Time will heal?

Gao Xingjian, penulis Cina yang pernah menerima nobel mengatakan kalau Writing eases my suffering… Writing is my way of reaffirming my own existence

Jika anda merasa kalau hidup anda terlalu berat, jika anda memiliki permasalahan dan belum tahu cara menyelesaikannya, jika anda memiliki beribu beban dan tidak tahu bagaimana menguranginya, maka mulailah menulis. Tulis kepedihan yang anda rasakan. Tulis ketidakpuasan dan juga kekecewaan anda. Tulis bagaimana anda sangat sakit dan merasa putus asa. Tulis semuanya. Anda tidak perlu takut untuk mengungkapkan apa yang anda rasakan. Karena tulisan tersebut hanya untuk anda. Anda tidak perlu memberikannya kepada orang lain. Anda juga tidak perlu membaca ulang. Anda bisa langsung menyimpan di sebuah amplop tertutup dan anda simpan disebuah teman penyimpanan yang aman. Jika perlu anda bisa menguncinya. Ingat, bahwa anda menulis adalah untuk anda sendiri. Tidak ada yang perlu ditutupi.

Saya sendiri tidak pernah melakukan hal yang saya katakan diatas. Saya juga tidak pernah menceritakan permasalahan yang saya hadapi dengan orang lain. Saya sangat tertutup. Saya sering menghindari orang karena saya tidak ingin adanya sebuah kedekatan yang akhirnya membuat saya bercerita. Permasalahan saya adalah milik saya sendiri. Saya hanya memiliki sedikit sahabat (yang bisa dihitung dengan jari). Dan bahkan kepada sahabat tersebut saya juga tidak pernah bercerita mengenai perasaan saya. Saya menyimpannya jauh di lubuk hati saya. Orang melihat saya sebagai sosok yang “baik-baik saja”. Saya dianggap sebagai orang yang serius dan tidak suka buang waktu. Pada waktu itu saya merasa sebagai orang yang paling bermasalah di dunia.

Saya dulu percaya kalau waktu akan menyembuhkan luka hati saya. Saya dulu percaya bahwa tidak ada yang salah dengan saya. Yang saya butuhkan hanya jarak dan waktu. Tetapi saya salah. Waktu tidak akan menyembuhkan saya, demikian halnya jarak. Waktu dan jarak hanya bisa menunda, luka tersebut akan dorman, tetapi tidak hilang. Suatu saat dia akan kembali lagi. Suatu saat dia akan menghantui hidup saya lagi. Dan bisa jadi saya akan menularkannya kepada orang terdekat dengan saya.

Ingat artikel yang saya tulis terkait mengenai “reconsile with the past” (saya masih belum menyelesaikannya sampai sekarang). Saya akhirnya memiliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada ibu saya. Ibu yang dalam cerita apapun adalah seorang dewi dan peri yang dicintai oleh anaknya. Tetapi bagi saya ibu saya justru menjadi stressor terbesar dalam hidup saya. Dari saya kecil kita tidak pernah cocok. Kita selalu bertengkar. Seiring saya beranjak remaja, ketidakharmonisan tersebut malah semakin meningkat. Kadang saya merasa kalau saya adalah anak tiri atau anak pungut. Secara fisik kita berbeda. Dan dalam hal lainnya kita juga banyak tidak cocok. Saya membencinya, dan yang saya inginkan hanya pergi jauh darinya.

Ketika saya dewasa, saya bertemu dengan banyak orang. Dan saya beruntung, karena saya dipertemukan dengan orang-orang yang juga mengalami permasalahan yang sama dengan saya. Orang-orang yang pernah terluka, dengan penyebab berbeda. Ada orang yang sudah sembuh dari lukanya, tetapi ada juga orang yang masih lari seperti saya. Dan percaya atau tidak, saya bisa mengidentifikasi orang yang sudah “selesai” dengan dirinya, dengan orang yang masih belum. Seiring dengan waktu tersebut, saya akhirnya memiliki teman yang bisa saya percaya. Saya berani mengungkapkan apa yang saya rasakan. Dan saya juga belajar dari orang-orang yang sudah sembuh dari lukanya. Orang-orang tersebut menjadi orang yang bijak dan arif; mereka menjadi orang yang hebat. Mereka memiliki kepekaan terhadap sesama dan peduli dengan penderitaan orang lain. Sementara, bagi orang yang belum menyelesaikan permasalahannya, mereka akan terus menjadi orang yang gelisah. Mereka masih akan terus menjadi orang yang tidak berbahagia. Kenapa? karena mereka lari, bukanya berkonfrontasi dan menyelesaikan permasalahan tersebut.

