Konsumen kritis: Donut dan Coca Cola gratis

Kita adalah konsumen. Kenapa kita disebut sebagai konsumen? karena kita pemakai barang dan jasa. Konsumen adalah raja. Sebagai raja sudah sepatutnya kita dilayani dengan baik. Dan juga sudah menjadi kewajiban produsen dan pedagang untuk memenuhi hak-hak konsumen seperti kita. Namun bagaimana jika konsumen tidak tahu haknya sebagai konsumen? bagaimana jika konsumen tidak kritis ketika hak-nya dilanggar? Penting bagi konsumen untuk bersikap kritis. Jangan menjadi konsumen yang pasif. Carilah informasi sebanyak-banyaknya, dan rajinlah bertanya. Jika anda punya pertanyaan jangan disimpan di hati, ungkapkan. Tanyakan kepada karyawan toko yang melayani anda.

Ketika saya kuliah dulu, saya mengambil mata kuliah khusus selama dua semester terkait dengan pendidikan konsumen.  Saya lupa judul persisnya, yang pasti saya belajar mengenai konsumen dari perspektif pengusaha, dan perspektif konsumen sebagai individu.  Dalam perspektif bisnis,  konsumen adalah target yang harus dirangkul dan dipertahankan. Konsumen adalah tambang emas dan keuntungan.  Orang karena itu konsumen harus nyaman dan puas dengan produk dan pelayanan yang kita tawarkan. Sedangkan konsumen sebagai individu, dimana saya dan juga dosen saya adalah konsumen, kita dituntut untuk kritis dan teliti. Banyak ilmu yang saya pelajari pada waktu itu, namun tidak cukup membuat saya menjadi konsumen yang pintar.  Baru satu tahun belakangan ini saya menjadi sadar dan mulai menjadi konsumen yang kritis.

Saya mempunyai beberapa contoh kecil yang menarik untuk diceritakan. Dan semoga anda yang kebetulan membaca ini bisa memetik pelajaran dari sini.

Dulu saya dengan teman saya sering ngopi di J.Co Donuts and Coffee. Sebagai penggemar kopi, tentu saja saya selalu memesan kopi. Saya jarang memesan Donut. Bagi saya satu gelas kopi sudah cukup.

Meski saya hanya memesan segelas kopi  saya selalu mendapatkan sepotong donut. Berkali-kali saya nongkrong di J.Co saya selalu mendapatkan hal yang sama. Satu cangkir kopi dan satu potong Donut gratis. Kemudian saya beralih ngopi di Starbucks karena teman ngopi saya yang lain lebih suka ngopi di Starbucks dari pada di J.CO. Hingga 2 hari yang lalu, teman saya yang biasa ngajak nongkrong di J.Co kembali menghubungi saya dan mengajak  ngopi di J.Co Pejaten Village. Karena saya harus membeli beberapa buku, maka kita memutuskan pergi ke Gramedia terlebih dahulu, baru setelah itu minum kopi.

Ternyata karena keasyikan di Gramedia tak terasa waktu sudah beranjak malam. Jam ditangan saya menunjukan pukul 21.30 malam. Saya dan teman saya segera bergegas ke J.CO. saya membelikan secangkir coklat panas untuk teman saya dan satu kopi mint panas untuk saya. Saya menunggu 15 menit, dan ketika saya mengambil minuman, saya tidak diberikan donut gratis seperti biasanya. Saya teringat hak saya sebagai konsumen.  Tidak ada salahnya untuk bertanya. Dan sayapun menanyakan kepada karyawan J.Co, donut gratis saya mana? seharusnya saya mendapatkan 2 potong karena saya memesan 2 gelas minuman. Mas tersebut segera minta maaf dan menjelaskan kalau donut-nya sudah habis. Namun salah seorang temannya yang mendengar percakapan saya dengan karyawan tersebut, segera meralat, dan bilang kalau donutnya masih ada. Dia meminta saya menunggu, dan setelah 5 menit saya memperoleh Donut saya. Saya tersenyum puas ketika mendapatkan Donut tersebut. Ini bukan masalah Donut. Ini adalah masalah hak saya sebagai konsumen. Jika donutnya benaran habis saya tidak akan komplain. Saya juga menyadari kesalahan saya karena datang disaat mereka sudah akan tutup. Namun sebagai konsumen saya berhak memperoleh penjelasan. Dan ternyata saya mendapatkan lebih dari penjelasan, saya mendapatkan donut saya malam itu.

Cerita kedua adalah ketika saya makan dengan dua orang teman saya di salah satu restoran di lantai dasar Pejaten Village. Mereka menuliskan promo pada sebuah kertas yang ditempel di Meja. Jika belanja seharga minimal 100 ribu akan mendapatkan satu kaleng Coca Cola gratis, dan tidak berlaku untuk kelipatan. Kita makan bertiga, dan nilai transaksi kita dipastikan lebih dari 150 ribu. Setelah makanan kami bertiga habis, jus  saya juga sudah habis, sayapun memanggil karyawan restoran tersebut dan memesan secangkir teh, dan tidak sengaja mata saya tertumbuk pada kertas promo, sayapun menanyakan apakah saya berhak untuk mendapatkan satu kaleng cocacola? karena nilai belanja kami lebih dari 150 ribu . Dia bilang dia akan melihat nilai tagihan kita terlebih dahulu, tak lama kemudian mba tersebut kembali dengan dua kaleng Coca Cola, Saya merasa hanya berhak untuk mendapatkan satu kaleng (karena bonus tidak berlaku kelipatan, saya juga yakin kalau nilai transaksi kita kurang dari 200 ribu) dan sayapun bertanya ke mba tersebut, bukankah kita hanya berhak mendapatkan satu kaleng gratis? dia tersenyum, tidak apa-apa, kami ingin mengasih dua katanya ramah. Saya membalas tersenyum sambil mengucapkan terimakasih. Pelajaran yang saya petik? bertanya itu ternyata banyak manfaatnya. jadi jangan sungkan untuk bertanya karena bisa jadi anda akan mendapatkan dua kaleng Coca Cola dan dua potong donut gratis seperti saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s