Jurnal perjalanan seorang pendekar

Jika benar kisah pendekar itu pernah ada maka saya akan menganggap diri saya sebagai pendekar perempuan yang tak pernah lelah dan tidak gampang menyerah.

Saya ingat ketika dulu saya kecil saya pernah sangat menggandrungi film “Si buta dari goa hantu” atau saya juga pernah membaca buku cerita wiro sableng dan mendengar sandiwara radio yang bercerita tentang pendekar tangguh yang bernama Arya Kamandanu (kalau saya tidak salah).

Setelah membaca buku atau menonton film saya membayangkan diri saya menjadi salah satu karakter dalam film/cerita tersebut. Saya membayangkan menjadi pendekar wanita yang berkelana dengan menunggang kuda. Perasaan yang sama sempat saya rasakan ketika saya menonton Xena the worrior princess. Saya kagum dengan keahlian Xena dalam bertempur dan menaklukan lawan. Dia tidak mudah menyerah dan selalu memenangkan pertarungan.

Terus apakah keinginan saya menjadi pendekar terwujud? jawaban saya adalah iya. Tetapi saya tidak menjadi pendekar di zaman wiro sableng atau pendekar gua hantu. Saya menjadi pendekar di zaman sekarang. Saya berkelana tidak lagi menunggangi kuda putih, tetapi saya berkelanan dengan menaiki kapal terbang, bis, kereta api, sepeda motor, kapal, sampan, atau kendaraan apapun yang bisa membawa saya bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain. Saya bertempur melawan banyak hal, tetapi pertempuran tersebut tidak lagi menggunakan pedang.

Pertempuran yang saya hadapi sekarang jauh lebih tangguh. Saya bertempur melawan ketidakadilan dalam hidup ini melalui berbagai cara dengan menggunakan keahlian dan otak saya yang tak seberapa. Apakah saya puas? saya merasa puas karena berhasil mengerjakan apa yang saya inginkan, yaitu berkelana. Saya tidak tahu sampai kapan saya akan berkelana. Bisa jadi perjalanan ini adalah tanpa akhir. Saya baru saja memulainya. Sudah banyak para pejalan dan petualang sejati sebelum saya, mereka sudah menempuh ribuan mil dan sudah menundukan banyak tantangan dalam hidup ini.

Saya sangat menikmati ketika kendaraan yang saya tumpangi melaju kencang menuju bandara membelah keheningan subuh. Atau ketika saya berada diatas menatap awan sambil menyeruput kopi hangat. Saya juga menyukai ketika duduk di mobil dan melihat ke luar jendela mengamati pepohonan, pertokoan, dan orang-orang yang berada disisi jalan. Saya menikmati bepergian dari satu tempat ke tempat lain dan bertemu dengan beragam orang dengan latar adat istiadat yang berbeda.

Salah seorang teman saya bilang kalau saya harus memiliki jurnal perjalanan. Sehingga saya bisa bercerita kepada keturunan saya nanti. Tetapi sayang saya tidak terlalu bagus dengan hal tersebut. Saya sangat malas mencatat. Segala sesuatu yang saya lakukan sering berlalu begitu saja. Padahal begitu banyak cerita yang ingin dibagi, begitu banyak hal yang ingin saya ungkapkan. Pepatah arab yang mengatakan waktu itu bagaikan pedang sangat tepat. Waktu tersebut berlalu dengan cepat.

Bagi saya yang lebih suka menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan, tidak memiliki harta yang bisa saya banggakan. Uang yang saya punya saya tukarkan menjadi tiket untuk terbang mengunjungi tempat yang belum pernah saya kunjungi. Harta saya hanya cerita dan kepuasan yang saya terima dari perjalanan yang sudah saya tempuh. Dan jika saya tidak memiliki jurnal perjalanan maka saya benar-benar tidak memiliki apa-apa lagi.

Biasanya saya merasa cocok jika saya bertemu dengan pejalan dan petualang sejati. Meskipun kita berasal dari latar belakang berbeda, namun biasanya kita akan langsung akrab. Saya merasakan banyak kesamaan sifat dengan teman-teman yang juga hobi berpetualang seperti saya. Saya berharap agar suatu saat nanti saya akan sampai di Nepal, di kaki gunung everest. Ya, hanya dikakinya saja. Saya tidak tertarik untuk naik. Saya tidak terlalu tangguh untuk naik keatas, dan saya cukup tahu diri dan tidak ingin mati sia-sia. Banyak tempat yang ingin saya kunjungi. Saya juga harus meningkatkan skill yang dibutuhkan untuk jalan.

Saya harus memperkuat fisik dengan rajin berolah raga dan juga memperluas ilmu saya mengenai travelling. Saya harus rajin baca dan mempersiapkan diri dengan segala resiko yang akan saya hadapi dalam perjalanan saya nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s