Hal tersebut menyadarkan saya. Saya bisa lari. Saya bisa pergi jauh. Tetapi saya masih akan menjadi orang yang sama. Orang yang kalah. Orang yang terluka. Oleh karena itu, saya memilih untuk bertempur. Saya memilih untuk berdamai. Saya percaya hal tersebut tidak akan mudah. Tetapi disatu sisi, saya juga percaya hasilnya akan lebih baik dibanding jika saya terus berlari tanpa pernah mengatakan alasan kenapa saya ingin lari.

Dibutuhkan keberanian yang besar untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan. Hal yang sulit adalah bukan membicarakannya, tetapi hal yang saya takutkan adalah jika reaksi yang saya dapat dengan mengungkapkan isi hati saya tidak seperti yang saya harapkan. Hal ini tentu akan membuat saya lebih sakit lagi. Tetapi setelah dengan pertimbangan yang matang. Saya mengungkapkan semuanya. Saya mengungkap rasa sakit hati yang pernah saya rasakan, rasa dendam, rasa kecewa. Saya juga mengungkapkan jika saya memiliki mimpi yang berbeda dengan apa yang diinginkan oleh orang tua saya. Saya tidak mencari kedudukan, saya tidak mencari harta, yang saya inginkan hanya hidup sederhana dan berbagi dengan sesama. Diluar dugaan saya, orang tua saya tidak pernah tahu dengan rasa kecewa yang saya pendam. Dia tidak pernah tahu kenapa saya menghindar. Dia tidak pernah tahu dengan rasa sakit hati yang saya rasakan. Mereka menganggap saya baik-baik saja. Mereka menganggap saya sosok yang sukses. Dan karena anggapan tersebut maka mereka berharap saya bisa menjadi lebih baik lagi. Mereka tidak sepenuhnya paham. Tetapi saya merasa terbebas. Sedikit banyaknya beban saya terasa lebih ringan.

Balik lagi mengenai menulis. Kenapa mau repot untuk menuliskan pengalaman saya? bukankah hal-hal terkait dengan trauma adalah hal-hal yang harus disimpan dan orang lain tidak perlu tahu. Jawabannya adalah karena ketika saya dulu merasa sangat tertekan, cerita seperti inilah yang bisa menentramkan saya. Rasanya saya tidak sendiri yang bermasalah didunia ini. Dan hal tersebut membantu saya dapat bertahan. Saya percaya ada orang lain yang juga sedang berjuang mengatasi masalahnya. Saya berharap cerita singkat ini bisa sedikit meringankan beban.

Hubungan saya dengan Ibu saya tidak serta merta pulih. Tetapi saya bisa bilang kalau hubungan kita menjadi sedikit lebih baik. Saya menjadi lebih memahami saya, dan saya berharap dia juga lebih memahami saya. Dia mungkin kecewa karena saya tidak bisa menjadi anak yang ideal versi dia. Yaitu kerja di instansi bonafid, jadi dosen, atau jadi pegawai BUMN seperti kakak saya. Dia mulai menerima cita-cita saya menjadi pengembara sekaligus menjadi petani. Malah sekarang dia sudah mulai menawarkan saya untuk membeli tanah sehingga saya bisa mulai berkebun. Dia juga sudah mulai “memaklumi” hobi jalan saya yang dulu mungkin dianggap tidak penting atau hanya buang-buang uang.

Satu hal lagi, ternyata ibu saya memiliki trauma yang sama dengan saya. Dia tidak pernah cocok dengan ayahnya, kakek saya. Dia selalu dimarahi, dan apa yang dia lakukan selalu salah. Sama seperti saya, dia juga merasa kalau kakak dia lebih disayang dan dimanja. Dia merasa tersisih sehingga jiwanya menjadi berontak. Dia merasa kalau orang tidak mencintainya sehingga dia tumbuh menjadi karakter yang keras. Tetapi dibalik sifat kerasnya, dia hanya manusia biasa. Dia lemah dan dia hanya ingin dicintai. Dia memiliki catatan, yang berupa kumpulan surat yang berisi perasaannya. Jika dia sedih, maka dia akan menulis. Dan percaya atau tidak, saya masih bisa membaca ungkapan isi hatinya yang dia tulis di tahun 80an. Dia sosok yang luar biasa, dan sekarang saya tidak lagi membencinya. Saya mencintainya, dan saya berharap bisa menjadi sosok anak yang akan membuat dia bangga. Saya ingin membuat bahagia, tetapi kali ini saya akan melakukan dengan cara saya. Membuat dia bahagia juga harus membuat saya bahagia.

Perlahan tetapi pasti, saya yakin semuanya akan menjadi lebih baih. Waktu akan menjawabnya. Dan usaha. Ingat, kalau waktu saja tidak cukup. Kita juga butuh berusaha.

Ps: foto-foto diambil dari google.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s