Mudik sudah dekat

Sebagai pendatang di Jakarta, tentu saja aku akan mudik ke Kampung Halaman. Saya sudah meninggalkan rumah tanah kelahiran saya dari umur 18 tahun.  Dan tentu saja saya salah satu dari sekian juta orang di Indonesia yang sangat bersemangat mudik pada usia tersebut. Saya sangat menantikan untuk bisa segera libur kuliah dan pulang ke Rumah.

Kegiatan yang paling saya senangi tentu saja buka puasa bersama. Di tahun pertama saya kuliah, teman-teman SMA saya masih pada single semua (teman SMA ketika di kelas 3).  Di lebaran kedua, teman-teman SMA saya sudah mulai ada yang menikah, namun jumlahnya paling baru 10 persen.  Ketika lebaran ke tiga dan ke empat, sekitar 70% dari teman satu kelas SMA saya sudah pada menikah.  Dan jumlah partisipan yang hadir pada acara buka puasa bersama semakin lama semakin berkurang.  Alasannya? Harus mengurus anak, anak sakit dan tidak bisa ditinggal, akhirnya yang datang buka puasa bisa dihitung dengan jari.

Sekarang adalah tahun ke 9, saya meninggalkan tanah kelahiran saya.  Dan yang belum menikah hanya tersisa sekitar 2%, dan saya adalah salah satunya.  Teman-teman saya bilang kalau saya terlalu career oriented, dan sering mereka menasihati saya agar segera menyusul untuk berkeluarga.  3 tahun terakhir saya mendapatkan pertanyaan yang sama.  Dan hal tersebut mulai terasa mengganggu.  Seakan-akan bahwa dalam kehidupan saya ada yang kurang dengan status single saya.

Tetangga rumah juga kadang sering melontarkan candaan yang sama, dan lebih parah lagi jika saya berkunjung ke kampung halaman bokap dan nyokap saya.  Sifatnya bukan lagi pertanyaan. Dan hal tersebut diulang dan diulang. Dulu orang tua saya juga mendesak, dan bertanya apakah saya mau di jodohkan? Saya tentu saja marah. Dua tahun hal ini selalu menjadi perdebatan antara saya dengan orang tua, terutama nyokap saya.  Tetapi sekarang dia mengerti.  Mungkin tidak sepenuhnya mengerti, yang penting dia sudah mulai berhenti bertanya.  Dan hal tersebut tentu saja mengurangi beban saya.

Jika anda menemukan pasangan yang tepat dan anda ingin membangun keluarga bersama, tentu saja hal tersebut sangat bagus. Dan saya turut berbahagia untuk anda.  Namun jika anda belum menemukan orang yang tepat, akankah anda menikahi siapa saja, hanya untuk terbebas dari pertanyaan tersebut?  Jawaban saya adalah jangan.  Tuntutan keluarga, masyarakat, tidak akan pernah cukup.  Disaat anda sudah menikah maka anda akan segera dituntut untuk memiliki anak.  Dan jika dalam waktu 4 tahun pernikahan anda belum memiliki anak, anda dianggap sebagai perempuan yang tidak sempurna.  Dan orangpun mulai akan bertanya kepada anda dan menyarankan anda berobat ke sana dan kesini.

Saya memiliki sepupu perempuan yang berada pada kategori ini.  Sudah tiga tahun dia berobat ke dokter, check up rutin, namun masih belum membuahkan hasil.  Dan dia menjadi tidak bahagia.  Belum pertanyaan orang dan keluarga yang harus dijawab, ‘kok belum punya anak? Cepeten dong’.  Dasar orang-orang aneh, kok malah mendesak orang lain untuk punya anak, memangnya punya anak itu seperti membuat teh, gampang? Belum lagi biaya dan banyak hal lain yang juga harus difikirkan.

Balik lagi mengenai mudik, apakah saya senang pulang kali ini? ternyata jawabannya tidak. Berbeda dengan dulu ketika saya mengenal kata mudik untuk pertama kali.  Saya saat itu senang banget.  Tetapi saat ini saya menganggapnya sebagai mimpi buruk.  Saya senang karena bisa berjumpa dengan orang tua, adek dan kakak saya. Namun untuk bertemu dan reuni dengan teman-teman SMA? Sepertinya tidak.  Mereka akan sibuk berbicara mengenai anak, suami, dan tidak lupa akan menguliahi saya.

Saya takut? Tidak, kenapa saya harus takut ketika orang berkomentar akan status saya.  Saya yang mengerti hidup saya.  Saya yang paling tahu apa yang saya jalankan.  Punya keluarga juga belum jaminan hidup bahagia.  Belajar dari pengalaman saya, saya menjadi lebih sensitif dengan orang lain. Saya tidak akan bertanya mengenai status dan jumlah anak kepada perempuan yang saya temui, kecuali jika dia yang memulai percakapan tersebut.  Dan jika anda kebetulan membaca artikel ini, maka pertimbangkanlah perasaan teman anda yang single tersebut.

Beberapa teman single yang saya kenal, mereka mengharapkan seorang pendamping hidup, namun orang yang ditaksir tidak pernah menaksir balik, dan mereka bersedih.  Sekarang bayangkan, pertanyaan2 terkait dengan status hanya akan menambah beban mereka.  Saya tidak terbeban, hanya saja saya terganggu dengan pertanyaan tersebut.  Atau mungkinkah pertanyaan tersebut menjadi beban saya? Oppps.. tidak.

Anyway, besok saya akan mudik.  Let’s wait and see.  Nanti saya akan update lagi.   Masih mengenai mudik, saya tertarik untuk menulis hal lain terkait dengan mudik, yaitu terkait dengan biaya. Saya akan menulis di artikel selanjutnya.  Sebelum saya akhiri, saya akan menyerukan ini, all the single ladies, good luck dengan Mudik-nya ya.  Selamat liburan, dan semoga liburannya menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s