Naga Hijau di Danau Laut Tawar

Saya pernah berjanji kalau saya akan menuliskan informasi mengenai akomodasi atau hal-hal lainnya di tempat yang pernah saya kunjungi.

Kali ini, setelah berusaha mengingat dan membayangkan sebuah danau kecil, udara yang dingin, pemandangan yang luar biasa, dan kopi yang enak, akhirnya tangan saya mulai mengetik, dan saya akan bercerita mengenai tempat itu. Namanya adalah Takengon. Takengon adalah ibukota Aceh Tengah, provinsi Aceh. Takengon terkenal dengan kopi dan danau laut tawarnya. Takengon juga terkenal dengan pacuan kuda, dan selain danau laut tawar juga ada tempat menarik lainnya. Puteri Pukes dan Pantan Terong. Dua tempat terakhir tidak pernah saya kunjungi. Ketika saya ditakengon, saya hanya berkeliling kota, kota kecil yang bisa anda kelilingi dalam waktu setengah hari. Ketika disana saya menginap di sebuah Hotel Renggali, yang pernah menjadi hotel terbagus di Takengon.

Sekarang sudah banyak hotel baru yang bermunculan di Takengon, khususnya di daerah pusat kota. Hotel-hotel yang selain bangunannya baru, mudah akses makanan, biayanya juga lebih murah dari hotel renggali. Saya lupa-lupa ingat harga yang saya bayar ketika saya menginap di hotel Renggali dulu, kalau tidak salah 250,000 rupiah per malam. Harga yang lebih mahal kalau tidak salah juga ada. Keistimewaan di hotel Renggali ini adalah, hotelnya besar, halaman luar dan dalam hotel bersih, ada restoran kecil dimana sarapan pagi disajikan, dari restoran kecil ini anda bisa menyaksikan indahnya danau takengon. Sangat menyenangkan duduk di pagi hari, menyeruput kopi panas, menikmati pagi yang sunyi dan menatap danau yang diselimuti kabut. Menyaksikan kabut beranjak seiring dengan bersinarnya mentari pagi.

Jika anda menginap di hotel Renggali, anda bisa minta ke petugas hotel untuk ditempatkan di kamar dengan pemandangan langsung menghadap ke danau. Anda bisa menyaksikan mata hari terbit dari sini.

Hanya ketika anda sudah memasuki kamar hotel anda, anda akan kecewa. Ketika saya disana, karpet tempat saya menginap sudah rusak, kotor, berwarna pudar, dan kusam. Handuk, meskipun sudah dicuci, namun handuk tersebut sudah usang, bulukan, yang jika saja tidak terpaksa saya tidak mau memakainya. Saya menginap beberapa hari sewaktu disana, dan dimalam terakhir saya, sekitar jam 12 malam, saya asyik membaca buku, tiba-tiba mati lampu. Suasana langsung berubah mencekam. Telinga saya menjadi sangat sensitif dan suara hewan malam membuat saya ketakutan. Hotel besar dan luas tersebut hanya diisi oleh beberapa orang. Sehingga saya langsung tidur dan dibangunkan oleh matahari terbit dari danau. Syukurlah saya tidur nyenyak malam itu.

Danau laut tawar takengon memiliki daya pikat tersendiri.  Danau sunyi dan seakan menyimpan sejuta misteri. Di danau ini dulu pernah diisukan dihuni oleh seekor naga hijau. Naga hijau ini pernah dilihat oleh warga setempat dan katanya beritanya pernah menghiasi surat kabar lokal.  Saya mendengar cerita ini dari supir mobil rental, ketika saya mengkonfirmasi ke sahabat saya yang warga takengon, dia bilang kalau seluruh orang Aceh sangat familiar dengan cerita itu.  Itu seperti cerita yang diturunkan turun temurun.  Dia sebagai penduduk asli tidak pernah melihat, orang tuanya juga tidak pernah melihat, dan seingat dia nenek dan buyutnya juga belum pernah bertemu dengan si Naga hijau.

Karena potensi lahannya, Takengon sudah dimasuki oleh belanda pada awal abad 19an. Disana belanda mengembangkan kopi arabica, beserta fasilitas pengolahannya. Selain bertani kopi, penduduk takengon bertani kayu manis dan cengkeh. Sahabat saya yang berasal dari takengon juga memiliki kebun kopi, kayu manis dan cengkeh. Mereka pernah mengalami masa kejayaannya dimana harga cengkeh dan kayu manis sangat tinggi. Harga kopi juga bagus. Jika anda ke Takengon anda akan terkesima melihat banyaknya rumah bertingkat dan mewah. Petani di takengon secara umum banyak yang kaya. Tetapi sahabat saya meralat statement tersebut, dia bilang kalau dulu kami pernah kaya. Namun sekarang udah tidak lagi. Kayu manis, cengkeh sudah tidak ada harga lagi. Menurut dia, anak-anak dulu beruntung, tidak seperti anak sekarang. Dia bisa disekolahkan oleh orang tuanya ke kota Medan dan memperoleh gelar Sarjana karena hasil ladangnya. Namun sekarang kebun tersebut sudah tidak bisa diandalkan, ditambah dengan usia orangtuanya yang bertambah tua sama halnya seperti tanaman kopi. Untung sahabat saya tersebut udah bekerja dengan gaji yang lumayan, sehingga dia bisa membiayai kuliah dua orang adiknya.Untuk makanan, di Takengon anda tidak perlu khawatir kekurangan makanan. Disini banyak warung makan, khususnya warung padang. Sate padang, nasi goreng, roti dan pisang bakar adalah contoh makanan yang bisa anda temukan pada sore dan malam hari. Saya akan sudahi disini karena saya harus berangkat kerja, lain kali saya sambung lagi.

Foto naga di unduh dari http://www.all4myspace.com/layouts-2.0/dragon-myspace-layouts-2.0/6, dan 2 foto lainnya koleksi pribadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s