What a wonderful world we live in

Kadang kita terlalu bersedih dengan permasalahan yang kita hadapi. Dan kadang kita berfikir kalau diri kita adalah orang yang paling menderita sedunia. Dan sering kita berteriak kalau tuhan itu tidak adil.

Saya sering mengeluhkan kenapa saya tidak diberikan fisik yang kuat. Saya sangat suka dengan alam, saya suka bepergian, saya suka berjalan kaki, tetapi saya tidak bisa berjalan secara terus menerus. Setiap 30 menit, saya harus mencari tempat duduk untuk istirahat. Jika sedang jalan-jalan di mall tak jarang kalau saya mampir ke food court hanya untuk duduk (atau sekedar minum untuk menghilangkan pusing). Jika saya sedang jalan-jalan di hutan maka saya akan duduk di kayu tumbang yang saya temui, di akar, atau saya akan melepas sandal saya dan akan duduk di sandal tersebut. Jika saya jalan-jalan ditepi pantai maka saya tak segan untuk duduk di pasir setelah mulai merasa pusing mengitari pasir putih. Saya akan merasa pusing, berkeringat dingin, dan berkunang-kunang jika saya berdiri atau berjalan secara terus menerus tanpa duduk. Hal tersebut sudah saya alami dari saya SD. Makanya dulu saya sangat membenci upacara bendera di hari senin. Saya lebih memilih kena hukuman dibandingkan harus berdiri selama kurang lebih satu jam.

Sekarang ketika saya sudah mulai memasuki usia tua penyakit tersebut masih saja menjangkiti saya. Kakak saya sudah kenal dengan penyakit saya, jadi kalau sudah berjalan-jalan lebih dari 30 menit, pasti dia akan menawarkan saya duduk. Konsekuensi dari ini saya juga tidak bisa naik bis jika saya harus berdiri lebih dari 40 menit. Saya pernah naik bis dan harus berdiri dan mata saya mulai berkunang-kunang. Akhirnya saya turun dari bis tersebut dan melanjutkan perjalanan dengan taksi. Oleh karena itu saya lebih suka tinggal di rumah.

Selain itu saya juga sering sakit kepala. Saya tidak tahan panas. Makanya dengan Jakarta yang semakin panas seperti saat sekarang saya menjadi tersiksa. Hal ini membuat saya harus tetap berada diruangan ber-AC. Berbicara mengenai AC, saya juga tidak tahan dingin. Bagi saya suhu normal adalah suhu 25C, jika suhu dibawah itu maka saya akan menggigil dan tangan saya akan beku seperti mati rasa. Ketika saya ke dokter, dokter bilang kalau saya hanya kelelahan, atau pola makan yang tidak baik dan kurang olah raga. Awalnya saya percaya, saya pernah menjalani diet teratur dengan menu yang dijaga, dan juga ikutan fitness. Tetapi hal tersebut tetap tidak memberikan pengaruh positif bagi tubuh saya. Bahkan ketika saya lari di treadmill, saya tetap harus berhenti di menit ke 30. Karna kalau tidak saya akan pusing, mata berkunang-kunang dan keringat dingin.

Penyakit dan fisik yang tidak terlalu fit, adalah salah satu kelemahan saya. Saya masih memiliki kelemahan dan permasalahan yang lain. Hal itulah yang kadang membuat saya berfikir kalau saya adalah orang yang paling sengsara di dunia. Tetapi benarkah saya orang yang paling sengsara di dunia? benarkah tidak ada orang lain yang lebih menderita di bandingkan saya? ternyata semakin saya terbuka untuk melihat orang-orang disekeliling saya, saya sadar kalau masih banyak orang lain yang menderita dari pada saya. Bahkan mungkin penderitaan kita tidak bisa dibandingkan. Bayangkan orang-orang yang harus berjuang menghadapi penyakir kanker? atau seperti salah satu kenalan saya yang saat ini hidup sendiri dan dia harus mencuci darahnya setiap minggu ke rumah sakit? dan biaya untuk itu tidaklah murah. Dia sudah menjual rumah yang diwariskan oleh orang tuanya untuk biaya pengobatannya. Atau orang-orang yang harus menghidupi 3 orang anaknya dan juga harus membiayai pengobatan suami? jika dicari maka sangat banyak contoh yang bisa ditampilkan. Inti dari mengetahui fakta tersebut bukan untuk membuat kita lebih senang karena ada orang yang lebih menderita dari kita. Tetapi adalah bagaimana orang-orang yang memiliki permasalahan berat tersebut bisa bertahan hidup dan berjuang tanpa pernah menyerah.

Saya belajar untuk tidak lagi melihat saya sebagai korban. Saya belajar kalau setiap orang pasti memiliki permasalahan. Tetapi yang membedakan adalah bagaimana orang tersebut melihat dan bereaksi terhadap permasalahan tersebut. “The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy.” Fisik saya mungkin tidak terlalu sehat, saya juga mungkin tidak pintar, tetapi saya percaya kalau tuhan telah memberkahi saya dengan kekuatan lain. Saya belum tahu kekuatan seperti apa, tetapi dari pada memfokuskan diri melihat kelemahan saya maka lebih baik energi saya fokuskan untuk mencaritahu kekuatan dan kelebihan yang sudah diberikan tuhan kepada saya. Saya tidak akan lagi bertanya kenapa kepada tuhan, saya sudah memutuskan untuk berhenti berteriak kepadaNYA. Saya bersyukur diberikan hidup dan merasakan indahnya dunia yang sudah dia ciptakan. Saya berjanji pada diri saya kalau saya akan membuat keindahan tersebut dirasakan oleh semua. What a beautiful world we live in.

photo: doc pribadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s