An amazing experience di Taman Nasional Alas Purwo

Sudah lama saya ingin menulis pengalaman wisata saya ketika berkunjung di taman nasional Alas Purwo bulan April yang lalu, namun saya tidak punya cukup waktu untuk menuliskannya.

Hal lain yang mengurungkan niat saya untuk menulis adalah saya terkendala dengan daya ingat dan saya juga tidak membuat jurnal perjalanan. Hari ini ketika saya termenung tidak ada kegiatan, tiba-tiba saya teringat dengan taman nasional alas purwo. Liburan saya disana sangat berkesan. Dan saya juga ingin agar rekan-rekan yang belum pernah berkunjung kesana jadi tergerak untuk merasakan dan menikmati langsung keindahan tempat tersebut.

Saya sangat menyukai hutan entah mengapa. Dan ketika teman saya mengajak saya untuk berkunjung ke taman nasional alas purwo saya sangat senang. Taman nasional ini terletak di Provinsi Jawa Timur. Saya sering mendengar mengenai TN-AP ini dari sahabat saya, RA. Ketika dia masih menjadi mahasiswi Antropologi di Universitas Airlangga Surabaya, dia sering berkunjung kesini. RA yang merupakan singkatan rambut api adalah nama yang sangat tepat untuk menyebut teman saya tersebut. RA sangat misterius dan suka sekali mengakaji hal-hal yang berbau mistis. Saya maklum dengan kegemaran dia, karena dia sangat menghayati perannya sebagai antropolog. Ketika dia menelfon saya untuk mengutarakan rencana kita berkunjung ke Taman Nasional ini dia bilang kalau dia mau mencari wangsit. Sekaligus dia akan bertapa di gua-gua keramat yang terdapat di dalam kawasan hutan lindung tersebut. Rambut Api memang senang menyebutkan hal-hal seperti itu, tetapi dia tidak akan pernah melaksanakannya. Saya tidak habis fikir kenapa dia sangat menyukai tempat ini.

Dikarenakan penasan saya segera men”google” dan dari situs dephut saya memperoleh sedikit informasi mengenai taman nasional-AP. Disitus tersebut dijelaskan kalau taman nasional alas purwo adalah salah satu perwakilan ekosistem hutan hujan dataran rendah di pulau Jawa. TN-AP merupakan habitat dari beberapa satwa seperti lutung, banteng, burung merak, ajag, rusa, macan tutul, kucing bakau, penyu dan banyak jenis satwa lainnya. Di Kawasan taman nasional ini, di daerah yang bernama Plengkung atau G-land, sering dikunjungi oleh perselancar dunia yang merupakan sepuluh lokasi surfing terbaik dunia. Ringkasnya Taman nasional ini memiliki ragam obyek dan daya tarik wisata alam dan wisata budaya: laut, pasir, hutan, hewan liar, oleh raga dan budaya.

Setelah cukup yakin kalau taman nasional alas purwo merupakan daerah yang layak dikunjungi saya segera bertolak ke Surabaya. Sebelum ke TN Alas Purwo saya berencana untuk berkunjung ke Gunung Bromo. Namun sayang, karena hujan yang tak kunjung henti selama saya di Surabaya, kawasan gunung bromo ditutup karena berpotensi longsor dan jalan menuju kesana dikabarkan rusak berat.

Akhirnya tujuan ke TN Alas Purwopun dipercepat. Sahabat saya segera menghubungi sahabatnya yang bertugas ditaman nasional tersebut, Beben. Beben juga merupakan suami sahabat baik dari RA. Kata RA semakin banyak yang ikut maka akan makin seru. Diapun menghubungi sahabatnya dan “merayu” mereka untuk ikut. Akhirnya setelah menelfon sana dan sini, dia berhasil menjaring satu orang, Eli.

Saya, Eli, dan RA berangkat dengan mobil travel (sejenis Elf) ke Taman Nasional Alas Purwo. Kita berangkat pada malam hari, sekitar pukul 8 malam. Harapannya kita akan tiba di TN-AP pada jam 5 pagi. Kita akan menginap dirumah Beben. Dengan gagah berani, kita bertiga “three angels” mengarungi kegelapan malam untuk menuju ke hutan. Hutan yang terkenal dengan nama hutan perawan, juga dikenal sebagai hutan yang cukup “angker”. Di mobil kita tidak banyak bicara. Mobilnya juga tidak penuh. Sebenarnya teman saya ingin menunjukan lumpur lapindo, namun karena malam saya tidak bisa melihat apapun. Ternyata kita tiba di TN AP lebih cepat dari waktu semula yang kita perkirakan. Waktu masih menunjukan pukul 4 pagi. RA munghubungi Beben lagi. Mobil yang kita tumpangi mengantarkan kita sampai ke pinggir hutan dimana Beben sudah menunggu dengan senternya.

