Papua dan Misteri-nya

Saya dulu mengenalnya dengan nama Irian Jaya. Tetapi nama tersebut sekarang sudah tidak umum lagi karena sudah berganti menjadi Papua. Generasi saya mungkin masih banyak yang belum familiar dengan nama Papua, dan mereka akan bertambah bingung lagi ketika orang bertanya papua yang mana? Papua Barat atau Papua?

Untuk beberapa pemabaca yang belum tahu, Papua sekarang sudah dipecah menjadi 2 provinsi. Kalau tidak salah pemecahan menjadi dua propoinsi ini terjadi pada masa pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid di tahun 2006. Ibukota dari propoinsi Papua adalah Jayapura sedangkan Ibu Kota dari Papua Barat adalah Monokwari. Jangan salah, saya juga baru mengetahui hal ini baru beberapa bulan belakangan.

Saya berencana untuk berkunjung ke Papua Barat pada akhir Juli nanti, oleh karena itu saya berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Papua. Saya sudah meng-google dalam 2 hari ini namun referensi dalam bahasa Indonesia sangat terbatas. Padahal saya sangat yakin kalau teman-teman dari provinsi lain atau dari pulau jawa banyak yang sudah berkunjung ke pulau Papua, namun kebanyakan cerita tersebut hanya disimpan sendiri tanpa dituliskan. Bisa jadi dikarenakan waktu yang terbatas jadi pengalaman yang menarik tersebut tidak sempat ditulis.

Jujur saya akui kalau ketika mendengar nama Papua bayangan yang langsung muncul dikepala saya adalah Suku Dhani dan Suku Asmat yang masih hidup dengan adat istiadatnya. Menggunakan koteka dan berburu di hutan. Pengetahuan saya ternyata sangat minim. Beberapa orang yang saya kenal yang belum pernah kesana membayangkan kalau Papua adalah daerah yang sangat primitif, dengan suku pedalaman -terbelakang dengan kehidupan seperti di zaman batu dan masyarakatnya yang hidup meramu dan berburu. Saya ingat 6 bulan yang lalu ketika saya bilang saya ingin berkunjung ke Papua tante saya langsung bilang jangan. Dia takut saya terbunuh dengan tombak. Dia bercerita kalau suku asli disana masih suka berperang. Dan mereka tidak mengenal hukum Indonesia karena mereka hanya mengetahui hukum dan aturan yang sudah ditetapkan oleh suku-nya. Masyarakat asli tersebut tidak suka dengan pendatang. Mereka bisa saja menghilangkan nyawa jika mereka tidak suka dengan orang yang ditemui. Begitulah penjelasan tante saya. Saya tentu tidak menerima informasi tersebut. Saya memiliki beberapa teman yang sudah sering bepergian ke Papua. Dari beberapa teman tersebut saya memperoleh cerita lain mengenai Papua. Bagaimana kehidupan masyarakat di pedesaan Papua sangat memprihatinkan. Bagaimana mereka belum tersentuh dengan pembangunan dan mereka harus tinggal dengan infrastruktur yang terbatas. Mereka, seperti halnya penduduk Indonesia lainnya juga merupakan orang yang ramah dan baik hati.

Tante saya tetap bersikeras kalau kehidupan di Papua adalah seperti yang dia jelaskan. Ketika saya tanya kenapa dia sangat yakin dengan penjelasannya itu, dia dengan mantap menjawab kalau dia sering melihat beritanya di televisi. Dia menyaksikan bagaimana segerombolan orang-orang dengan penampilan “primitif” memegang tombak dan panah berperang saling membunuh. Dan dia tidak melihatnya sekali. Dia juga beberapa kali menyaksikan berita kalau orang asing di Papua terbunuh.

Saya yakin kalau banyak orang lain di Indonesia yang juga berfikiran demikian. Tante saya tidak sendirian. Banyak orang meyakini apa yang mereka lihat di TV. Beberapa hari lalu, saya juga bertemu dengan kenalan saya dari Papua. Kenalan saya adalah putra asli Papua, dan dia datang menemui saya bersama dengan kakaknya. Kakaknya sudah lama tinggal di Jakarta. Kurang lebih sudah 20 tahun dan dia tinggal beserta anak dan istrinya. Dia bercerita kalau anak-anak di kompleks dimana dia tinggal suka bertanya mengenai Papua “apakah benar di Papua masih banyak suku primitif yang memakai koteka dan hidup meramu dan berburu?” atau pertanyaan “apakah di Papua suka terjadi perang suku dengan menggunakan tombak?” menurut dia, banyak orang di Jakarta membayangkan kalau seluruh Papua dihuni oleh orang-orang yang “primitif”. Mungkin yang tidak terbelakang hanya pendatang dan orang-orang pemerintahan saja. Dia tidak menyalahkan orang-orang yang berfikiran demikian, karena mereka belum pernah melihat secara langsung. Mereka hanya mengetahuinya dari Media.

