The ink of the scholar is more sacred than the blood of the martyr

Pena lebih tajam dari mata pedang. Saya percaya dengan pernyataan tersebut. Pena yang digunakan untuk menulis, atau mungkin di zaman sekarang orang menulis dengan komputer yang kemudian diterbitkan dalam bentuk artikel, buku, blog atau sekedar di tulis di buku diari. Ketika saya remaja dulu saya memiliki beberapa teman yang hobi mencurahkan perasaannya di buku diari. Dan beberapa kawan yang lain iseng berusaha mencuri dan mengintip apa yang ditulis di dalam buku diari tersebut. Biasanya tulisan yang ditulis tidak lebih dari keseharian cowok yang ditaksirnya. Saya sendiri pernah mencoba untuk memiliki diari, namun tidak berhasil. Saya tidak rajin dan disiplin.

Saya pernah membaca diari nyokap saya yang dia tulis ketika dia remaja. Nyokap saya juga senang korespondensi. Ketika SMA dia memiliki banyak sahabat yang tersebar di Nusantara. Pada waktu itu adalah akhir tahun 70an, dan pos masih sangat digemari. Membaca diari atau surat-suratnya tidak ubahnya seperti membaca karya sastra dalam novel-novel angkatan balai pustaka. Dan cerita yang ditulisnya tidak ubahnya seperti cerita di film-film tahun 70an dan 80an. Bakat seni nyokap sangat tinggi. Dari SD nyokap saya sudah senang membaca. Meskipun pada saat tersebut dia tinggal di daerah pedesaan, dan dengan infrastruktur yang sangat terbatas. Dia suka menyisihkan uang jajannya untuk membeli buku dan majalah. Dia senang menulis. Sayang keluarganya tidak mendukung bakatnya. Jika saja ada orang yang meyakinkannya kalau dia bisa menjadi penulis yang hebat maka dipastikan sekarang kita akan membaca karyanya yang inspiratif. Bakat tersebut sempat menulari saya ketika saya SD dan SMP. Saya menyukai pelajaran mengarang. Bahkan ketika SMP saya juga berlangganan majalah sahabat pena atau mendengarkan dan mencari sahabat pena lewat radio RRI. Saya memiliki beberapa sahabat pena. Saya punya teman dari madura dan dari kalimantan pada saat itu. Guru saya sering memuji hasil karangan saya. Tetapi ketika SMA, seluruh bakat menulis saya menghilang (termasuk koresponden). Demikian dengan hobi saya membaca. Semua lenyap bersamaan ketika saya menggantung peralatan melukis saya.

Sama mengira kalau saya sudah tidak bisa menulis lagi. Saya tidak tertarik untuk punya blog, bahkan ketika semua orang heboh membicarakan hal itu. Saya tidak pernah menduga kalau saya akan rajin mengisi blog saya dengan tulisan. Percayalah, saya mengalami kesulitan untuk menulis artikel yang pertama. Sekarang sedikit lebih baik, tetapi saya masih merasa kalau gaya bahasa saya kaku sehingga orang menjadi bosan dan ingin bunuh diri ketika membacanya.

Jumat sore yang lalu, saya berdiskusi dengan dua orang teman. Kita berbincang mengenai pengarang brilian di zaman lampau dan di zaman sekarang. Menurut teman saya pengarang yang bagus dan brilian, memang dari kecil sudah suka menulis. Mereka sudah terlahir jenius dan penuh dengan imaginasi. Mereka seakan hidup dialam fikirannya sendiri. Kadang ditengah keramaian mereka seakan menghilang dan masuk ke alam lain. Mereka sibuk dengan fikirannya. Otak mereka tidak pernah berhenti bekerja. Demikian dengan imaginasi dan ide-ide baru akan selalu bermunculan di kepalanya. Apakah dengan demikian orang yang tidak biasa membaca atau menulis ketika masa kecilnya tidak akan bisa menjadi penulis hebat? saya percaya dengan ucapan teman saya itu. Beberapa orang memang terlahir berbakat. Hal ini sudah pernah saya tulis pada postingan saya yang lalu, dan ada juga orang yang terlahir biasa, bukan jenius. Tetapi saya tidak akan berhenti hanya karena saya tidak terlahir sebagai penulis. Saya percaya dimana ada keinginan pasti ada jalan. Saya akan menulis, dan berharap tidak ada orang yang frustasi membacanya. Balik lagi mengenai menulis, berikut adalah tips menulis yang ditulis oleh Calvin Ong, Tips To be A good Writer.

Baca buku yang ditulis oleh penulis besar. Anda tidak akan tahu bagaimana melakukannya jika Anda tidak membaca tulisan yang bagus. Semua orang mulai dengan belajar dari “sang ahli” dan melalui mereka Anda akan menemukan gaya tulisan Anda sendiri. Bacalah sebanyak mungkin. Perhatikanlah gaya, mekanisme dan isi tulisan.

RajinĀ  Menulis. Cobalah untuk menulis setiap hari karena semakin sering Anda menulis tulisan anda akan lebih baik. Menulis adalah keahlian, Anda harus terus berlatih untuk memoles keahlian Anda. Menulislah untuk diri sendiri, atau menulis artikel, blog, dll.

Catatlah selalu ide-ide yang terlintas di fikiran Anda. Selalu bawa buku catatan kecil dan tuliskan ide-ide sebagai bahan tulisan Anda. Tuliskan sesuatu yang Anda dengar, yang menginspirasi, menggerakan atau membuat Anda merasa menyentuh. Ide-ide yang anda tulis akan mempermudah anda dalam menulis.

Jauhi Gangguan. Menulis tidak akan berjalan dengan baik jika ada kegaduhan atau suara berisik. Menulis paling baik dilakukan dalam suasana yang tenang atau dengan ditemani oleh suara alunan musik yang lembut. Matikan ponsel Anda, TV dan rapikan meja anda. Jauhi segala macam gangguan sehingga anda bisa bekerja tanpa interupsi.

Buat perencanaan sebelum memulai menulis. Sangat penting untuk membuat perencanaan mengenai apa yang akan ditulis sebelum anda duduk untuk menulis. Lakukan brainstorming, baru mulai menulis.

Eksperimen. Cobalah hal-hal baru. Sedikit mencuri dari orang lain. Kemudian bereksperimenlah dengan tema dan gaya anda. Selain itu, cobalah menggunakan kata-kata baru atau ciptakan kata yang baru.

Revisi. Banyak penulis tidak suka merevisi karena ini akan menjadi kerjaan tambahan padahal mereka sudah selesai menulis. namun jika Anda ingin menjadi penulis yang baik, Anda harus belajar keterampilan merevisi, periksalah kembali semua, seperti mencari kesalahan tata bahasa dan ejaan, kata-kata yang tidak perlu, dan kalimat membingungkan.

Belajar dari umpan balik. Carilah seseorang (orang-orang seperti penulis hebat atau editor) untuk membaca tulisan Anda. Mereka yang sudah banyak membaca dapat memberikan umpan balik yang jujur dan berharga. Cobalah untuk memahami dan menerima kritik tersebut dan memperbaiki tulisan Anda.

Bagi anda yang belum menulis, anda bisa mencobanya sekarang. Tidak pernah ada kata terlambat.

If there’s a book you really want to read but it hasn’t been written yet, then you must write it. ~Toni Morrison

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s