Lamunan menjadi pebisnis

Saat ini saya berfikir untuk memiliki bisnis sendiri. Mungkin bukan sebagai sumber pemasukan utama hanya untuk pemasukan tambahan. Saya tidak akan pernah bisa mewujudkan mimpi saya memiliki resort dan perkebunan jika saya terus menjadi karyawan dan tidak memiliki usaha tambahan. Selain pendapatan tambahan saya juga ingin memberikan pekerjaan bagi banyak pengangguran di Jakarta.

Dengan menjadi karyawan yang terikat oleh jam kerja minimal 40 jam saya tidak punya banyak waktu untuk bekerja mengelola bisnis. Saya pernah mencoba berwiraswasta dulu, namun belum berhasil. Dan dari pengalaman saya, menjalankan bisnis sebaiknya memiliki mitra, anda akan susah melakukannya sendiri.  Dengan bermitra maka kerugian juga akan ditanggung bersama. Kerjaan juga bisa dibagi sehingga beban anda menjadi lebih ringan.

Namun menemukan mitra bisnis tidaklah gampang. Menemukan orang yang memiliki ide dan semangat yang sama, dan juga berani menaruh modal serta berbagi resiko tidaklah mudah. Itu juga yang menjadi alasan kenapa saya masih belum memulai bisnis seperti yang saya impikan. Beberapa bulan yang lalu sebenarnya saya sudah memulainya, tetapi modal yang saya keluarkan tidak kembali, mitra bisnis saya tidak mengembalikan modal dan juga keuntungan yang seharusnya saya terima. Alasannya simpel, kalau produk yang dia bantu jual tidak laku.

Saya berani mengambil produk tersebut dalam jumlah yang cukup besar karena permintaan rekan bisnis saya, yang masih memiliki hubungan saudara. Dia sebelumnya bilang kalau dia sudah memiliki calon pembeli. Produk yang saya beli hanya setengah dari target calon pembeli yang dia janjikan.  Sehingga alasan “tidak ada pembeli” yang dia sampaikan sangat tidak masuk akal. Balik lagi karena masih ada hubungan keluarga, modal yang sudah saya keluarkan saya relakan, saya tidak pernah memintanya kembali dan dia juga tidak berniat untuk mengembalikannya.

Kelemahan saya adalah saya suka “tidak tega” dan saya juga “kurang tegas”. Jika sifat seperti ini terus saya pertahankan maka saya tidak akan pernah sukses berbisnis. Hitungan untung dan rugi mesti jelas dari awal. Jika tidak maka bisa menjadi sumber perselisihan ketika bisnis sudah berjalan. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik mengembangkan bisnis di Jakarta. Saya berharap suatu saat saya dipindahkan kerja ke luar Jakarta dan saya akan mengembangkan usaha restoran/ cafe di tempat yang baru tersebut. Di Jakarta kompetisinya terlalu berat.

Saya juga berharap dari keuntungan usaha yang saya kembangkan nanti, saya bisa menyisihkan dana untuk pembangunan/ dana sosial. Saya ingin membantu anak-anak miskin yang tidak memiliki biaya sekolah. Saya ingin membuka lapangan pekerjaan di daerah pedesaan. Saya berharap dari keuntungan usaha (perusahaan) saya bisa memberikan penghidupan yang lebih baik untuk beberapa orang. Begitu banyak mimpi, artinya masih banyak PR dan tugas yang harus saya lakukan kedepan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s