Waktu tidak akan merubah anda

Kadang saya berfikir apakah ada orang yang seperti saya. Orang yang sudah menginjak usia dewasa tetapi tidak tahu persis apa yang dia inginkan dalam hidup. Pernahkah apa yang anda jalani dan yang anda punyai sekarang adalah kehidupan yang anda inginkan, jika jawaban anda tidak, maka kehidupan semacam apa yang anda inginkan? atau jika anda ingin membalikan waktu, hal apakah yang ingin anda perbaiki dalam hidup anda? pernahkah anda berfikir bahwa menikahi pria yang mendampingi anda sekarang adalah suatu kesalahan? atau keputusan besar yang dulu pernah anda buat seharusnya tidak anda lakukan?

Tidak ada yang bisa anda rubah dari masa lalu anda. Namun anda bisa ‘berusaha’ untuk melupakan luka dimasa lalu dan memperbaiki hidup anda. Dari kecil saya selalu dikritik oleh nyokap saya. Apa yang saya lakukan tidak pernah memuaskannya. Dan hal itu membuat saya menjadi tidak percaya diri. Saya menjadi tidak yakin dengan kemampuan saya. Saya merasa jika orang lain juga turut mengkritik dan menghakimi apa yang saya lakukan. Apa yang saya lakukan tidak pernah cukup. Saya berusaha keras untuk menjadi ‘orang baik’ seperti yang diinginkan oleh nyokap saya dan orang lain disekitar saya.

Saya sangat berhati-hati dengan apa yang saya lakukan. Sering saya melakukan banyak hal hanya untuk menyenangkan orang lain. Hidup saya tidak tenang. Saya takut jika apa yang saya lakukan untuk orang lain tidak pernah cukup. saya takut orang-orang tidak menyukai saya. Namun semakin saya berusaha menjadi orang baik semakin saya merasa terbebani. Saya dipenuhi kekhawatiran dan juga ketakutan. Ketakutan di tolak, ketakutan disalahkan, ketakutan tidak diterima. Saya tidak berani menjadi diri sendiri. Karena saya ingin menjadi orang baik bagi semua orang. Saya ingin semua orang mencintai saya. Lucunya, saya semakin merasa tidak dicintai, dan saya semakin tidak bahagia.

Sampai pada suatu saat saya diingatkan kalau ketakutan saya tidak beralasan dan adalah pengaruh dari didikkan kecil saya. Sayapun berupaya untuk menemukan diri saya kembali. Dan hal tersebut saya mulai dengan berani mengatakan ‘tidak’. Saya juga belajar untuk mengungkap perasaan saya yang sebenarnya. Saya tidak lagi mengatakan suka ketika sejujurnya saya tidak suka, atau saya akan mengatakan kalau tidak bagus jika itu memang tidak bagus. saya berusaha untuk tidak memikir reaksi dari lawan bicara saya. Jika mereka tidak suka dengan kejujuran saya, ya sudah. Dulu, saya tidak pernah protes meski untuk situasi dimana saya dirugikan. Dan sekarang saya berusaha mengutarakan protes saya, tentu saja dengan cara yang sopan (dan masih terlalu sopan). Saya juga belajar mengutarakan pendapat, dimana dulu saya merasa takut, saya takut kalau orang menyangggah pendapat saya. Saya takut pendapat saya tidak disukai orang.

Namun tidak sekarang, saya berusaha menjadi diri saya apa adanya. Dan percayalah ternyata menjadi diri sendiri menyenangkan. Saya tidak akan bilang itu mudah, namun dengan tekad yang kuat anda akan mengalami perubahan yang positif. Anda harus percaya dengan kekuatan anda. Jangan pernah takut akan pemikiran orang lain. Dunia tidak akan pernah berhenti mengkritik atau menghakimi anda, yang terpenting anda jangan turut menghakimi diri anda. Jalan hidup tidak pernah mudah.

