Manusia hanyalah “manusia”

Dulu sewaktu remaja, saya sering berebut remote TV dengan ayah saya. Dia sangat suka menonton berita. Dan hobinya menonton acara diskusi politik di TV. Dia juga rajin beli koran, dan tak jarang dia juga memberikan komentarnya mengenai acara debat atau dialog yang dia tonton di TV. Sementara, saya pada usia remaja tersebut, lebih menyukai menonton sinetron (ayah saya pasti senang jika mengetahui bahwa sudah hampir 10 tahun saya tidak lagi menonton sinetron) dan acara musik di televisi. Sering saya mengalah, namun ada kalanya saya tidak terima dan ngotot ingin menonton, sehingga beliaulah yang mengalah. Saya tidak habis fikir kenapa dia sangat menyukai berita politik. Bagi saya, siapapun yang memerintah tidak akan membuat perbedaan akan nasib kami. Nasib rakyat kecil pada umumnya. Ayah saya seorang yang intelek, dia sangat suka belajar, dia memiliki perpustakaan kecil di rumah, dan dia adalah sosok yang idealis. Dia menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan memegang teguh kejujuran. Karena idealismenya tersebut sering dia tersingkir dari banyak kesempatan. Sementara sahabat atau rekan sekantornya yang tidak idealis, memiliki karir yang melesat dengan pesat. Dan tak jarang kita sekeluarga harus membayar nilai dari kejujuran tersebut.

Berbicara mengenai idealisme, masihkah ada pemimpin di Indonesia ini yang idealis? pemimpin yang dengan teguh memegang amanat rakyat dan benar-benar berjuang untuk kemajuan bangsa? adakah pemimpin yang baru makan setelah mengetahui bahwa rakyatnya tidak ada yang kelaparan? terus terang saya menyangsikan hal tersebut. Banyak pemimpin sekarang terbuai oleh jabatan, oleh fasilitas yang diberikan kepadanya. Ketika kita memegang kekuasaan, orang tunduk dan hormat kepada kita. Kita mendapatkan perlakuan khusus, kita mendapatkan segala fasilitas terbaik dan kemudahan. Dan tak jarang banyak godaan yang datang. Dengan jabatan dan kekuasaan yang dipegang pemimpin dapat melakukan apapun. Benar, bahwa ujian terbesar tersebut adalah ketika sedang berada diatas. Dan tak jarang orang yang belum naik ke posisi atas berteriak-teriak akan nasib rakyat, namun ketika sudah menikmati indahnya surga “kekuasaan” orang menjadi lupa dengan tujuan semula. Atau ada juga orang yang tetap mempertahankan idealismenya namun orang tersebut akan terpinggirkan dari kancah politik. Saya memiliki sahabat, seorang perempuan dan berusia dibawah 30 tahun. Dia sekarang menjabat sebagai wakil rakyat disalah satu provinsi di Indonesia. Saya meyakini dengan sepenuh hati bahwa tujuan sahabat saya ketika mencalonkan diri adalah murni untuk memperjuangkan nasib rakyat agar lebih baik. Dia memiliki segudang mimpi mengenai pembangunan di daerahnya. Tetapi kadang niat baik tinggal menjadi niat baik ketika sistem dan sebagian besar orang yang duduk didalam sistem tersebut tidak memiliki tujuan yang sama. Saya tidak mengkritisi siapapun, saya belum bisa berkomentar karena saya belum pernah disana. Bisa jadi saya juga akan melakukan hal yang sama ketika saya duduk dipuncak kekuasaan tersebut. Saya yang belum pernah merasakan “indah”-nya godaan tidak mempunyai hak untuk berkata kalau saya bisa lebih baik dari orang-orang yang sudah diberikan kesempatan untuk memegang tampuk kepemimpinan.

Kembali lagi kepada pertanyaan saya, adakah pejabat-pemimpin yang masih idealis untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran terlepas akan resikonya? jawabannya ternyata ‘ada’. Sebelumnya, saya pernah bilang kalau saya sedang membaca buku “Menapak Jejak Amien Rais” yang ditulis oleh putri Amin Rais, Hanum Salsabiela Rais. Dibuku tersebut Hanum bercerita mengenai bapaknya. Bagaimana “keras kepala” bapaknya kadang menjadi ‘ancaman’ bagi Amin sendiri dan keluarganya. Amin pernah diancam untuk dibunuh dan Rumah ibundanya di Solo pernah di bakar. Tetapi Amin tetap dengan keyakinannya: berjuang untuk rakyak dan untuk kebenaran meskipun ada fihak-fihak tertentu yang merasa terancam dengan sepak terjangnya. Percayakah anda dengan yang ditulis oleh anak Amin Rais? Saya sendiri percaya. Saya bukanlah fans Amin Rais. Saya sudah bilang diatas kalau saya tidak suka “politik”. Saya mengenal Amin Rais sebagai tokoh reformasi, dan beberapa kali saya sempat menonton dia berbicara di TV. Saya nonton secara tidak sengaja, tentu saja karena kalah rebutan TV dengan ayah saya. Mau tak mau saya jadi ikut menonton berita meskipun saya tidak terlalu suka. Tetapi sekarang tentu saja berbeda. Meskipun saya masih tidak terlalu menyukai politik yang menurut saya terlalu banyak drama dan intrik, untuk beberapa berita dan kasus tertentu saya masih mengikuti. Jika anda telah membaca buku tersebut mungkin anda berpendapat sama dengan saya. Entah kenapa saya percaya dengan apa yang tertulis didalam buku tersebut. Saya merasa apa yang ditulis di dalam buku tersebut adalah jujur apa adanya. Sama halnya saya percaya dengan pidato Sri Mulyani di Kuliah singkat yang dia sampaikan sebelum dia bertolak ke Amerika. Saya terharu dan menangis mendengar curahan hati Sri Mulyani. Saya percaya dia adalah sosok pemimpin yang sudah melakukan upaya terbaik demi kemajuan bangsa.

