Adil semenjak dari fikiran

Saya suka dengan perkataan Jan Marais dalam buku Bumi Manusia “Seorang terpelajar harus berlaku adil sudah sejak dalam fikiran, apalagi dalam perbuatan”

Akhirnya saya menyelesaikan juga membaca buku ‘Bumi Manusia’. Nasionalisme saya menjadi bangkit. Saya tidak bisa menjelaskan perasaan saya setelah membaca buku tersebut. Seandainya saya sudah kenal buku itu ksemenjak saya duduk di Bangku SMP atau SMA maka saya akan lebih khusuk dan hikmat dalam mengikuti upacaya Bendera. Saya tidak akan mencari alasan untuk bolos upacara. Buku tersebut membuat saya semakin mencintai bangsa ini. Saya jadi menghargai kulit saya yang berwarna coklat. Terus terang dulu saya sempat iri dengan bangsa kulit putih. Mereka bisa pergi kemanapun di muka bumi ini dan selalu mendapatkan perlakuan terbaik dan dianggap sebagai ras unggul.

Teman saya ketika belanja di sebuah pasar kerajinan di Thailand, merasa didiskriminasikan karna dia kulit berwarna, anehnya yang mendiskriminasikan juga orang kulit berwarna. Dia belanja kerajinan perak di salah satu toko, namun pelayan penjaga toko melayani dia dengan setengah hati. Dia beranjak malas-malasan mengambilkan barang yang ditunjuk oleh teman saya, dia di dalam fikirannya menilai kalau teman saya tidak mampu membeli produknya, memang harganya tidak murah.

Ketika segerombolan turis kulit putih datang, dia dengan semangat dan senyum super ramah segera berlari ke depan pintu, meninggalkan teman saya, dan menghampiri bangsa kulit putih tersebut. Dengan senyum dan perlakuan yang super ramah, dia menjawab semua pertanyaan dan dia bergegas mengambilkan semua jenis barang yang ditunjuk oleh turis kulit putih tersebut. Turis tersebut mengamati barang-barang yang diunjukan kepadanya, dan tanpa membeli satu barangpun ia pergi meninggalkan toko. Barulah si pemiliki toko menghampiri teman saya.

Teman saya dari awal memang berniat membelikan cincin dan juga kalung untuk adek dan nyokapnya. Sebenarnya dia sakit hati dengan perlakuan pemilik toko tadi, sungguh tidak sopan, namun dia mencoba berfikiran positif, bisa jadi  selama ini kecendrungannya memang turis kulit putih membeli lebih banyak dan lebih royal.  Jadi dia memutuskan untuk tetap belanja di toko tersebut dan memaafkan penjaga toko tersebut.  Dengan senyuman, dia bilang kepada pimilik toko tersebut kalau dia mau membeli kalung dan cincin, total nilai transaksi teman saya di Toko tersebut cukup besar. Pemiliki toko seakan menyadari kesalahannya, menyalami, dan membungkuk hormat ketika teman saya meninggalkan toko tersebut.

Kejadian tersebut tidak hanya terjadi di Thailand. Kejadian yang sama sering terjadi di Negara kita. Sebagai contoh, Bali.  Sudah menjadi rahasia umum (sesama turis domestik) kalau di Bali turis kulit putih diperlakukan lebih baik dari pada turis domestik (pada umumnya, tidak selalu lho). Pengalaman  buruk saya sendiri adalah sebagai berikut: Saya diajak makan malam oleh teman saya, bangsa kulit putih berkewarganegaraan Australia, dia sudah tinggal di Bali selama satu tahun, karena teman kulit putih saya bilang dia membawa teman, dia menganjurkan saya juga mengajak teman. Sayapun membawa 2 orang teman. Ketika di Jimbaran, teman saya si kulit putih minta sendok dan garpu, yang dengan cepat dan ramah langsung dibawakan oleh pemilik warung tersebut. Kemudian teman saya, si kulit putih kembali meminta kobokan. Si pemilik toko tidak mendengar,  si kulit putih kembali meminta kobokan, mungkin karena banyak pelanggan yang harus dia layani pemiliki toko masih tidak mendengar,  teman saya si kulit berwarna, membantu memanggil pemilik restoran tersebut. Kemudian si pemilik restoran datang membawakan 5 kobokan, ketika dia meletakan kobokan di meja, dia mendekatkan wajahnya ke teman saya sambil membisikan kalimat sebagai berikut “alah, mentang pergi dengan bule kalian belagu, biasanya makan juga tidak cuci tangan” katanya sambil berlalu pergi. Kawan saya terkejut dan kesal, dia ingin berteriak, namun sebagai orang yang berpendidikan dia menahannya. Teman saya kulit berwarna pernah tinggal 10 tahun di Amerika, egonya terluka dengan perkataan pelayan restoran tersebut.  Namun dia memilih untuk memaafkan.

