Have a caurage to dream

Some men see things as they are and say why…

I dream of things that never were and say why not.

Seorang teman bertanya mengenai “apakah orang miskin boleh bermimpi untuk memiliki kehidupan yang lebih layak?” jawaban saya, iya, tentu bisa, kenapa tidak?

Tetapi bagaimana kalau itu adalah mimpi orang lain yang menginginkan ada perubahan pada orang miskin? misal, mimpi seorang pemimpin yang menginginkan peningkatan kualitas hidup untuk masyarakat yang dipimpinnya? dan bagaimana ketika masyarakat sudah turut bermimpi namun kehidupan layak yang dia mimpikan tak kunjung datang?

Saya ingat ketika saya berkunjung ke rumah teman saya di Malaysia, dia adalah turunan India- Tamil. Saya dibawa berkunjung ke rumah saudara-saudaranya di Malaysia. Kebanyakan dari mereka tinggal di apartemen sederhana, atau mungkin tepatnya tinggal di rumah susun kalau versi Jakarta. Rumah yang sempit tersebut ditinggali dengan keluarga lainnya, apakah itu ponakan, tante, atau kakek atau nenek. Tetapi yang membuat saya terkejut pada waktu itu adalah mereka memiliki TV dengan layar lebar: 32 atau bahkan 42 Inch.

Jika kunjungan itu saya lakukan sekarang mungkin saya tidak terlalu terkejut, tetapi kunjungan tersebut adalah 6 tahun yang lalu. Ketika TV berlayar lebar belum populer di Indonesia (tidak seperti sekarang dimana LCD TV berlayar lebar dijual dengan harga discount gede-gedean). Mereka juga berlangganan TV kabel. Dan tidak lupa speaker besar dua dikiri kanan.

Ketika saya mampir ke rumah saudara-saudara teman saya tersebut, umumnya mereka sedang menonton film, film India (dan film Tamil, mereka bilang film India dengan film tamil berbeda yang meskipun menurut saya sama, sama-sama ada tarian dan nyanyian). Teman saya seakan menjawab keheranan saya menjelaskan “umumnya orang India (khususnya tamil) yang datang ke Malaysia bukanlah orang kaya. Pada umumnya mereka adalah orang-orang miskin dari daerah India selatan yang ingin bekerja keras untuk merubah nasibnya. Mereka adalah orang-orang yang bermimpi untuk bisa hidup lebih baik. Jika bukan hidup mereka yang berubah, minimal hidup generasi penerusnya. Jika mereka tinggal di India nasib mereka tidak akan berubah. Teman saya beragama hindu dengan kasta rendah. Dia bilang kalau hidup di India dengan kasta bawah dan miskin akan lebih berat lagi. Akses terhadap fasilitas, sekolah, pekerjaan, sangat terbatas.

Ayah dia (ketika masih muda) datang ke Malaysia sebagai buruh kasar yang bekerja di restoran India di Malaysia. Ayahnya tidak bisa berbahasa Inggris. Ayahnya kemudian bertemu dan menikah dengan perempuan tamil yang juga tinggal di Malaysia yang sudah bisa berbahasa melayu (tetapi tidak bisa berbahasa Inggris). Anaknya, yang merupakan teman saya lahir dan besar serta bersekolah di Malaysia. Dia memiliki pendidikan yang cukup tinggi di bidang IT dan bekerja di salah satu perusahaan IT ternama di Malaysia. Orang India suka menonton film, bernyanyi dan kadang bergoyang, adalah untuk melupakan kepedihan dan derita hidup. Dengan menonton film, mereka seakan keluar dari beratnya realitas hidup. Mereka berhayal memiliki hidup seperti aktor dan aktris yang mereka tonton. Jika mereka belum bisa memiliki hidup yang mereka inginkan, setidaknya mereka boleh menghayalkannya.

Tante teman saya, yang mendengar cerita teman saya menambahkan, di india, selain kemiskinan, juga banyak daerah kering yang tandus, hal ini juga yang menjadikan kenapa orang India suka memakai warna yang mencolok seperti merah, hijau, kuning, dan warna-warna “jreng-jreng” lainnya. Dengan warna-warna yang mereka kenakan mereka seakan bisa menandingin ketandusan negrinya. Hidup tidak lagi gersang, tetapi menjadi lebih berwarna.

Balik lagi mengenai mimpi, ada pepatah yang mengatakan “orang yang sudah berhenti bermimpi, sesungguhnya dia sudah mati”

Bermimpi adalah hak semua orang. Mimpi akan melahirkan harapan, harapan akan menimbulkan semangat, semangat akan mendorong kita untuk mencapai segala sesuatu yang kita inginkan.

Tanpa mimpi hidup akan terasa hambar, jadi jangan takut untuk bermimpi.

Mengenai tercapai tidaknya mimpi kita itu adalah urusan lain. Tidak ada ruginya untuk bermimpi. Dan jika kita sungguh-sungguh menginginkan mimpi itu menjadi kenyataan maka kita akan mencapainya.

Seperti kata salah satu tag merek produk sport terkenal didunia “Impossible Is Nothing”

Nelson mandela, dulu bermimpi agar warga kulit hitam di Afrika selatan memiliki hak yang sama dengan warga kulit putih. Dulu yang diinginkan oleh Nelson Mandela adalah mimpi. Namun sekarang hal tersebut menjadi kenyataan. Banyak hal lain yang sudah dicapai oleh pemimpi-pemimpi sebelum kita. Dan jika anda memimpikan sesuatu yang belum pernah ada atau belum pernah terfikirkan oleh orang lain sebelumnya, anda harus berkata “why not”

Saya adalah orang yang berani bermimpi, dan saya percaya kalau saya akan mencapainya. Jika hasil yang saya capai tidak seperti yang saya impikan, saya tidak akan bersedih. Karena dengan berani bermimpi saya sudah menang. Dengan mimpi saya menjadi bergairah menjalani hidup ini.

All of us failed to match our dreams of perfection. So I rate us on the basis of our splendid failure to do the impossible.

William Faulkner
Ps: foto adalah koleksi pribadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s