Sukses bukan hadiah

Sering kita kagum dan kadang iri dengan kesuksesan orang lain. Mereka memiliki segalanya, mereka terlihat bahagia.

Dan hal tersebut membuat kita semakin kecewa, kok orang bisa mencapai apa yang mereka inginkan, yang juga merupakan hal yang anda inginkan, namun anda tidak bisa mencapainya. Anda merasa frustasi karena anda sudah berjuang dan berusaha keras. Namun anda lupa, bahwa orang sukses yang anda lihat itu ternyata berusaha lebih keras lagi dari anda. Lupakan masalah nasib baik atau nasib buruk. Anda tidak akan pernah maju jika anda berfikir bahwa nasib anda memang jelek, jadi sekeras apapun anda berusaha maka anda tidak akan pernah berhasil. Sebaliknya anda berfikir kalau orang yang berhasil mencapai impiannya adalah orang yang beruntung, mereka tidak bekerja lebih keras dari pada anda.

Tetapi ketahuilah, anda salah. Saya banyak bertemu dengan orang yang sukses karena usahanya sendiri. Mereka memiliki keinginan dan tekad yang kuat terlepas dari banyaknya rintangan yang menghadang di depan. Saya memiliki kenalan, anggap namanya mba Karin. Mba karin adalah seorang wanita cantik yang merupakan dosen di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Dia bergelar Phd meski tidak terlihat kutu buku. Orangnya sangat ramah, supel dan sering tersenyum. Kemana-mana dia diantarkan oleh Supir pribadinya. Dia memiliki dua orang anak yang satu sudah kuliah, dan kedua anak ini berprestasi. Secara harta mereka tidak kekurangan. Mba karin juga anak seorang dosen. Ayahnya dulunya adalah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi, Karin bercerita kalau dulu dia sering berdiskusi dengan ayahnya diperpustakaan, dan mungkin itu adalah awal kecintaannya terhadap buku dan menimba ilmu. Karin kecil sudah di jejelin oleh buku-buku koleksi ayahnya yang tidak bisa dibilang buku ringan. Suami Karin adalah seorang pejabat terhormat. Banyak orang yang mendambakan untuk memiliki kehidupan seperti karin. Karin bercerita kepada saya, kalau beberapa teman kuliahnya dulu, dan beberapa teman satu profesi bilang “Karin kamu enak ya, sudah bergelar Doktor, aktif di luar kampus juga, istri seorang pejabat, punya dua anak yang pintar dan jenius, hidupmu sungguh berbahagia Karin… ” Karin hanya tersenyum, ketika teman-temannya berkomentar demikian.

Tetapi dia menjelaskan kepada saya. “Saya tidak terima mereka berkata demikian. Itu sungguh tidak adil. Mereka hanya melihat saya yang sekarang. Mereka hanya melihat apa yang sudah saya raih. Namun mereka tidak pernah melihat ataupun bertanya bagaimana saya meraih semua itu. Itu bukanlah hal yang mudah, bahkan hingga sekarang saya masih terus berjuang mempertahankan apa yang saya miliki” Saya memiliki semua itu bukan karena tuhan menghadiahkan secara cuma-cuma kesaya, namun karena saya berjuang untuk itu” dia melanjutkan.

Meskipun ayah saya berpendidikan tinggi, dan juga lulusan universtas di luar negri, beliau tidak pernah memanjakan anak-anaknya dengan hadiah. Mereka sekeluarga hidup sederhana. Ayahnya tidak hanya mendidik muridnya di kampus, namun hal yang sama juga dilakukan terhadap anak-anaknya. Beliau sangat cinta ilmu dan bangga ketika Karin mengikuti jejak langkahnya. Sebelum beliau pergi berpulang kepangkuan tuhan, dia berpesan ke Suami karin, agar karin direstui jika dia berniat untuk meneruskan sekolah lagi.

Setelah bapaknya meninggal, suami Karin tidak serta merta memberikan izin, adalah proses negosiasi bertahun-tahun baru akhirnya karin berhasil meyakinkan suaminya. Suaminya tetap menuntut agar Karin, yang selain sekolah juga bekerja, agar tetap menjalankan tugas sebagai ibu dan istri tanpa ada kompensasi. Dia bertindak sangat arogan, dan tidak memposisikan diri sebagai mitra. Bagi dia mengurus rumah tangga dan anak tetap adalah pekerjaan si istri. Alhasil, Karin hanya tidur 3-4 jam sehari. Malam dia harus bangun untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, dan subuh mempersiapkan sarapan pagi untuk suami dan anaknya. Hal itu dia lakukan bertahun-tahun hingga dia manamatkan program studi doktornya.

Hambatan tidak hanya datang dari suami, dia juga mengalami banyak musibah, yang orang lain mungkin sudah akan berputus asa. Namun tidak bagi karin. Hidup itu adalah perjuangan. Kita hanya bisa berhasil jika kita bekerja keras meraihnya. Kita tidak bisa mendapatkan yang kita inginkan, itu karena usaha kita masih kurang untuk mencapai impian tersebut. Jadi jika anda belum berhasil bukan karena nasib anda yang sial atau karena tuhan tidak berpihak kepada anda. Tetapi tidak lebih karena usaha anda yang masih kurang. Sambil menulis ini saya juga mengintropeksi diri, ternyata usaha saya masih kurang. Jika saya fikir saya sudah bekerja keras dalam menggapai impian saya, saya seharusnya malu, karena banyak orang yang usahanya lebih maksimal dari kita. Jangan menyerah, seprti karin, Hidup itu adalah berjuang. Kita harus berjuang demi mencapai sebuah impian.

Effort is a commitment to seeing a task through to the end, not just until you get tired of it. Howard Cate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s