Indahnya jika berbagi dengan sesama

Banyak orang di dunia hanya memfokuskan dirinya kepada keluarga mereka sendiri sehingga mereka lupa untuk membantu orang lain di luar keluarga.  Menurut kebanyakan orang, yang layak dibantu hanyalah keluarga, meskipun keluarga tersebut tidak benar-benar butuh bantuan dan sering bantuan yang diberikan malah disalahgunakan atau tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Padahal sebenarnya banyak orang yang membantu keluarga/ kerabat tidak berniat benar-benar berniat membantu. Kebanyakan orang hanya melihat hal tersebut sebatas kewajiban . Dan juga untuk mempertahankan nilai gengsi di mata keluarga itu sendiri. Misal, jika si A memiliki kedudukan yang tinggi dan juga harta yang berlimpah maka keluarga si A akan menuntut A untuk berbagi apa yang sudah dia dapatkan. Dan si A akan memberikannya karena takut dianggap pelit atau dia memberikannya karena ingin diakui eksistensinya, di puji, dan sebagainya. Keluarga disini tidak hanya keluarga inti, keluarga yang dibahas disini adalah keluarga dalam definisi yang luas.

Kadang kita lupa melihat kalau hubungan sebagai sesama manusia juga harus dihargai sebagaimana hubungannya antar sesama anggota keluarga. Jika kita mampu untuk membantu biaya sekolah seorang anak dari tetangga miskin yang tinggal tidak jauh dari rumah kita kenapa kita musti ragu untuk mengulurkan tangan?  apakah karena kita tidak memiliki hubungan pertalian darah atau perkawinan sehingga bantuan yang kita berikan akan sia-sia? apakah dengan membantu anak dari seorang kerabat akan bernilai lebih baik dan bermanfaat?

Bagaimana jika anak tetangga justru lebih serius dan lebih berdidikasi dari pada anak kerabat? kalau pertanyaan tersebut ditanyakan kepada saya maka saya akan menjawab kalau saya akan membantu anak tetangga dari pada anak kerabat. Saya tidak melihat apa yang akan diberikan oleh anak tetangga tersebut kepada saya dikemudian hari, tetapi saya akan melihat apa yang akan diberikan oleh anak tetangga miskin tersebut kepada bangsanya.

Kadang kita memberi meskipun kerabat yang meminta bantuan tersebut tidak benar-benar membutuhkan bantuan. Kita memberikan bantuan hanya untuk menyenangkan hati mereka. Tetapi satu hal yang perlu kita ingat, keluarga yang baik tidak akan pernah menuntut apapun dari kita. Jika keluarga atau kerabat tersebut memang kekurangan, maka saya akan setuju bahwa membantu keluarga dalam konteks ini lebih baik dari pada membantu orang lain.

Saya sendiri percaya bahwa rezeki yang kita dapatkan tidak sepenuhnya milik kita. Saya percaya kalau kita harus menyisihkan pendapatan kita untuk orang lain. Orang lain yang kita bantu tidak hanya orang yang memiliki pertalian darah; siapapun orang tersebut, dari agama apapun, ras/ suku apapun, ketika mereka memang perlu dibantu maka jangan ragu untuk membantu. Kita harus percaya dengan memberi kita tidak akan kekurangan.

Ketika saya masih kuliah, saya bergabung di salah satu sanggar lukis di Bogor. Orang yang punya sanggar lukis tersebut adalah orang yang berada. Sanggat lukis yang juga merupakan studio tersebut sering dikunjungi oleh pelukis-pelukis dari bogor dan daerah lainnya di Jawa Barat. Si pemilik studio tidak keberatan menerima tamu; pelukis-pelukis yang umumnya hidup pas-pasan. Dia akan menyuguhkan kopi dan juga makanan ringan. Di studio tersebut juga ada kamar yang boleh ditempati oleh siapa saja yang menginap disitu. Sering Istri pemilik sanggar memasak dalam jumlah yang banyak dan menawarkan pelukis-pelukis di sanggar tersebut untuk makan bersama mereka. Semua itu gratis. Setiap orang dipersilahkan untuk mengambil sendiri dan jika mau tambah juga dipersilahkan.

Tak jarang saya melihat si pemilik sanggar meminjamkan cat-nya dan diganti jika lukisan salah satu dari pelukis tersebut sudah laku. Pintu rumah bapak dan ibu pemilik saggar tersebut terbuka untuk semua. Saya pernah bertanya sekedar ingin tahu  kenapa dia memasak sangat banyak dan jika dia sering melakukan seperti ini tidakkah dia rugi? dengan wajah ramah dan senyum yang lembut ibuk pemilik sanggar bilang kalau dia tidak akan menjadi miskin dengan berbagi makanan dengan pelukis-pelukis tersebut. rezeki itu akan selalu ada. Pelukis-pelukis yang datang, umumnya menggantungkan hidup 100% dari lukisan. Tidak gampang bagi mereka menjual lukisan, jadi sering mereka tidak punya uang. Jika mereka punya uang, maka mereka akan membelikan kepada kanvas dan cat, mereka jarang memikirkan diri mereka sendiri.

Si ibuk bilang, kalau dia justru senang bisa melakukan ini. Dia senang melihat masakan yang dia masak habis. Dia juga bilang, dia tidak ingin hanya suaminya saja yang kenyang sementara teman-teman suaminya kelaparan. Bapak dan saya kan bekerja. Melukis bagi bapak hanya hobi. Dan karena peduli dengan seniman, maka bapak membuka sanggar ini. Sehingga orang bisa berkumpul disini dan mereka bisa bertukar informasi. Dengan berjejaring, diharapkan mereka bisa ikut pameran, dan memiliki “pasar” yang lebih baik. Begitulah penjelasan si ibu tersebut atas  pertanyaan saya.

Di usia saya, saya sudah bertemu dengan banyak orang. Ada yang super pelit dan hitung-hitungan, yang menggaji pembantunya dibawah standar padahal hartanya berlimpah. Ada juga yang sangat peduli dengan sesama dan tidak pernah takut untuk berbagi dan membantu orang lain. Jumlah orang tipikal kedua lebih sedikit dari pada orang yang pertama, padahal dunia lebih membutuhkan orang-orang tipikal kedua ini. Oleh karena itu, jika anda tertarik menjadi orang yang tipikal kedua, berarti anda adalah orang yang ditunggu, selamat saya ucapkan untuk anda.

“Charity gives itself rich; covetousness hoards itself poor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s