Cukup Siti Nurbaya

Aku termenung cukup lama, dan akhirnya memutuskan untuk menulis cerita ini. Ini adalah hari ke-empat aku di tanah kelahiranku.  Hari pertama berjalan dengan lancar. Semua berjalan seperti yang aku harapkan.  Aku merasa bahagia bisa pulang dan bertemu dengan orangtua dan saudara.  Hari kedua berjalan biasa, hampir sama dengan hari pertama. Semua begitu manis. Hari ketiga adalah hari lebaran. Di hari ini saya mendapati ceramah singkat dari nenek, ketika berkunjung ke rumahnya.  Menurut dia saya sudah berumur, atau bahasa lain terlalu tua untuk seorang wanita, dan seharusnya pada usia 27 tahun ini saya sudah menikah.  Dia bertanya apakah saya bersedia jika dia mencarikan jodoh untuk ku? dia menjelaskan panjang lebar kalau perempuan tidak ada artinya memiliki pekerjaan dan karir yang bagus jika dia belum menikah.  Tidak menikah adalah hal yang tidak disukai oleh tuhan.  Dan jika saya masih terus menunda untuk menikah maka akan ada suatu masa dalam hidup saya dimana semua sudah terlambat.  Aku akan menjadi tua dan tidak ada orang lagi yang mau dijodohkan dengan ku. Jika anda membaca blog ini jangan tertawa.  Fakta masih ada orang untuk menjodohkan cucunya di zaman segini.

Nenek tidak inin mendengarkan apa yang sudah ku capai, apa yang sedang ku kerjakan, dan hal apa yang membuat ku bahagia dalam hidup ini.  Perasaan dan juga apa yang aku fikirkan tidak penting. Yang dia tahu adalah apa yang dia rasakan.  Dia berumur 84 tahun. Dan itu adalah salah satu senjata yang selalu dia gunakan.  Nenek pengin melihat kamu menikah sebelum nenek meninggal. Aku menjawab, tentu saja di dalam hati, jika dia ingin meninggal, ya silahkan meninggal, tidak perlu menunggu diriku menikah dulu kan? masa mau masuk surga harus tertunda gara-gara menunggu sebuah pernikahan? yang meskipun aku menikah, dia juga pasti belum tentu akan meninggal dengan tenang, pertanyaan selanjutnya adalah, nenek mau menimang cucu dulu sebelum meninggal. Seluruh ekspektasi, harapan orang lain, tidak akan pernah berakhir, terus bagaimana dengan harapan ku?

Kadang aku ingin berfikir bahwa usia 27 tahun belumlah usia yang tua.  Namun tidak menurut sebagian besar orang. Aku berfikir kalau jika saatnya tiba, jika aku bertemu dengan orang yang tepat maka tidak ada alasan untuk hidup sendiri.  Nenekku bertanya, kapan saat itu tiba? kapan saya bertemu dengan orang yang tepat? Nenek saya tidak percaya dengan istilah ‘orang yang tepat’ bagi dia, jika aku serius mau mengikuti nasihatnya untuk menikah, maka aku tinggal bilang iya dengan perjodohan yang akan dia siapkan.  Dengan penuh keyakinan dia bilang, kalau dalam waktu satu bulan, dia bisa menemukan orang yang tepat untuk ku. Aku cukup menyebutkan tipe pria seperti apa yang aku harapkan, dan dia dengan kenalan, dan kontak yang dia miliki, akan mencarikan untuk-ku.

Aku tersenyum, apakah aku akan menjadi siti nurbaya di abad 21?  Menurut nenek, disaat aku berusia 30 tahun nanti, tidak ada lagi pria yang bersedia menikah denganku, mereka akan mencari perempuan yang lebih muda, seluruh pria baik sudah akan menikah pada usia tersebut. Jadi, jika aku belum bersedia dengan perjodohan, maka aku harus bisa menemukan pendamping sebelum aku berusia 30 tahun, malah kalau menurut dia, usia 27 tahun saja sudah susah. Harga mati adalah di usia 28 tahun.  Jika pada usia 28 nanti aku masih belum menemukan seseorang maka suka tidak suka aku harus bersedia menerima perjodohan.  Banyak orang yang berharap kalau nenek mereka bisa hidup lama, dan mungkin sampai usia 100 tahun, namun aku malah sebaliknya, sisi jahat dalam diriku berkata, kalau seandainya pada usia 28 tahun tersebut aku masih belum bertemu dengan seseorang, maka sebaiknya nenekku sudah berada di dunia lain, sehingga ultimatum tersebut tidak terlaksana. Jika nenekku sudah di surga, maka dia hanya bisa berdoa, tapi dia tidak akan bisa memaksa.

