Ahh.. Ngga penting

Saya jarang mengaktifkan yahoo messenger dan kemarin ketika saya online saya bertemu dengan salah seorang teman. Teman baru yang saya jumpai di Surabaya, namun sudah lama tidak berkirim kabar.

Pembicaraan melalui YM kemarin begitu singkat, namun dari pembicaraan itu, saya diingatkan dan saya belajar akan satu hal. Bahwa sesuatu yang kita anggap tidak penting bisa menjadi penting. Percakapan itu berawal ketika saya bercerita kalau belakangan kesibukan saya lebih banyak menulis. Saya bilang kalau tidak ada dari tulisan tersebut yang penting dan berharga.

Mungkin benar, bahwa sesuatu yang kita anggap tidak penting mungkin suatu saat nanti bisa menjadi penting. Atau sesuatu yang kita anggap penting dilain waktu tidak lagi menjadi penting. Saya selalu disibukan dengan deretan rencana kegiatan yang harus saya kerjakan. Saya menganggap kalau ‘rencana-rencana’ adalah agenda penting yang harus saya kerjakan. Saya terperangkap dalam rutinitas dan juga target-target yang harus saya capai. Namun ketika akhirnya saya merasa bosan dan lelah, saya merasa semua yang saya kerjakan selama ini tidak lagi menjadi penting. Ketika saya mulai kehilangan teman karena kesibukan saya, saya jadi berfikir ulang mengenai prioritas hidup, dan juga arti penting dan tidak penting dalam hidup ini.

Ketika jumat sore, saya dihubungi oleh seorang sahabat yang kebetulan lagi berkunjung ke Jakarta mengajak makan malam bersama. Bagi saya, dia lebih penting dari pada kerjaan yang saya kerjakan pada saat itu. Saya setuju untuk bertemu jam 5 sore didaerah Menteng, sedangkan saya tinggal di daerah Kemang, ini artinya, saya harus pulang lebih cepat, sehingga saya datang tepat waktu untuk bertemu dengannya. Sahabat yang akan saya temui tersebut adalah sosok penting bagi saya. Dia selalu ada ketika saya membutuhkan. Dan sekarang saya yakin kalau dia membutuhkan saya. Dia di Jakarta sedang menjalani pengobatan. Dia butuh teman berbagi. Meskipun pada saat itu macet, dan ke Menteng bukan jarak yang dekat, saya tetap melaju dengan ojek ke Pejaten Vilalge disambung taksi ke Menteng. Naik ojek adalah cara saya untuk menghinari kemacetan di daerah kemang dan pejaten. Sedangkan di warung buncit jalanan kosong dan lega sehingga taksi bisa melaju dengan kencang.

Ketika saya tiba, di taman menteng, di Star Bucks seperti yang sudah kita sepakati, dia tidak ada. Saya menghubungi ke HP-nya, HP tersebut tidak aktif. Saya menghubungi ke nomor HP satu lagi, ada nada masuk, tetapi tidak diangkat. Pada waktu itu saya berpuasa, ketika sudah waktu buka, dia masih belum datang, dan saya masih belum bisa menghubunginya. Saya duduk sendiri, dengan secangkir kopi, sepotong pastel, dan sambil berfikir apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Apa yang terjadi dengan sahabat saya. Saya tidak berburuk sangka. Dia tidak mungkin lupa dengan janjinya, dia pasti hanya lelah dan jatuh tertidur. Ya dia pasti ketiduran. Saya duduk di kursi luar, dekat pintu masuk. Mata saya memperhatikan orang-orang yang keluar masuk. Tidak banyak pengunjung Star Bucks sore itu. Masuk akal, hanya orang bodoh yang mau berbuka puasa disini. Siapa juga yang akan berbuka dengan segelas kopi sementara banyak makanan lezat diluar sana. Kita juga tidak berencana makan disini. Rencananya kita hanya disini sebentar dan akan mencari makan di warung tenda yang tidak jauh dari sini. Lezatnya nasi goreng gila sudah terbayang di pelupuk mata.

Meja bagian luar kosong, sepi, hanya ada aku dan satu pria yang sibuk bermain HP di bagian pojok kiri. Ketika sudah menunjukan pukul 7 malam, ada serombongan laki-laki, duduk tidak jauh dari meja saya. Mereka merekok. Saya enggan pindah, dan sedang bingung antara memilih menunggu atau memutuskan pulang. Jika orang yang akan saya temui ini bukan orang yang saya anggap penting, saya pasti sudah pulang. Namun dia adalah sahabat dan kawan baik, sehingga menunggu dia bagi layak untuk dilakukan. Saya mencoba menelfon lagi, dan mengirimkan sms. Ketika jarum jam menunjukan pukul 7.10, HP saya berbunyi. Dan syukurlah itu dia. Saya menjawab dengan suara kesal yang kemudian saya sesali. Dia bilang kalau dia ketiduran. Dan dia minta tunggu 5 menit untuk segera menuju ke tempat saya berada. Dia muncul di menit ke 10, dengan wajah penuh penyesalan. Saya tidak berhak marah, karena keterlambatan dia adalah ketidaksengajaan. Kita tidak membahas itu lagi, kita beranjak ganti tempat untuk mencari makan.

Penantian panjang itu berakhir menyenangkan. Kita makan nasi goreng gila, siomay, berbagai macam jus, dan ada mendengarkan lagu Halo- Lionel Richie, dan lagu Julio Inglesias yang dinyanyikan sangat baik oleh satu grup pengamen dikawasan tempat makan tersebut. Setelah kenyang, kita pindah ke J-Co untuk mencari makanan penutup, secangkir yoghurt. Dulu kita selalu keluar bersama, namun sekarang karena jarak kita tidak pernah lagi makan dan jalan seperti malam itu. Dia lebih pendiam, dan lebih dewasa. Tidak riang seperti biasanya. Wajahnya menyimpan banyak masalah, dia tidak bercerita, dan saya tahu kalau itu artinya dia bisa mengatasinya. Bagaimana dengan anda, apa yang anda anggap penting dalam hidup anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s