Manusia Bebas: Tidak diperintah, Tidak memerintah

Saya tidak sabar menunggu weekend. Bukan karena saya sedang malas bekerja, bukan juga karena saya ingin pergi belanja atau jalan-jalan. Saya berharap weekend karena itu artinya saya memiliki waktu untuk melanjutkan membaca buku Pramudya, Bumi Manusia. Pagi ini ketika saya bangun dan mengetahui kalau hari ini adalah hari Sabtu saya menjadi bersemangat. Saya kembali meneruskan apa yang tidak bisa saya selesaikan pada hari-hari sebelumnya. Menamatkan buku Bumi Manusia.

Ketika membaca halaman 186, saya menjadi terharu sekaligus terkenang dengan salah satu kejadian masa lalu, di paragraf satu pada halaman tersebut, Minke menyebutkan kalau “Tak ada urusan ku! Kepriyayian bukan duniaku. Peduli apa iblis diangkat menjadi mantri cacar atau diberhentikan tanpa rasa hormat karena kecurangan? dunia ku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya”

Kalimat yang serupa kembali diungkapkan oleh Minke kepada ibunya, di halaman 190. Ketika ibunya bilang bahwa Minke suatu saat juga akan menjadi Bupati, dengan pendidikan, kecerdasan, dan pergaulan yang engkau miliki, tak lupa menyebutkan kalau ayah Minke sendiri juga seorang bupati, maka suatu saat Minke akan menjadi bupati. Tetapi jawaban Minke adalah “Saya hanya ingin menjadi manusia bebas, tidak memerintah, dan tidak diperintah” Ibu Minke, agak sedikit ragu bertanya “apa ada jaman seperti itu?”

Ya, anda yang kebetulan membaca blog ini mungkin akan bertanya demikian, apakah jaman seperti itu? Dan saya orang yang dulu berfikiran seperti kalimat Minke diatas, juga mempertanyakan pertanyaan diatas “apakah benar ada zaman yang seperti itu, dimana kita bebas merdeka, tidak diperintah dan tidak memerintah. Zaman dimana orang tidak berlomba-lomba untuk jabatan, karir, harta, benda, dan lain sebagainya. Dimana orang memiliki perhatian terhadap sesama manusia dan makhluk disekelilingnya. Sekilas saya membayangkan idealisme saya seperti Mingke. Ketika nyokap saya menanyakan saya mau jadi apa kedepan nanti? saya menjawab kalau saya ingin menjadi orang yang berguna, bagi bangsa, negara, dan dunia. Saya ingin membantu orang yang lemah, saya ingin berjuang untuk orang-orang yang tersisihkan. Saya tidak berfikir tentang karir, saya tidak berfikir tentang harta. Saya tidak ingin menjadi presiden dan saya juga tidak ingin menjadi mentri. Saya ingin membantu namun tidak kehilangan kebebasan saya. Saya tidak ingin diatur oleh yang namanya hukum, panduan, birokrasi atau apupun itu namanya. Nyokap saya yang pada saat itu sudah mengerti kalau anaknya memiliki mimpinya sendiri, bilang, jika kamu yakin kalau kamu bahagia dengan pilihan tersebut, maka lakukanlah. Lakukan apa yang menurutmu benar. Saya menunggu lama untuk mendengar jawaban seperti ini keluar dari mulut nyokap. Dan entah kenapa saya juga percaya kalau itu bukan hanya ucapan di mulut saja, saya percaya kalau itu adalah ucapan yang keluar dari lubuk hati-nya. Dan kalimat itu, meskipun hanya pernyataan pendek, bagaikan sebuah oase di gurun pasir. Begitu menyejukan.

Namun setelah persetujuan itu saya dapatkan, bulan berganti, tahun berganti, ternyata saya menjadi ragu sendiri. Kembali pertanyaan nyokap terbayang, apakah ada dunia yang seperti itu?, dimana orang tidak dinilai dari pangkat, jabatan, kecantikan, dan harta yang dia miliki? Dan mungkin ketika saya menulis ini, saya sedikit mempercayai kalau dunia ideal impian saya tidak ada. Tidak berarti saya menyerah. Saya hanya belum menemukan cara bagaimana meyakinkan diri untuk  kembali untuk berjuang untuk menggapai dunia impian tersebut.

Hidup di zaman globalisasi, di Ibu kota negara yang berpenduduk 240 juta jiwa, semuanya diukur dari materi. Apa yang kita dapatkan, diukur dari jumlah uang yang kita keluarkan. Jika kita tidak punya uang, jangan berharap kita mendapatkan apapun. Bahkan jangan berharap untuk sebuah senyuman.

Suatu hari saya pernah menginap di hotel bintang 4. Saya baru pulang dari sebuah desa di sebuah pergunungan terpencil, disana tidak ada listrik, saya tidak mandi selama 2 hari, saya bau asap, karena saya menginap di sebuah pondok dimana dapur dan rumah menyatu dan tidak ada cerobong asap. Saya dengan beberapa teman memasak di dapur tersebut, dan malamnya kita juga menginap disana, karena suhu yang sangat dingin. Dapur dengan kayu bakarnya kita sulap jadi perapian. Ketika dari dusun tersebut pulang ke kota, saya naik angkutan umum, berdebu, kendaraan tersebut sejenis mobil ranger dan saya duduk dibelakang.

