My Best Gay Friend

Saya awalnya agak sedikit khawatir untuk menuliskan judul diatas. Karena kita semua tahu bagaimana ruang untuk teman-teman gay sangat terbatas atau mungkin malah tidak diakui di Indonesia.

Kita tahu bahwa konferensi internasional asia pasifik di Surabaya batal terlaksana dikarenakan oleh beberapa kelompok yang tidak menghendaki terlaksananya acara tersebut. Atau pelatihan untuk teman-teman waria di depok yang diselenggarakan oleh Komnas Ham juga batal terlaksana karena ada kelompok yang meminta agar acaranya dibatalkan. Saya ingat ketika sore itu saya lagi di salon di Jakarta melakukan perawatan muka setelah pulang dari menjelajah di taman nasional alas purwo. Yang bertugas untuk membantu saya adalah seorang laki-laki dengan wajah dan perawakan yang mirip dengan selebriti Ivan Gunawan. Orangnya sangat ramah dan riang. Tangannya yang gemulai dengan cekatan melakukan perawatan pada wajah saya. Dia memberikan masukan beberapa gaya kepada saya. Saya jadi malu kenapa dia yang berjenis kelamin laki-laki malah lebih mengerti tips kecantikan dari pada saya. Dia dengan keahliannya telah membantu banyak perempuan untuk tampil penuh percaya diri.

Dan ketika dia asyik menerangkan tentang salah satu trend model rambut, tiba-tiba di TV ditayangkan satu kelompok yang tengah melakukan penggrebekan untuk menghentikan suatu acara yang diadakan oleh teman-teman waria. Wajah si mas yang mirip dengan Ivan Gunawan kontan rangsung berubah. Dia terlihat syok dan seakan turut merasakan kegelisahan yang dirasakan oleh teman-teman waria di tempat kejadian tersebut. Teman-teman dia yang lain juga langsung mendekat dan bergabung menonton berita. Setelah itu mereka berkata dengan lirih bagaimana kelompok tersebut sudah tidak adil dengan mereka. Mereka tidak mengganggu orang lain kenapa malah mereka kerap diganggu? apakah mereka begitu hinakah sehingga apapun yang mereka lakukan akan selalu salah? mereka juga makhluk tuhan dan setipa makhluk tuhan punya hak yang sama. Itu sepenggal kejadian yang menggugah hati saya.

Namun jauh sebelum kejadian tersebut hati saya sudah tergugah ketika saya berteman dengan salah seorang pria yang memiliki orientasi seksual menyukai pria juga. Pada artikel sebelumnya saya udah bercerita sedikit tentang dia. Sebut namanya Joni. Dia adalah pria yang gagah dan berkulit putih bersih. Dia pintar dan memiliki pekerjaan yang mapan. Banyak perempuan yang jatuh hati padanya. Ketika saya berkenalan dengan Joni, saya tidak mengetahui kalau Joni gay. Dia berpakaian dan berbicara seperti gambaran laki-laki pada umumnya. Baru setelah saya bersahabat dengannya saya mengetahui kalau dia punya pacar seorang dokter yang juga laki-laki. Joni adalah anak tertua dari lima bersaudara. Dia memiliki bapak dan ibu yang sudah berusia lanjut. Mereka memiliki sebuah kebun kopi yang tidak terlalu luas. Kebun kopi inilah yang menjadi sumber penghasilan orang tuanya. Namun ketika bapak-ibunya sudah berusia lanjut, mereka tidak bisa lagi bekerja segesit dulu. Sementara Joni masih memiliki adik-adik yang masih bersekolah dan juga yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Usia dia sama dengan saya. Ketika kita bertemu kita sama-sama berusia 24 tahun. Usia yang masih relatif muda.

Pada usia yang belum ada tanggungan seluruh pendapatan saya saya nikmati sendiri. Tentu saja setelah dikurangi pajak dan sumbangan untuk orang yang belum seberuntung saya. Sementara Joni memberikan seluruh jerih payahnya untuk keluarganya. Dia hanya menyisakan sedikit untuk dirinya. Jumlah yang hanya cukup untuk menopang makannya selama satu bulan dan biaya kontrakan kamarnya. Dia hidup sangat sederhana. Jauh dari rumor kalau dunia gay selalu gemerlap dan bermandikan uang dan hiburan. Joni beruntung bahwa dengan kepintarannya dia bisa bekerja disalah satu perusahaan bonafid dengan gaji yang besar. Dia bisa memilih untuk berfoya-foya. Joni bilang kalau sumber kebahagiannya adalah keluarganya. Dia akan melakukan apapun yang dia bisa untuk membahagiakan keluarganya. Tentu saja tidak hanya dengan materi. Dia secara rutin menelfon orang tuanya dan mendengarkan seluruh cerita mereka. Meskipun hal yang diceritakan bukan hal-hal yang penting yang berupa aktivitas sehari-hari ibu dan bapaknya. Atau dengan sabar dia mendengarkan cita-cita dan keinginan adiknya. Dia menjadi anak yang baik untuk adek-adeknya dan menjadi anak yang santun bagi orang tuanya. Joni orang yang sangat riang. Dia juga menjadi tumpuan bagi banyak temannya. Dikarenakan dia pendengar yang baik dan dia juga sangat bijak untuk anak muda diusianya, dia selalu menjadi tempat curahan hati banyak orang. Ketika orang punya masalah akan datang ke Joni. Dan seberapa beratpun permasalahan tersebut orang tersebut akan pulang dengan wajah gembira dan perasaan yang plong. Bahkan psikologpun tidak akan mampu melakukan apa yang telah dilakukan oleh Joni kepada banyak temannya. Joni menjadi sumber kebahagian bagi banyak orang. Sayapun demikian, saya bersyukur kalau saya diberikan kesempatan untuk kenal dengan joni dan menjadi temannya.

