Bumi Manusia

People Change. Ketika saya SMP dulu, saya suka membaca buku sastra. Saya rajin meminjam buku ke perpustakaan daerah. Saya membaca buku karangan Marah Rusli, Hamka, SutanTakdir Ali Syahbana,  Nur Sutan Iskandar, NH Dinni, dan banyak penulis lainnya yang saya sendiri tidak ingat. Judul buku yang sudah saya baca juga cukup banyak, diantaranya: Salah Asuhan, Anak Perawan Disarang Penyamun, Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Azab dan Sengsara, Dian jang Tak Kundjung Padam, Siti Nurbaya, Hulu Balang Raja, dan banyak lainnya. Banyak dari cerita itu yang sudah saya lupakan.  Saya hanya bisa mengingat beberapa cerita dari buku yang pernah saya baca.

Saya juga suka membaca cerpen. Ketika SMP pula saya belajar dan mengenal melukis. Bahkan tugas akhir kesenian saya yang saya serahkan ke guru seni saya adalah lukisan seorang pahlawan. Lukisan cat air yang saya bingkai dengan bingkai kaca. Lukisan pertama saya. Meskipun saya hanya mendapatkan nilai 7,5 atas karya tersebut. Padahal awalnya saya berharap mendapatkan nilai 8. Saya tetap bangga. Dan ketika sekolah menengah pertama berakhir, saya bermaksud untuk masuk ke sekolah menengah atas seni rupa, saya tidak tertarik belajar di sekolah umum biasa. Namun orang tua saya menentang keinginan tersebut. Menurut mereka, menjadi seniman sama tidak memiliki masa depan.

Saya ingat bagaimana nyokap menjelaskan panjang lebar dan memberikan beberapa contoh dari orang-orang yang saya kenal. Orang-orang yang masuk ke sekolah seni namun berakhir menjadi seniman miskin. Ya, fakta hidup adalah apapun yang kita kerjakan akan dinilai dari angka nominal yang dihasilkan. Saya akhirnya bersekolah di sekolah menengah umum. Saya meninggalkan lukisan secara perlahan. Lagi-lagi menurut nyokap  membeli alat lukisan sama dengan pemborosan. Lebih baik uang tersebut saya tabung atau saya menyibukan diri dengan hal yang lebih bermanfaat. Seperti kursus bahasa, kursus kimia, matematika, dan sejenisnya. Ketika akan menginjak tahun ke tiga, semua murid harus memilih kelas sesuai dengan minatnya. Kelas IPS atau IPA. Saya sendiri tertarik dengan kelas Bahasa. Sayang di sekolah saya tidak terdapat kelas bahasa. Tetapi di SMA lain ada. Saya menyukai bahasa, dan saya ingin menguasai 3 bahasa dunia pada waktu itu. Saya ingin menguasai bahasa Inggris, Perancis, dan German. Saya sempat ingin pindah ke SMA yang ada sekolah bahasa tersebut. Namun lagi-lagi saya mendapat tanggapan yang sama dari nyokap saya. saya tidak dibolehkan pindah.

Saya akhirnya  memilih kelas IPS.  Ketika nyokap saya tahu kalau saya memilih IPS lagi-lagi saya ditentang, dan dengan sedikit bujuk rayuan, saya diminta masuk ke kelas IPA. Alasan nyokap meminta saya di kelas IPA dia memimpikan  saya masuk sekolah kedokteran. Kakak saya yang jenius tidak mau menjadi dokter, dia lebih tertarik dengan angka. Dia lebih menyukai statistik atau matematika. Sehingga harapan terakhir orang tua saya jatuh ke saya. Saya akhirnya masuk ke kelas IPA. Dan saya sangat tertekan selama duduk di kelas tersebut. Saya tidak suka dengan fisika, kimia, dan matematika. Yang menarik bagi saya adalah ilmu sastra kalau tidak ilmu sosial seperti sejarah, sosiologi, dan antropologi. Saya selalu mendapatkan nilai terbaik untuk 3 mata pelajaran tersebut, namun tidak untuk fisika, matematika, dan kimia. Saya pernah berfikir kalau saya tidak akan lulus SMA. Dan itu membuat saya takut.

Saya mulai meninggalkan kebiasaan yang saya cintai, membaca buku, baik novel biasa atau buku sastra. Saya juga tidak punya waktu untuk belajar bahasa seperti yang saya impikan. Padahal tidak jauh dari rumah saya, salah satu universitas swasta memiliki lab baru dan membuka kursus bahasa Jepang dan bahasa Jerman. Tentu saja saya tidak bisa mengikutinya, karena seluruh jadwal saya penuh dengan kursus ilmu eksak.

Pagi ini saya sedang membaca buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Bumi Manusia”. Buku yang dipinjamkan oleh seorang teman, dan buku yang menurut beberapa sahabat saya  adalah buka wajib untuk dibaca. Jenis buku yang sudah lama tidak saya buka lagi. Sehingga ketika membaca buku ini saya terbayang masa lalu ketika saya berumur 15 tahun mengantri di perpustakaan umum sambil memangku 3 buku tebal. Saya terharu dan saya tidak habis fikir bagaimana saya sudah melupakan buku seperti ini.

Saya baru membaca sampai halaman 83, dan saya tidak mau menutup buku ini. Saya harus ke kantor, namun saya enggan beranjak dan berhenti membaca. Pada halaman 80an saya mulai merasakan hebatnya tulisan dari Pramudya. Tulisan yang membuat kita berfikir ulang tentang apa itu baik dan buruk. Antara menuruti kata hati atau mengikuti kata orang lain. Buku yang membuat kita berfikir. Buku yang membuat kita merenung. Buku yang harus saya tutup untuk saya baca kembali ketika saya selesai bekerja. To be continued.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s