Karena masih sangat pagi, kita beristirahat dulu di rumah Beben. Eli dan RA segera merebahkan badannya di kasur yang digelar di depan ruang TV. Beben memberikan kita brosur dan sedikit informasi mengenai hutan. Dikarenakan sahabat lama, beben dan RA juga bercerita mengenai kenangan-kenangan mereka dulu. Terlihat jelas kalau mereka sudah mengenal cukup dekat satu sama lain. Mereka juga saling mengejek dan bercanda dengan suasana yang akrab. Beben bilang kalau jam 7pagi sebaiknya kita sudah masuk hutan. Namun sebelum itu kita akan melihat rusa duu yang dikandangkan tidak jauh dari rumah, habis itu mandi, dan berangkat.

Ketika selesai mandi, mobil ranger merah sudah menungu. Namun dikarenakan belum makan pagi maka kita berencana untuk sarapan dulu. Beben sebagai tuan rumah mengajak kita makan di daerah kawasan hutan. Disitu ada warung sederhana yang makanannya cukup enak (untuk standar hidup di hutan). Setelah sarapan dan meminum segelas teh manis, kita melanjutkan perjalanan menuju padang pengembalaan banteng. Di lapangan luas tersebut kita bisa menyaksikan banteng dan kijang liar berjemur. Demi kenyamanan dan untuk memenuhi rasa “lapar” pengunjung disediakan tower pengintai dimana kita bisa naik dan mengamati satwa yang tengah makan dan berjemur di padang rumput dari atas ketinggian kurang lebih 5 meter. Lapang pengembalaan Banteng ini sudah beberapa kali diliput oleh stasiun TV lokal. Lokasi ini juga sering dikunjungi oleh wisatawan asing dan peneliti. Beben bilang kalau secara umum jumlah wisatawan asing yang bertandang ke hutan ini hampir berimbang dengan wisatawan lokal, bahkan dimusim-musim tertentu bisa melebih wisatawan lokal.

RA tidak puas mengamati banteng dari tower pengintai. Dia ingin masuk ke padang pengembalaan. Beben awalnya agak cemas namun karena dia tahu kalau RA adalah cewek nekat dan pemberani akhirnya dia mempersilahkan (bahkan sebelum beben mempersilahkan dia sudah berjalan menacari pintu masuk ke lapangan pengembalaan. Syukurnya bantengnya berada sangat jauh dari pintu masuk. Bahkan jika bantengnya berniat mengejar akan dibutuhkan waktu lebih kurang 15 menit untuk bisa mencapai lokasi RA. Jadi RA berada dalam situasi aman. Aku malah khawatir dengan bantengnya, karena RA pernah mengutarakan keinginannya untuk memburu seekor banteng dan menjadikan daging empuknya menjadi kornet. RA terlihat sangat lapar dan serius ketika mengungkapkan hal itu. Dia sangat hobi makan dan penggemar daging, sehingga jika dia benar-benar menjadi “gila” dan menangkap banteng tersebut saya tidak akan heran.

Saya dan Eli menyusul RA ke padang pengembala. Kita berfoto dan membayangkan kalau kita tengah menikmati safari di Afrika, memang lokasinya agak mirip. Padang savana yang dipenuhi oleh banteng-banteng liar. Setelah puas menikmati banteng kita melanjutkan perjalanan menuju tempat penangkaran kura-kura. Kawasan hutan ini juga memiliki wilayah pantai yang pada musim tertentu seperti bulan Agustus dan Oktober penyu-penyu mendarat untuk bertelur. Di kawasan penangkaran terdapat foto kura-kura besar yang mungkin panjangnya hampir mencapai 1.5 meter. Kura-kura tersebut benar-benar berukuran raksasa. Kita dibawa masuk melihat penyu yang sedang ditangkar. Ukuran anak penyu tersebut bermacam-macam, mulai dari bayi penyu sampai dengan penyu yang sudah agak besar. Ketika penyu tersebut sudah mencapai umur/ ukuran tertentu maka penyu tersebut akan dilepas ke laut lepas.

Setelah puas melihat penyu-penyu hasil penangkaran saya dan Eli mengambil beberapa foto dipinggir pantai. Ombaknya luar biasa ganas. Hanya orang gila yang mau berenang di lokasi ini. Rambut api lagi-lagi menghilang. Setelah kita cari-cari ternyata dia lagi asyik duduk dibawah pohon besar yang usianya mungkin sudah ratusan tahun. Akarnya luar biasa besar, dan ada ranting yang menyerupai tali seperti pohon-pohon dalam film tarzan, dimana tarzan bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lain. Ketika melihat saya dan eli datang RA langsung tersenyum senang. Setengah memaksa dia meminta saya untuk berpose semedi dibawah pohon tua tersebut. Dia juga meminta saya untuk berpose seolah-olah sedang melakukan ritual mistis. Dengan senang hati saya memenuhi permintaan rambut api tersebut dan benar hasil fotonya menjadi keren dan unik. Ketika kita asyik berfoto-foto ria, kita dikejutkan oleh sekawanan lutung yang melompat dari satu ranting ke ranting yang lain. Lutung-lutung tersebut begitu lucu. Kita tidak menyadari kalau waktu sudah menunjukan pukul 12 siang.

To be continued.

Foto yang ditampilkan adalah koleksi Beben.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s