Persaingan Tenaga Kerja Global

Saya memiliki kenalan, satu laki-laki warga Amerika keturunan Turki berusia 27 tahun, yang baru saja menamatkan pendidikan S2 jurusan Ekonomi di Amerika.  Satu lagi laki-laki berusia 28 tahun, berkembangsaan German.  Dia juga berpendidikan S2 dari sekolah bisnis di German.  Saat ini dia bekerja disalah satu organisasi besar dunia di Dunia dan berkantor di Washington DC.   Cerita saya akan saya sampaikan terkait dengan dua orang ini adalah cerita mengenai peluang pekerjaan, yang mungkin bisa kita refleksikan dengan situasi di Indonesia.

Dengan pria pertama, saya bertemu dengannya sewaktu liburan, dan perkenalan tersebut berlanjut menjadi pertemanan.  Namun saya tidak bisa bilang kalau kita bersahabat, karna kita belum cukup akrab. Pembicaraan saya dengan dia hanya sebatas pekerjaan, sekolah, dan juga pembicaraan ringan mengenai politik dan ekonomi.   Dengan pria kedua, saya bertemu untuk urusan berhubungan dengan pekerjaan.  Kita bertemu beberapa kali, dan sampai sekarang masih berkomunikasi.

Dari mereka berdua saya mendapatkan informasi kalau memperoleh sebuah pekerjaan tidaklah mudah bagi mereka.  Pria pertama, kita sebut saja Oman, sudah lulus sekitar 4 bulan yang lalu dari pendidikan master-nya.  Menjelang kelulusan, dia sudah mengirimkan lamaran pekerjaan ke beberapa universitas, perusahaan swasta dan juga lembaga research.  Dengan kemampuan bahasa inggris penutur asli dan juga kewargaan Amerika yang dimilikinya, dia bisa mencari kerjaan kemanapun di dunia.   Tanpa batas.  Apalagi mengingat sangat banyak perusahaan Amerika yang merajai ekonomi dunia.  Oman juga tidak pilih-pilih pekerjaan.  Niatnya bekerja adalah untuk bisa mengaplikasikan ilmunya. Dia tertarik dengan pendidikan.  Dan dia berharap bisa mengajar dinegara berkembang atau negara ketiga.  Dia percaya dengan pendidikan dia bisa menolong banyak orang.   Tetapi sampai saat ini dia masih belum mendapatkan pekerjaan.  Dia bahkan belum mendapatkan kesempatan untuk wawancara.  Terakhir saya berbicara dengan dia lewat Skype, saya menangkap kesan lelah, bosan, dan frustasi.  Dia juga tidak habis fikir kenapa dia masih belum mendapat tawaran pekerjaan.  Dia memang belum memiliki pengalaman kerja fulltime sebelumnya, tetapi dia memiliki pengalaman magang untuk penelitian di beberapa negara.   Dia juga berpenampilan menarik dan percaya diri.

Menurut kompas.com tanggal 7 November 2009,  Jumlah pengangguran di AS hingga kini telah meningkat menjadi 15,7 juta.  Yaitu lebih dari 10 persen.  Bisa jadi itulah alasan kenapa kenalan saya tersebut susah memperoleh pekerjaan.

Teman saya kedua, sebut namanya Jean, kontrak kerjanya akan berakhir di akhir di bulan September ini.  Dan mengingat situasi ekonomi sulit seperti saat ini dia khawatir dia akan susah mendapatkan pekerjaan.  Menurut saya, dia tidak seharusnya khawatir.  Usia dia masih sangat muda, dan sudah memiliki banyak pengalaman kerja.  Dia juga menguasai tiga bahasa dunia, semuanya fasih, dia berbahasa german, perancis dan inggris. Bagi orang seperti dia, pilihannya terbentang luas, dia bisa bekerja dimanapun.  Tetapi meskipun dengan segala kelebihan yang dia miliki dia bilang kalau dia tetap gamang.

Sekarang mari kita lihat peluang lapangan kerja di negara kita.  Pada salah satu artikel yang pernah saya tulis, saya memiliki seorang sepupu laki-laki, lulusan PTN di Jakarta dengan jurusan Psikologi.  Setelah lulus, dia menunggu 3 bulan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan dengan gaji standard S1 di Jakarta.  Perusahaan tempat dia bekerja, adalah perusahaan retail yang cukup besar di Indonesia.  Setelah menjalani satu bulan pelatihan di Jakarta, dia ditempatkan di luar ibukota.  Dia hanya sanggung bekerja 5 bulan.  Alasan dia tidak cocok dengan manajemen perusahaan.  Menurut dia perusahaan sangat tidak adil.  Waktu dan tenaga yang dia korbankan tidak sebanding dengan pemasukan yang dia dapat.  Dia kembali ke rumahnya, Jakarta.  Kali ini dia memutuskan kalau dia ingin bekerja di Jakarta saja.  Sehingga dia tidak harus mengeluarkan biaya untuk tempat tinggal dan juga makan.  Paling dia hanya menanggung makan siang. Sedangkan siang dan malam dia bisa makan di Rumah. Tetapi percaya atau tidak, setelah 1,5 tahun berlalu, dia masih belum memperoleh pekerjaan.   Menurut Kompas.com, tanggal 12 November 2009, Angka pengangguran di Indonesia pada 2010 diperkirakan masih akan berada di kisaran 10 persen. (sama dengan Amerika dong).

Dengan yang namanya globalisasi tidak menutup kemungkinan semakin meningkatnya jumlah pekerja asing di Negara kita (dan juga Negara miskin serta Negara berkembang lainnya).  Pekerja dari Negara maju mungkin saja mau dibayar lebih rendah dari gaji yang seharusnya mereka terima di negri-nya.  Hal ini dimungkinkan karena biaya hidup di Negara berkembang relative lebih rendah dari pada di negaranya.  Belum fasilitas dan juga perlakuan istimewa yang diperuntukan bagi pekerja asing. Hal ini menjadi daya tarik sendiri bagi orang-orang dari Negara maju untuk bekerja di Negara berkembang. Atau kompetisi tenaga kerja juga bisa berasal dari Negara berkembang lainnya seperti Malaysia, Filipina, dan India.  Saya pernah bertemu dengan salah seorang pegawai perusahaan minyak dan gas ternama dan dia bercerita kalau banyak manager di kantornya berasal dari India dan Filipina.

Yang harus kita fikirkan kedepan adalah bagaimana kita bisa meningkatkan daya saing kita sehingga dalam situasi ekonomi seperti apapun kita akan tetap menang dalam persaingan.  Dan bagi rekan-rekan yang saat membaca artikel ini sedang belum bekerja, saya berharap semoga anda bisa segera memperoleh pekerjaan yang anda harapkan.  Dan di dalam masa menunggu, anda bisa mengikuti kursus bahasa asing atau kursus singkat lainnya yang dapat menunjang karir anda ke depan. Untuk yang sudah bekerja, jika anda memiliki waktu luang dan dana yang berlebih, anda juga sebaiknya mengikuti pelatihan, kursus atau bahkan sekolah lagi.  Sukses bagi kita semua.  Jangan pernah menyerah.

Foto di ambil dari internet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s