A new beginning

Berubah? Mungkinkah? Kadang orang terperangkap dalam rutinitas pekerjaan yang membosankan dan kadang berfikir kalau dia pindah kerja ke pekerjaan yang lebih merupakan cerminan jiwanya maka dia akan lebih berbahagia.  Tetapi sering orang hanya berakhir pada sebuah ide atau wacana tanpa pernah memiliki keberanian untuk melakukannya.

Biasa jika orang menginginkan perubahan dalam hidupnya, dia akan mempertimbangkan baik dan buruknya.   Tetapi sering malah orang terlalu banyak pertimbangan sehingga perubahan tersebut tidak pernah terlaksana.  Orang memiliki ketakutan.  Setiap aksi pasti akan memiliki konsekuensi.  Tetapi banyak dari kita yang takut dengan konsekuensi itu.

Seperti apakah konsekuensi itu, benarkah dia benar-benar buruk? Pernah anda membayangkan jika anda mengikuti kata hati anda untuk sebuah perubahan hidup anda akan lebih baik.  Sehingga konsekuensi negatif yang anda fikirkan tidak lagi berimbang dengan manfaat positif yang anda rasakan dari sebuah perubahan.

Apakah perubahan tersebut mustahil? Misal, anda terperangkap dalam sebuah perkawinan yang tidak bahagia.  Menurut anda, suami anda sering memperlakukan anda dengan tidak adil, dan bahkan tak jarang dia juga menyakiti anda secara fisik.  Anda tidak tahan lagi hidup dengan seorang pria yang membuat hidup anda tidak nyaman.  Pria yang seharusnya yang menjadi pelindung anda malah menjadi mimpi buruk anda.  Anda takut bercerai karena “status janda” memiliki nilai rendah di masyarakat dimana anda tinggal.  Atau orang tua anda, keluarga anada, dan juga saudara dekat anda menyarankan anda tetap bersabar dan berdoa memohon suatu saat nanti suami anda diberikan hidayah untuk berubah.   Anda tidak percaya dengan hidayah tersebut.  Yang anda inginkan hanya pergi jauh dari suami anda tersebut.  Anda ingin berpisah.  Anda sudah tidak tahan lagi menderita dan diperlakukan dengan kasar.  Tetapi, anda sudah memiliki anak.  Anda juga tidak memiliki pekerjaan atau tabungan.  Orang tua anda juga bukan keluarga yang mampu.  Anda takut berpisah.  Anda takut untuk hidup sendiri, anda juga merasa kalau anda tidak akan bisa mencari pekerjaan dan bagaimana dengan nasib anak anda?

Akhirnya anda berfikir anda akan bertahan dalam pernikahan tersebut.  Demi anak anda, demi nama baik keluarga.  Anda rela tidak bahagia.  Dan anda mulai percaya kalau anda tidak akan pernah bahagia.  Anda mulai berfikir bahwa kebahagian anda adalah jika anda melihat orang lain berbahagia.  Anda bertahan untuk anak anda.  Anda berharap anak anda akan bahagia.  Tetapi sadarkah anda, pada saat anda berfikir demikian sebenarnya anda sudah mati.  Iya, jiwa anda mati.  Anda sudah mati rasa.  Dan hal ini mungkin lebih buruk dari kematian sebenarnya.

Terus bagaimana?

To be continued.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s