Peternak Sukses seperti Nicole Kidman

Semalam saya menonton film yang dibintangi oleh Nicole Kidman dan Hugh Jackman, Australia. Film ini sebenarnya bukan film baru, namun entah kenapa saya belum sempat menonton-nya. Setting film ini adalah Australia Utara sebelum perang dunia II. Tidak pernah terbayangkan jika Australia negara maju seperti yang kita kenal saat sekarang dulunya adalah negara yang juga tidak jauh berbeda dari negara kita.

Film ini sangat menarik karena terdapat unsur magis dari suku aborigin. Film yang romantis yang bercerita mengenai perjuangan seorang wanita mempertahankan peternakannya. Film yang penuh dengan petualang dan mengajarkan kita banyak hal mengenai persamaan.

Pernahkah terbayangkan oleh Anda jika dulu wanita bahkan di Australia ruang geraknya sangat terbatas, berbeda dengan laki-laki. Jika anda menonton film Monolisa Smile yang dibintangi oleh Julia Robert situasinya juga agak mirip. Situasi perempuan juga tidak semerdeka seperti sekarang.

Tetapi percayakah anda bahwa masih banyak perempuan yang hidupnya masih sangat menderita dan tinggal disituasi yang tidak berbeda dengan dalam film yang disebutkan diatas? Dalam film Australia, Nicole Kidman adalah keturunan bangsawan, sehingga meskipun dia perempuan, dia masih dihormati. Tetapi jika saja dia bukan dari keluarga kaya dan juga tidak cantik maka dia pasti akan diperlakukan dengan buruk. Kurang lebih satu bulan yang lalu, di Al jazeera saya menonton berita mengenai betapa menderitanya kehidupan wanita di Banglades. Mereka berasal dari keluarga miskin dan tidak bisa membayar lunas mahar kawin kepada keluarga suaminya. Dan meskipun sudah menikah selama lebih dari 10 tahun, si perempuan tetap ditagih untuk melunasi maharnya oleh keluarga suami. Tak jarang si perempuan/istri disiksa.

Di indonesia kita juga menemui beberapa kasus kekerasan dalam rumah tangga, tetapi biasanya perempuan tersebut akan pulang ke rumah orangtuanya dan pada umumnya orangtua akan menerima kembali anaknya. Tetapi bisakah anda membayangkan bahwa pada cerita perempuan miskin Banglades diatas, mereka tidak bisa pulang ke rumah orangtuanya, karena tidak diterima oleh orang tua mereka dengan alasan mereka tidak bisa membiayai hidup perempuan yang merupakan putri mereka dan anak dari perempuan tersebut yang merupakan cucu mereka. Belum mereka juga harus menanggung malu karena merupakan suatu aib jika si anak meningalkan suaminya dan tinggal dengan orangtua. Perempuan akan dianggap pihak yang bersalah yang menelantarkan suaminya. Akhirnya banyak diantara perempuan tersebut yang bertahan tinggal di neraka dunia, disiksa hampir setiap hari oleh suami dan keluarga suaminya. Tetapi mereka bertahan demi anak. Jika mereka bercerai siapa yang akan memberikan nafkah kepada anak-anaknya? Yang sebenarnya mereka tetap menikahpun suami masih jarang memberikan nafkah.

Salah satu cara untuk merubah situasi ini adalah melalui pendidikan. Dengan tingginya tingkat pendidikan perempuan akses mereka terhadap pekerjaan yang bagus juga akan tinggi. Dan ketika perempuan memiliki kekuatan ekonomi maka kondisi posisi tawar mereka dalam rumah tangga akan meningkat.

Balik lagi ke kehidupan Nicole Kidman didalam film tersebut, saya terkesima dengan banyaknya sapi yang dia miliki dan betapa luasnya peternakan yang dia punya. Apakah di Indonesia kita akan menemukan peternak yang seperti itu? Jawabannya mungkin ada tetapi sangat jarang. Di Indonesia umumnya peternak hanya memiliki 1-4 ekor sapi. Atau 5-10 ekor kambing. Jarang peternak yang memiliki ratusan bahkan ribuan sapi seperti yang dimiliki oleh Nicole Kidman di dalam film tersebut. Saya sendiri seperti yang sudah sering saya tulis, saya bermimpi untuk menjadi peternak besar, tetapi bukan industri besar yang hanya mencari keuntungan. Saya ingin memiliki peternakan liar seperti di dalam film tersebut.

Ketika saya sampaikan ide ini kepada teman-teman saya berbagai macam reaksi yang saya terima. Banyak yang menganggap mimpi saya adalah lelucon. Dan bagi mereka bekerja di sektor peternakan adalah pekerjaan kasar dan kotor dan tidak “bergengsi”

Apakah anda pernah meninton film McLeod’s Daugther? saya menginginkan hal yang sama meski ide untuk membuka peternakan seperti itu di Indonesia terkesan sangat susah. Belum jika kita berbicara tentang akses terhadap kredit dan juga kebijakan yang belum mendukung.

Peternakan sudah ada semenjak masa Neolitikum. Yaitu ketika orang sudah mulai menetap dan tidak lagi hidup mengembara. Jurusan peternakan sendiri banyak ditawarkan oleh Universitas baik di dalam negri maupun diluar negri. Terus hewan apa yang bisa kita ternakan? Jawabannya adalah sangat banyak: anda bisa beternak sapi, kambing, kerbau, ayam, bebek dan banyak hewan lainnya. Saya sendiri jika sudah memiliki lahan dan modal yang cukup tertarik untuk beternak Rusa. Katanya rusa boleh diternakan. Dan secara hitungan ekonomi katanya juga menguntungkan.

Di indonesia, metode beternak masih sangat beragam. Di daerah di pulau Jawa karena kepemilikan lahan yang sempit, maka umumnya hewan dikandangkan. Sedangkan didaerah Sumatra seperti di Aceh masih banyak hewan yang dilepas. Demikian juga di Indonesia timur dan banyak daerah di Sulawesi. Saya sendiri masih belum banyak mempelajari mengenai peternakan. Padahal saya harus mulai dari sekarang jika saya benar-benar ingin menjadi petani.

Foto-foto diunduh dari Internet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s