Dan selama ini Media hanya mengangkat sisi “gelap” dari Papua. Medialah yang menciptakan image yang demikian. Padahal kata primitif adalah kata yang sangat menyakitkan. Saya jadi teringat kalau 1 minggu lalu saya menonton acara “primitive runaway” di salah satu TV swasta. Waktu itu saya sedang di Bandara Polonia lagi mengukuti pesawat saya yang tertunda beberapa jam. Tayangan tersebut kalau tidak salah menayangkan kehidupan suku asli di pedalaman Jambi. Acara tersebut cukup bagus menurut saya, hanya saja judul acaranya agak menggangu sedikit. Saya sendiri sudah pernah bertemu langsung dengan suku anak rimba di Jambi, dan saya merasa biasa saja. Mereka sama dengan kita, mereka juga manusia.

Balik lagi ke teman kakak saya tadi, dia tidak marah jika orang berfikiran demikian. Masih banyak hal yang musti dibenahi di Papua adalah fakta. Orang-orang papua yang berpendidikan seharusnya lebih aktif lagi mempromosikan sisi lain dari Papua. Misal, Papua memiliki keindahan alam yang luar biasa. Papua memiliki potensi Pariwisata yang besar: laut, hutan tropis, flora dan fauna, gunung, dan banyak lainnya. Mungkin rekan-rekan semua sering mendengar mengenai Raja Ampat. Raja Ampat adalah salah satu tujuan favorit bagi para penyelam dunia. Pesona bawah laut yang luar biasa Indah. Papua juga dikenal dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya. Disana kita bisa melihat beragam macam burung, sehingga wisata “bird watching” juga menjadi primadona.

Papua belum banyak dijadikan sebagai tujuan wisata bagi wisatawan domestik. Saya yakin hal tersebut bukan dikarenakan “ketakutan” untuk datang ke Papua atau karena “ketidaktahuan” dengan keindahan Papua, tetapi lebih dikarenakan biaya jalan-jalan kesana terbilang mahal bagi orang Indonesia kebanyakan. Sebagai contoh, jika kita hendak ke Papua Barat, kita harus terbang ke Monokwari dulu, dan harga tiket pesawat langsung dengan Merpati untuk sekali jalan adalah sekitar 2 juta. Jika kita berangkat jam 10 malam dari Jakarta kita baru akan sampai jam 8.30 pagi waktu Papua. Sedangkan jika naik Garuda, hanya bisa sampai di Makasar. Setelah Makasar kita harus menyambung lagi dengan Merpati. (Garuda tidak memiliki penerbangan langsung ke Monokwari). Harga tiket pesawat Garuda ke Makasar berkisar 1,7-2 juta, dan dari Makasar ke Monokwari dengan Merpati biayanya adalah sekitar 800 ribu- 1 juta rupiah. Belum jika kita harus menghitung transportasi lokal. Belum jika anda berniat untuk ke Sorong, maka anda harus naik pesawat kecil lagi dengan biaya sekitar 1 jutaan satu kali jalan. Teman saya yang sudah pernah terbang dari Monokwari ke Teluk Bintuni bilang kalau harga tiket pesawat sekali jalan adalah berkisar 900 ribu satu juta. Terbayangkan sekarang kalau jalan-jalan ke Papua itu mahal. To be continued.

Foto diambil dari http://tourismbeauty.blogspot.com/2010_03_01_archive.html dan http://gallerywisatapapua.blogspot.com/2010/04/foto-dani-valey-baliem-wamena-papua.html

2 thoughts on “Papua dan Misteri-nya

  1. Papua memang indah, masyarakat papua ramah-ramah saya pernah hidup di beberapa distrik di Yahukimo, di Merauke juga lama rata-rata mereka senang diajak berkomunikasi. Aturan yang ada khusus untulk kalangan mereka. Tak seseram apa yang di ceritakan. Yang diperlukaqn adalah bagaimana mengangkat masyarakat papua yang berada di pedalaman menjadi lebih makmur, sejahtera dan menghargai budaya mereka, indegenous yang dimiliki oleh mereka.

  2. bagi gue papua itu seperti EMAS yg berharga yg harus benar2 dijaga kedaulatan ya dan klo bisa pemerintah indonesia STOP PT Freeport karna pt Freeport tidak bisa memajukan papua dan NKRI JADI buat apa di teruskan proyek freeport itu klo tidak bisa mensejahterakan papua dan NKRI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s