Dia tidak pernah menyesali hidupnya. Dia tetap bersyukur kepada tuhan yang sudah memberikan dia kehidupan di bumi ini. Meskipun dia akan sulit hidup dengan statusnya sebagai gay, tetapi dia tidak serta merta menyerah. Dia tidak bersedih dan berhenti berharap. Dia tetap melakukan apa yang bisa dia lakukan dan memberikan cahaya bagi banyak orang. Joni menyadari banyak gay dan waria tidak seberuntung dirinya. Khususnya waria, dengan penampakannnya yang lemah gemulai, sementara di masyarakat kita laki-laki harus tampil gagah dan perkasa, waria sering menjadi bahan olok-olokan. dari kecil mereka sudah diejek dan dijadikan bahan bercandaan. Tidak mudah bagi mereka bertahan dengan ejekan ini, namun karena sudah saking seringnya, bahkan seumur hidup selalu diejek mereka akhirnya menjadi kuat. Namun umumnya waria berpendidikan rendah. Banyak yang tidak bisa bertahan di sekolah umum atau di perguruan tinggi karena termasuk guru dan dosenpun jarang yang mendukung mereka. Mereka juga harus menghadapi resiko berat lainnya yaitu ditolak dikeluarga sendiri. Pemasalaha psikologis yang begitu besar. Bahkan termasuk dalam urusan percintaan. Tak jarang mereka dimanfaatkan oleh laki-laki iseng yang hanya ingin mengeruk keuntungan darinya. Banyak dari mereka hidup dijalan dan tersisihkan. Ketika saya berkunjung ke Aceh minggu lalu, di minggu yang sama telah terjadi pembunuhan terhadap satu orang waria, namun sering pembunuhan ini tidak pernah diusut tuntas. Motif yang sering diangkat dalam kasus pembuhan waria adalah kalau korban dirampok oleh sesama waria juga. Atau kita juga sering mendengar berita di TV kalau waria sering merampok pelanggannya (lelaki berduit yang mengaku lelaki “normal” dan hidup ber”matabat” dimasyarakat). Padahal waria juga sering tidak dibayar dan dipukul atau memperoleh banyak kekerasan seksual lainnya. Waria umumnya bekerja disektor non formal. Karena sangat susah bagi mereka untuk diterima disektor formal. Menurut saya otak kanan mereka sangat aktif sehingga mereka lebih cocok bekerja di creative industry. Joni memiliki kepedulian yang tinggi terhadap waria dan gay yang ditolak oleh lingkungannya dan tidak memiliki skill yang bagus untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak dari mereka tidak mengetahui hak mereka sebagai manusia atau sebagai warga negara karena saking seringnya ditolak. Hal inilah yang akan menjadi perhatian dia kedepan. Dia bilang kalau dia tidak akan pernah berhenti peduli.

Berteman dengan Joni membuka mata saya akan banyak hal. Saya menyadari kalau dunia itu bukan hitam dan putih. Kalau dunia yang “ideal” menurut saya dan menurut kebanyakan orang tidak selalu “ideal”. Hidup itu adalah misteri. Banyak hal yang musti dipelajari dan disingkap, dan tidak lupa pula kalau hal tersebut juga harus dituliskan. Jika semua orang di dunia ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar dan melihat serta memahami realitas lain disekelilingnya maka mereka akan dikejutkan dengan realitas hidup yang sebenarnya. Saya kesempatan untuk berfikir tersebut sudah ditutup dengan beberapa doktrin yang sudah ditanamkan. Jika saya tidak kenal denagn Joni mungkin saya tidak akan menulis apa yang saya tulis hari ini. Jika sebelumnya saya pernah bercerita mengenai sahabat saya, si antropolog, rambut api, maka Joni adalah sahabat saya yang lain, dengan peringkat sejajar dengan rambut api. Kenapa kita memberikan kesempatan pada diri kita untuk melihat indahnya perbedaan?


Foto: Ricky martin diambil dari Google.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s