Jika anda meminta saya untuk menceritakan kejadian lain, saya bisa menceritakan 10 atau 20 cerita bernada sama. Cerita tersebut berasal dari kejadian yang pernah saya alami sendiri. Sering bangsa kulit putih menganggap mereka lebih unggul dan superior dari pada bangsa kulit berwarna. Saya pernah mengalami kejadian dimana saya dianggap tidak lebih tahu dari bangsa kulit putih untuk suatu bidang dan pekerjaan yang saya kenal dengan baik.

Saya akan menegaskan bahwa tidak semua bangsa kulit putih arogan dan sombong. Ada juga yang baik, rendah hati, dan menghargai bangsa lain meskipun bukan berkulit putih. Beberapa orang bangsa kulit putih yang saya kenal malah berbudi, bertutur kata dan bertingkah laku lebih baik dari orang Indonesia pada umumnya. Saya tidak akan menjeneralisir. Intinya kadang kita akan menemui situasi yang tidak menyenangkan seperti diatas.  Situasi sekarang masih lebih baik dari pada menjadi kulit berwarna dan pribumi seperti dalam cerita Bumi Manusia. Pribumi (Indonesia asli) adalah bangsa yang paling rendah, dan nilainya lebih rendah dari pada kulit putih belanda, dan indo pada zaman penjajahan belanda dulu.

Tetapi  jika kita jujur sebenarnya situasi dulu dengan sekarang tidak jauh berbeda. Lihat saja artis kita banyak didominasi oleh Indo. Kita punya Cinta Laura serta sederet artis pria dan wanita yang merupakan hasil perkawinan campur dengan “ras unggul”. Mereka yang berkulit putih dan berhidung mancung dianggap lebih “keren” dari pada “pribumi” dan adalah kita sendiri yang meletakkan mereka di posisi nomor satu . Kita sendiri yang meletakkan kita diposisi dibawah mereka. Ingatlah kalau berlaku adil itu harus dimulai dari fikiran. Jangan kita menganggap kalau kita sendiri lebih rendah.

Dari buku Bumi Manusia, saya memahami satu hal, bahwa, warna kulit tidak akan bisa diganti, jika anda terlahir berkulit coklat maka anda tidak bisa berharap  menjadi berkulit putih, berhidung mancung, dan bermata biru. Michael Jackson sudah pernah mencobanya, dia berusaha mengganti warna kulit hitamnya, namun tidak berhasil. Dunia tetap menganggap kalau dia bukan berkulit putih meskipun dia sudah menjalani operasi plastik.

Meskipun bukan berkulit putih, Anda bisa membuat orang menghormati anda karena pengetahuan dan wawasan anda. Sudah banyak contohnya, misal Amartya Sen, adalah professor Harvard, Ekonom dunia yang berasal dari India. Dia memperoleh Nobel di Bidang Ekonomi pada tahun 1998. Dunia mengakui pemikirannya, dia berdiri sejajar dengan kulit putih lainnya. Amartya Sen bersekolah SD sampai SMA di India, baru setelah lulus SMA dia keluar negri untuk meneruskan sekolahnya.  Sama halnya Minke  tokoh utama dalam bumi manusia, ia juga tidak memiliki darah Belanda, namun dia fasih berbahasa Belanda, sehingga dia disegani pada masa itu. Demikian juga halnya Nyai Ontosoroh, Nyai Ontosoroh berhasil mencuri perhatian banyak orang karena kecerdasannya, meskipun dia tidak bersekolah formal dan hanya seorang ‘Nyai’ dan ‘Pribumi’.  Jangan hakimi anda atau orang lain. Adilah semenjak dari pikiran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s