Saya berpisah dengan teman saya, tinggal saya sendiri. Saya memutuskan menginap di hotel terbaik di kota itu. Ketika saya tiba di hotel, penjaga pintu hotel, seakan enggan membukakan pintu untuk saya. Padahal menurut saya, penampilan saya cukup bersih dan rapi, kecuali saya tidak membawa tas kopor dorong, saya membawa sebuah ransel lusuh dengan ukuran cukup besar. Ketika diresepsionis, petugasnya sedang melayani bapak-bapak yang tentunya pasti pejabat terpandang di kota tersebut. Setelah bapak pejabat daerah itu pergi, baru saya dilayani. Saya dilayani dengan baik, namun tidak sebaik dan seramah kepada bapak tadi. Saya baru sadar esok harinya ketika saya makan pagi direstoran hotel. Orang-orang yang memenuhi restoran, hampir semuanya laki-laki, hanya ada satu perempuan selain saya, perempuan berkulit putih, bermata sipit, cantik, berusia sekitar 40an. Dan pada umumnya mereka kalau bukan pejabat , mereka adalah pengusaha. Hotel yang saya tempati, ternyata adalah hotel terbagus di provinsi kecil tersebut. Alasan saya menginap di hotel tersebut simpel, saya butuh keamanan. Saya sendirian, dan saya tidak kenal kota tersebut. Dari media, kota kecil tersebut sarat dengan kerusuhan. Jadi kalau saya menginap di hotel biasa, bisa-bisa barang bawaan saya hilang esok paginya ketika saya bangun. Jika hal tersebut terjadi bagaimana cara saya pulang. Saya pernah mengalami situasi dimana saya menginap di hotel biasa di sebuah kabupaten, bukan di ibu kota provinsi, jam 3 malam saya terbangun karena ada tangan yang masuk dari kaca nako kamar hotel dan tengah berusaha menggapai HP yang saya cas tidak jauh dari jendela tersebut. Jika saya tidak bangun maka HP saya pasti akan lenyap.

Di Jakarta, sering saya dianggap tidak mampu bayar ketika masuk ke sebuah toko. Pernah saya masuk ke sebuah optik ternama, atau yang mengklaim sebagai optik terbesar di Indonesia, dan saya tidak dilayani dengan ramah. Ketika saya menanyakan mengenai lensa beserta sebuah frame branded, petugas optik tersebut ogah-ogahan menjelaskan harganya. Memang saya bukan orang kaya, dan saya juga bukan orang yang tidak mampu. Untuk kacamata, saya mampu beli tanpa mikir karena fasilitas kesehatan saya akan menanggung biaya kacamata tersebut. Dan herannya mba-mba yang dandanan orang kaya, dilayani dengan sangat baik, dan menjawab segudang pertanyaan dari mba tersebut, dan terakhir mba tersebut hanya membeli sebuah lensa kontak seharga kurang dari 200 ribu. Saya, karena memang butuh ganti kacamata, meskipun petugas toko sangat tidak beretika, saya akhirnya belanja dengan nilai transaksi hampir 4 juta di toko kaca mata tersebut.

Kejadian ini membuat saya berfikir, akankah saya merubah penampilan saya hanya demi mendapatkan perlakuan istimewa dan juga keramahan palsu? merubah penampilan disini berarti saya harus rajin ke salon, menyisihkan duit untuk ke dokter kulit, membeli baju baru setiap bulannya, membeli tas baru branded (yang lagi diskon), membeli parfum yang harga minimalnya setengah juta, dan hal-hal lain seperti itu. Karna itulah yang dilakukan beberapa orang cantik saya tahu.

Bagi saya, pendapatan saya akan lebih bermanfaat jika dibelikan pada buku. Jikalaupun saya membeli suatu barang dengan harga mahal, bukan karena gengsi, namun karena fungsi. Seperti kacamata, karena saya suka membaca, saya memberikan hadiah yang terbaik bagi mata saya. Saya tidak perlu menuruti semua tuntutan zaman, karena ingat prinsip saya diatas, saya ingin bebas, saya tidak ingin memerintah dan diperintah. Harus saya akui, pengorbanan yang harus saya bayar untuk prinsip tersebut cukup besar. Sering saya harus menahan kesal karena saya merasa diperlakukan tidak adil. Misal, pernah ketika saya antri mau membayar makanan disebuah restoran, pelayannya mendahulukan orang lain, seorang bapak berpenampilan perlete dan wangi. Padahal saya sudah didepan kasir, bapak itu datang menyerobat antrian. Dan dia dilayani dengan ramah. Ketika giliran saya bayar, saya bilang, kalau hal tersebut tidak boleh terulang lagi. Saya sudah mengantri duluan, seharusnya saya yang dilayani terlebih dahulu. Saya juga bilang kalau saya sering makan disini. Dan nilai belanja saya di restoran tersebut tidak terbilang sedikit, karena saya suka merekomendasikan dan juga membawa teman saya makan disana. Jika ini terulang maka saya tidak akan pernah kembali lagi. Ancaman saya efektif, karena ketika saya mampir lagi, saya mendapat perlakuan yang berbeda. Tetapi perlakuan istemewa tersebut tidak otomatis saya dapatkan. Berbeda jika saya berdandan cantik dan mahal.

Teman saya bilang kalau saya seharusnya tidak peduli, apakah saya diberi senyum atau tidak oleh pelayan toko, toh yang saya butuhkan adalah barang yang beli saya dapatkan, atau makanan yang saya inginkan mengenyangkan perut saya. Lagian senyum tersebut kan hanya senyum palsu yang juga tidak penting. Ya, teman saya ada benarnya. Namun menurut saya ini bukan masalah “senyuman” namun masalah ketidakadilan.

Untuk membuktikan, sekali-kali saya berpenampilan “mahal” dan benar saya mendapatkan pelayanan prima. Apakah artinya saya mulai percaya kalau dunia yang diimpikan oleh Minke, dunia yang dulu saya impikan tidak ada? jawaban saya adalah dunai tersebut memang tidak ada, namun bukan berarti kita menerima, kita harus mencari cara agar dunia tersebut dikenal. Manusia bebas, tidak memerintah dan tidak diperintah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s