Eat Pray and Love

Saya makan siang lebih cepat dari biasanya.  Sehingga saya masih memiliki waktu luang disaat istirahat siang.  Trus apa manfaat waktu yang tersisa bagi saya? Jawabannya sudah pasti untuk meng-update blog.  Cuaca hujan yang terus menerus satu minggu terakhir di Jakarta membuat saya lebih banyak ingin menulis mengenai perasaan.  Rasanya menyenangkan intropeksi diri sambil menatap rintik hujan dan mendengarkan irama merdu-nya.  Tidak salah jika hampir disetiap film India kita bisa menemukan adegan orang lagi lari-lari sambil basah-basahan.  Trus penonton film akan menghabiskan sekotak tisu melap airmata karena cerita romantis yang mengharus biru.

Saya kemarin menerima email kalau teman saya yang awalnya berencana berkunjung ke Jakarta dari Bali, tetapi dia terpaksa mengundur rencananya dikarenakan dia mengalami sakit yang serius dan tidak bisa bangun dari tempat tidur.  Dia bercerita kalau berat badan dia turun drastis.  Saya sudah lama tidak bertemu dengannya.  Dia orang yang serius, namun menyenangkan.

Kedatangan-nya ke Jakarta berhubungan dengan rencana bisnis yang sedang dia kembangkan. Dan saya berniat untuk membantu-nya.  Saya tidak berfikir mengenai profit, tapi bagi saya melihat usaha teman berkembang dengan baik itu adalah sebuah kebanggaan.  Apalagi jika usaha tersebut bisa menyerap tenaga kerja dan juga bisa mencerahkan dan membuat hidup orang menjadi lebih baik.  Bisnis teman saya berhubungan dengan peningkatkan kapasitas, bagaimana orang bisa mengenal dirinya dan juga meningkatkan emotional intelligence-nya.  Teman saya tersebut sangat tertarik dengan konsep-konsep keseimbangan ‘mind, body and soul’.  Dia sendiri suka ke Bali karena Bali memiliki unsur magis dan spiritual yang tinggi.  Berbicara mengenai Bali saya jadi ingat Film Julia Roberts, Eat Pray and Love.  Salah satu setting fim tersebut adalah di Bali.  Tetapi katanya film tersebut masih belum di luncurkan.  Mari kita tunggu.

Dua orang sahabat baik saya belakangan susah dihubungi.  Saya tidak mengerti kenapa. Bisa jadi mereka sibuk.  Karena saya tidak bisa bercerita dengan mereka maka saya akan bercerita pada blog ini.  Mengenai usaha kebun sayuran, saya sudah mendapatkan respons dari beberapa orang yang saya hubungi.  Ternyata meskipun kebun yang hanya seluas 50m2 persegi membuatnya tidak semudah yang saya bayangkan.  Kesulitan terbesar saya adalah saya tidak memiliki mitra, teman atau asisten yang bisa membantu saya mewujudkan mimpi saya.

Saya tidak tahu dimana toko yang menjual plastik UV, jaring, tiang kayu, dan saya juga tidak memiliki kenalan tukang yang bisa membantu saya untuk membangun kebun bertingkat tersebut.  Belum untuk perawatan, saya bekerja full time dan sering bepergian, dan kebun saya akan terlantar.  Saya sudah memposting iklan mencari seorang asisten yang saya gaji bulanan, namun tidak ada yang merespon. Kemungkinan besar mimpi berkebun saya akan saya tunda dulu.  Sebagai gantinya mungkin saya akan beternak ikan.  Ini juga masih ide, let’s see gimana jadinya.  Yang pasti saya sangat excited menjalankan ide ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s