Tidak ada orang yang memiliki kehidupan yang sempurna. Semuanya tergantung bagaimana cara anda memandang hidup. Salah satunya adalah dengan menjadi diri sendiri, dan percaya dengan diri anda. Sekitar satu minggu yang lalu, seorang teman SMA menghubungi saya, kita pernah dekat, namun saya tidak terlalu menyukainya karena dia suka menyombongkan diri. Dia cantik dan pintar, namanya Risa, dan dia merasa lebih baik dari orang lain. Dia tidak berteman dengan semua orang. Orang yang bisa menjadi temannya hanya orang yang sama ‘level’nya dengan dia.

Dari dulu saya tidak suka dengan orang yang sombong dan yang menganggap dirinya lebih dari yang lain. Pada waktu itu juga berteman dengan dina, anak yang sangat sederhana, bahkan cenderung terkucilkan dari pergaulan. Tetapi dia sangat baik dengan saya. Saya suka mengajak dia ikut makan, dan hal ini membuat risa tidak nyaman, secara tidak langsung Risa meminta saya tidak mengajak Dina ikut serta, atau tepatnya tidak berteman dengan dina, tentu saja saya menolak. Akhirnya risa memilih berteman dengan gang orang terpintar dan juga tercantik di sekolah, kita tidak pernah lagi bersama, hingga lulus.

Setelah lulus saya melanjutkan kuliah di luar kota, sedangkan dia melanjutkan kuliah di kota yang sama. Saya sempat bertemu dengan dia sekali ketika saya saya duduk di tingkat 3, ketika saya pulang ke kota kelahiran saya. Dia menelfon ke rumah dan hendak berkunjung. Ternyata dia semakin ‘sombong’, dia datang membawa album foto yang berisi foto-foto dia dan teman-teman kuliahnya di universitas swasta mahal di kota tersebut. memang mereka keren dan terlihat orang yang berada. Pada waktu risa berkunjung ke rumah, 2 teman SMA saya juga lagi berkunjung. 2 orang teman saya tersebut adalah orang biasa, dan Risa sama sekali tidak menghiraukan mereka. 2 teman tersebut juga bersekolah di SMA yang saya dengan Risa. Namun Risa seakan tidak mengenal mereka. Padahal 2 teman ini sangat excited bisa bertemu dengan Risa. Maklum risa keren. Tetapi mereka hanya bisa bersedih ketika Risa tidak menggubris mereka. setelah itu saya tidak lagi bertemu dengan Risa.

Setelah bertahun-tahun, pada suatu sore di kantor, saya mendapat telfon dari risa, dia mendapatkan nomor hp saya dari kakak saya.  Saya senang, saya berharap dia akan berubah, namun ternyata tidak. Di menit kedua pembicaraan di telfon, dia langsung bercerita mengenai pekerjaannya: kalau dia pernah bekerja di beberapa perusahaan ternama di Indonesia, dan sudah tinggal di beberapa kota besar, dan dia juga pernah bekerja di luar negri. Dia bangga dengan pencapaiannya. Dan seakan ingin membandingkan, dia bertanya mengenai pekerjaan saya. saya jelaskan kalau saya turut bahagia dengan kesuksesannya dan mengenai pekerjaan, kerjaan saya lumayan, namun tidak sehebat dia, jawab saya. Dia sedikit bangga dan kembali melanjutkan cerita, kali ini mengenai suaminya, suaminya pintar, kaya, dan sukses. Trus dia bertanya lagi, kapan saya menyusul? saya jawab dengan santai, kalau saya belum seberuntung dia, saya masih belum bertemu dengan pria yang tepat.

Dia masih ingin bercerita lebih banyak mengenai kesuksesan dirinya yang lain, yang dulu mungkin akan saya layani, tetapi tidak sekarang. Saya mengakhiri percakapan itu. Setelah itu saya merenung, apakah saya masih seperti saya yang dulu? mungkinkah tahun dan juga pengalaman hidup saya telah membuat saya menjadi orang yang lebih baik? atau saya masih seperti saya yang dulu tidak beda dengan risa? saya tidak tahu. Tetapi tak lama kemudian saya tersenyum, Risa, masih sosok yang sama. Saya tidak merasa bersalah mengakhiri percakapan dengannya.

Waktu tidak akan merubah anda, tetapi anda akan berubah jika anda memiliki keinginan  dan tekad yang kuat untuk berubah.  Dan jangan lupa, kalau semuanya adalah proses dan butuh waktu, jadi jangan pernah menyerah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s