Saya meyakini pada prinsipnya manusia adalah manusia. Manusia memiliki sisi baik dan juga memiliki sisi buruk. Hanya saja kadang orang lupa, sehingga sisi “buruk”nya lebih mendominasi dan menguasai dirinya. Untuk orang-orang jenis ini, kita bisa memberikan peringatan dan menyadarkan mereka kembali. Menghujat bukanlah solusi. Salah satu cara untuk mengantisipasi pejabat yang sewenang-wenang adalah dengan meningkatkan pengetahuan kita mengenai hak kita sebagai warga negara. Berusaha mempelajari aturan yang berlaku, dan menjadi kritis dengan segala yang terjadi disekeliling kita. Misal, jika kita tahu tentang aturan mengenai perpanjangan SIM, maka anda bisa bersikeras dan mendebat balik petugas tersebut setelah anda memenuhi semua persyaratan tetapi masih dipersulit. Anda juga bisa mengancam balik untuk menindak mereka jika hak anda masih belum dipenuhi. Tetapi ketika kita tidak mengerti mengenai prosedur maka anda akan mengalami banyak kesulitan. Banyak contoh lain menafaat orang yang mengerti dengan haknya dengan orang yang tidak. Contoh lain, sebagai penumpang pesawat saya tidak mengetahui hak saya sebagai konsumen. Pernah saya ditinggal pesawat karena saya terlambat Check in di Bandara. Pesawat saya berangkat jam 6 pagi. Saya tiba di Bandara jam 5.30. Antrian masuk dan antrian di counter check-in luar biasa panjang. Saya baru mendapat giliran pada jam 5.45. Petugas check in bilang kalau saya sudah tidak bisa lagi naik pesawat dan diminta untuk melapor ke bagian ticketing untuk penerbangan berikutnya. Saya merasa ini adalah kesalahan saya, maka saya menerima. Saya mengikuti prosedur dan baru bisa terbang setelah menunggu kurang lebih 2 jam (meeting di lokasi tujuan menjadi tertunda). Tetapi saya tergelitik dengan ketidakadilan maskapai penerbangan adalah ketika mereka terlambat dan saya tidak mendapatkan kompensasi apapun. Bahkan petugas di counter check in juga tidak memberitahu saya kalau pesawatnya delay. Untungnya saya meneliti boarding time di boarding pass saya. Dan saya kaget kok waktunya molor satu jam. Saya konfirmasi ke petugas check- in baru mereka membenarkan kalau pesawatnya delay satu jam.

Kemarin ketika ngobrol-ngobrol dengan teman kantor saya, dia bilang, kalau dalam undang-undang (lagi-lagi saya tidak tahu undang-undang mana yang dia maksud), maskapai penerbangan tersebut berdasarkan peraturan harus memberikan kompensasi seperti minuman atau makanan karena keterlambatan satu jam. Well, saya akan mencari tahu lebih lanjut mengenai ini. Jika ada anda sedang membaca blog ini dan tahu mengenai hal tersebut maka saya akan senang jika anda menjelaskannya kepada saya.

Ulasan terakhir mengenai hal yang saya tulis diparagraf pertama diatas. Sebelum kita menilai orang lain melakukan hal yang baik atau yang buruk, sebaiknya kita melihat diri kita dulu. Mungkin kita bukan presiden, tetapi ditempat kerja kita, kita mungkin memiliki otoritas untuk memutuskan sesuatu, dan keputusan kita akan berdampak pada satu atau dua orang staff di kantor, atau bahkan berdampak lebih, sudah kita membuat keputusan yang adil? mengenai pekerjaan, sudahkah kita bekerja maksimal ditempat kerja? apakah kinerja kita sudah bagus? jika anda pegawai publik maka sudahkah anda melayani masyarakat dengan baik? apakah anda menggunakan aset kantor dengan baik? tidak menggunakan telfon kantor untuk kepentingan pribadi? perubahan harus dimulai dari hal-hal kecil. Saya jauh dari sempurna. Ada kalanya saya agak malas bekerja dan performance saya menurun. Tetapi dengan saya menulis ini saya merasa diingatkan, banyak hal yang harus saya perbaiki pada diri saya. Dan jika semua orang memperbaiki dirinya maka dunia ini akan menjadi lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s