dia bilang “kalau aku mau berbagi kamar dengan 4 ekor kucing-nya yang ngga masalah”. Aku belum pernah ke Surabaya sebelumnya, dan rambut api hanya memberikan alamat rumah lewat SMS, dan mengirimkan satu kali SMS ketika di kereta. Tidak ada pertanyaan lainnya, dan tidak ada basa-basi. RA masih seperti RA yang dulu aku kenal, dia tidak banyak bicara. Tetpai sedikitpun tidak terlintas ke khawatiran di kepala ku. Ketika di Kereta menuju ke Surabaya, aku mencoba menelfon dia, tetapi telfonnya sedang sibuk. Dan aku tidak khawatir. Kereta berhenti di stasiun terakhir di Surabaya, Pasar Turi, pada pukul 8.30. Aku menelfon RA untuk menanyakan bagusnya kau naik taksi apa. RA mengangkat telfon dan memberikan petunjuk jalan dan merekomendasikan satu merek taksi. Akhirnya aku tiba di rumah RA. Ketika aku turun dari taksi, RA juga baru turun dari motornya. Baru mengunjungi teman katanya. Kita tidak berpelukan seperti layaknya sahabat. Dia juga tidak mempersilahkan aku masuk. Aku langsung membunti rambut api masuk, dan tanpa malu aku menanyakan apakah dia punya kopi. Dia mengajak ku ke dapur, dan membuatkan secangkir kopi untuk ku. Dia juga mengajak aku makan. Dia bilang dia menyisakan beberapa butir siomay bikinan ibuknya untuk ku. Aku langsung makan. Rambut api menemani aku makan. Tetapi kita tidak banyak bicara. Saya sudah lama tidak bertemu dengan rambut api. Terakhir kita bertemu di Jakarta sebentar. Bapak dan Ibu rambut api sudah tidur.

Besok paginya, ketika sarapan, bapak, ibu, dan kakak Ra menemaniku makan. Dan disitulah aku mengenal sisi lain dari RA. Ibu dan bapaknya adalah orang tua yang penuh pengertian dan kaya akan pengalaman. Mereka pernah tinggal di beberapa propinsi di Indonesia. Ibu RA, adalah perempuan yang ramah, pintar, dan berwawasan luas. Tidak seperti ibu lain pada umumnya, yang memaksakan jalan terbaik bagi anaknya, ibu RA menghormati pilihan RA. Kerjaan Ra sebagai peneliti suka berpindah-pindah tempat. Kadang dia menghilang beberapa bulan, ke pulau atau desa antah barantah, tetapi kita tahu dia pasti akan pulang lagi. Dia datang dan pergi. Ketika RA di rumah, dengan penuh perhatian dia mendengarkan cerita RA. Terkait dengan pekerjaannya, permasalahan di daerah terpencil tempat dia bekerja, dll. RA agak banyak bicara ketika dia di rumah. Aku merasa beruntung untuk bisa menginap di rumah RA, dan berkenalan dengan keluarganya.

Aku dan RA sekarang kembali berpisah. Kita masih terhubung melalui sms, telfon dan juga email. Terakhir yang aku tahu, dia sudah pergi mengembara lagi. Kalau tidak salah dia sedang melakukan penelitian di daerah Ngawi. Dia belum pergi jauh. Aku yakin kalau suatu saat dia akan menjadi peneliti terkenal. Dan orang akan mencari bukunya. Saat ini dia sedang mengupayakan untuk bisa diterima di salah satu Universitas di Estonia.  Dijurusan yang dia suka.  Doaku semoga dia berhasil.

One thought on “Talking about my best friend: Rambut Api

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s