Agribisnis dan lapangan kerja

Saya memiliki seorang teman di daerah Sumatra yang memiliki tanah warisan berupa satu buah bukit, saya kurang tahu pasti persis-nya berapa jika di konversi ke Hektar.  Umurnya masih muda dan saat ini dia bekerja sebagai anggota DPRD.

Belakangan dia sering menghubungi saya.  Dia meminta saya membantunya untuk memanfaatkan lahan tersebut.  Dulu ayahnya sering bertanam beragam jenis sayuran dan singkong di sana, namun semenjak ayahnya meninggal bukit itu menjadi terlantar.  Saya pernah berkunjung ke Bukit tersebut, waktu itu saya dan beberapa teman yang lain mencari durian dan juga rambutan di bukit itu.  Saya ingat kalau disana ada sungai kecil dengan air yang jernih. Bukit tersebut hijau, dan subur, dan juga dekat dari daerah ibukota provinsi.

Saya belum berani menerima tawaran investasi atau bermitra dengannya. Dia sosok yang bisa dipercaya demikian juga dengan keluarganya.  Kemungkinan permasalahan atau pertikaian kedepan relatif kecil.  Tetapi meskipun demikian jika saya nanti jadi bekerjasama dengannya maka kita harus membuat perjanjian hitam diatas putih dan disaksikan oleh Notaris.  Untuk ini saya harus pelajari lebih lanjut.

Saya memiliki teman yang bekerja di sektor agribisnis, menurutnya banyak buah Indonesia yang diminati oleh pasar ekspor, termasuk pasar eropa.  Manggis, Mangga Harus Manis, Nenas, Buah Naga adalah beberapa komoditas yang peminatnya cukup tinggi.  Apalagi jika buah tersebut bisa disertifikasi sebagai buah organik maka demand-nya akan lebih besar lagi.  Menurut teman saya, beberapa pengusaha perkebunan yang dia temui cukup puas dengan hasil yang di dapat dari bisnis produk pertanian. Tetapi demand dari sebuah komoditi cukup fuktuatif.

Satu minggu yang lalu, di pesawat, dalam perjalanan pulang ke Jakarta, saya bertemu dengan satu orang lelaki muda, dia bercerita kalau ayahnya seorang dokter yang sudah tua, ayahnya sangat suka berkebun. Sekarang ayahnya berkebun buah naga.  Tetapi dia sendiri tidak suka berkebun.  Dia bercerita kalau dia bekerja di bisnis properti.  Kita bertukar kartu nama.  Beberapa hari setelah itu, dia menghubungi saya.  Dia mengajak bertemu untuk berbicara mengenai lahan milik temannya, lokasinya tidak jauh dari Jakarta.  Temannya tertarik untuk mengembangkan usaha outbond dan tempat pelatihan, dan juga resot kecil.

Dari dua cerita yang hampir saya saya jadi berfikir, apakah sekarang saat yang tepat bagi saya mulai berinvestasi di agribisnis? Kadang saya bilang bahwa sekaranglah saat-nya, namun disisi lain saya juga masih memiliki mimpi lain.  Saya masih memiliki the african dream.  Jika saya sudah mewujudkan itu maka saya siap untuk mewujudkan mimpi saya yang lain. Mengembangkan hobi bertani saya dan membuka kesempatan kerja di daerah perdesaan.  Sehingga penduduk Jakarta tidak terus bertambah.

Saya akan lanjutkan lagi nanti.  Saatnya kembali bekerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s