Apa hebatnya nenek-nenek dengan usia 84 tahun? dia sosok yang luar biasa dan powerful, dan demi tuhan aku takut padanya. 3 orang saudara sepupu perempuanku, sukses menikah, lewat perjodohannya.  Dia mempengaruhi tanteku, hampir setiap hari, dia menelfon tanteku, dan mengingatkan kalau anak gadis tanteku sudah berumur sehingga harus segera dinikahkan, padahal pada waktu itu sepupuku baru berumur 24 dan 26 tahun.  Menurut nenek, dia sukses.  Karena sepupuku tersebut sekarang sudah menikah dan punya anak.  Suami mereka baik, memiliki pekerjaan yang bagus, punya mobil, dan ukuran materi lainnya. Kalau suami mereka sering dinas ke bangkok, ke Jerman, dan juga ada yang sedang bersekolah di Jepang. Sebagian besar sepupuku berpendidikan tinggi, mereka siswa terbaik di fakultasnya, namun tidak ada satupun dari mereka yang bekerja, alasannya, suami tidak mengizinkan.  Jika suami sudah memiliki pekerjaan bagus, biar mereka yang mencari nafkah, dan istri harus di rumah mengurus anak. Nenekku sangat bahagia dengan kesuksesannya dalam menjodohkan sepupuku.  Namun apakah sepupuku bahagia?

Jika dilihat dari rumah megah yang dia miliki, mobil, maka mungkin orang akan bilang kalau mereka bahagia.  Namun jika sudah dikaitkan dengan wewenang dalam rumah tangga, maka mereka sama sekali tidak memiliki ‘kekuatan’ dalam membuat keputusan.  Uang banyak, namun hanya bisa dikeluarkan atas persetujuan suami, jika hendak pulang kampung menemui nenek, tidak boleh pergi sendiri, harus ditemani oleh suami. Dan bagaimana jika suami tidak punya waktu, maka mereka tidak jadi pulang. Demikian dalam hal sekolah anak, dan banyak dalam hal lainnya, semua harus atas persetujuan suami.  Ketika hal ini aku sampaikan kepada nenek, menurut dia, memang itulah tugas wanita.  Wanita harus patuh dengan suami. Dan apapula wanita bekerja jika suami sudah mencukupi segala kebutuhan materi istri dan keluarga?

Jika aku mengatakan setuju terhadap perjodohan, maka aku sudah membayangkan kehidupanku kedepan nanti. Dan apakah aku salah jika menolak permintaan nenek? aku memiliki visi hidup yang berbeda. Aku memiliki mimpi dan tujuan hidup. Dan aku belum siap untuk menghapus dan menyingkirkan mimpi tersebut.  Terus untuk menjawab harapan dia? perlu dia ketahui kalau menemukan pasangan yang cocok dan hidup bersama dengannya dalam suka dan duka bukan hanya impian nenek, namun impianku juga. Siapa yang tidak menginginkan seorang pendamping dalam hidup? aku menginginkan seorang pendamping yang memiliki sifat petualang, yang peduli dengan hal yang banyak tidak lagi dipedulikan oleh orang lain, orang yang kaya wawasan dan pengetahuan, orang yang mendukung ku sehingga menjadi manusia yang lebih baik, bukan seorang pendamping yang mengharapkan agar aku membunuh mimpiku dan hidup memenuhi mimpinya. Orang yang juga suka berkebun dan bertani, jalan-jalan, mitra dan teman berdiskusi yang menyenangkan.

Kakak kandungku, menikah atas dasar cinta, dan aku melihat dia sangat berbahagia, berbeda dengan sepupuku.  Kakakku juga bekerja. Bahkan dia berbeda di luar kota, dan berjauhan dari suaminya.  Namun mereka bahagia.  Mata mereka, senyum mereka, perkataan mereka, mereka adalah pasangan yang serasi.  Suaminya menghargai dia, dan mereka memiliki peran dan wewenang yang sama dalam rumah tangga yang mereka bangun. Nyokapku juga menikah berdasarkan cinta, mungkin awalnya dia tidak mencintai bokapku, namun karna kegigihan bokapku mengejar cintanya membuat dia goyah juga.  Dia sepenuhnya sadar dengan keputusannya ketika menerima pinangan bokapku.  Dia menikah bukan karena perjodohan. Dan mereka juga menikah bahagia.  Mungkin secara harta baik kakakku dan juga orang tua ku tidak berlimpah seperti halnya tanteku, namun mereka berbahagia.  Bokap tidak pernah membentak, atau mengeluarkan kata-kata kasar.  Aku tidak bisa mengingat sekalipun pertengkaran mereka.  Bokapku tidak segan mencuci piring setelah dia makan. Atau kadang jika dia tidak terburu-buru berangkat ke kantor dia ikut membantu menjemur baju.
Aku menginginkan kehidupan yang seperti itu.  Salah kah jika tuhan sampai sekarang masih belum mempertemukanku dengan orang tersebut.

Aku meninggalkan rumah nenek hari ini, dan perasaan aku tidak menentu.  Aku gamang. Aku takut. Aku kecewa tidak bisa memenuhi harapannya.  Nenek, aku mencintai mu, aku menghormatimu, namun aku berharap dirimu juga menghargai harapan ku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s