Red Chanel dan Film Mandarin

Ketika liburan lebaran kemarin salah satu teman SMA saya menanyakan apakah saya masih tergila-gila dengan film mandarin.  Saya hanya tersenyum karena saya sudah tidak ingat lagi kalau saya pernah menjadi fans berat-nya filmnya Andy Lau, Aaron Kwok, Tony Leung, Jimmy Lin, Chow Yun Fat dan lain-lain.  Ingatan saya malayang pada masa saya masih ABG, kamar saya pernah dipenuhi oleh actor mandarin tersebut.  Poster yang paling banyak yang menghiasai kamar saya adalah posternya Andy Lau.  Pada saat itu saya cinta mati dengan Andy Lau.  Actor kedua yang menjadi favorite saya adalah Aaron Kwok. Film yang dibintangi oleh Aaron Kwok yang paling berkesan bagi saya adalah A Moment of Romance (meskipun saya tidak ingat lagi dengan jalan ceritanya tetapi saya masih ingat ending filmnya ketika Aaron Kwok ditembak mati ketika mengendarai motor balap-nya.  Ah, bagaimana saya bisa lupa dengan hobi saya tersebut.

Ketika saya duduk di Bangku SMA, saya disibukan dengan sekolah dan banyak kursus ilmu eksak di luar sekolah.  Saya harus melupakan kursus bahasa mandarin dan juga bahasa Jepang yang pernah saya impikan. Saya jarang menonton film.  Ketika saya duduk di bangku kuliah, film korea sedang booming.  Tetapi lagi-lagi saya tidak memiliki cukup waktu luang untuk menonton TV.  Saya tidak terkena demam film Meteor Garden, dan banyak film korea lainnya. Baru ketika saya duduk di tingkat akhir kuliah saya kembali menonton film.  Namun film yang banyak di sewakan adalah film barat, Tom Cruise dan sejenisnya.  Pada awalnya menyenangkan juga menonton film holywood tetapi lama kelamaan saya merasa kalau tidak banyak ‘nilai’ atau ‘pembelajaran’ pada film tersebut.  Tetapi meskipun demikian, karena pilihan film yang ada mostly film holywood mau tidak mau akhirnya saya menonton film tersebut. Untuk mengimbangi kebosanan saya, saya mulai hunting film-film festival.  Film-film yang lebih ‘berisi’ yang tidak sekedar menjual wajah aktor dan teknologi hollywood.
Saya juga berlangganan TV kabel, saya senang menonton drama korea di KBS. Saya masih ingat saya menangis tersedu-sedu ketika saya menonton serial ‘a love to kill’, saya sampai malu karena pada saat saya menangis tersebut teman saya menelfon dan mengajak nongkrong minum kopi, yang terpaksa saya tolak karena seri TV tersebut baru saja dimulai.  Saya juga menonton celestial movies.  kadang saya bisa menonton film mandarin menarik di celestial movies chanel.  tetapi saya tidak terlalu terkesan dengan chanel tersebut.

Balik lagi ketika liburan lebaran, saya mengenal Red chanel. Saya bosan menonton HBO atau Cinemax, yang sangat tipikal Hollywood. Ketika kembali ke Jakarta saya menambah Red Chanel di list TV Chanel saya.  Tetapi karena namanya belum begitu kuat di dalam memory saya, saya jarang mampir ke chanel tersebut.  Pagi ini saya tidak tertarik dengan siaran di HBO, HBO Signatures, HBO Hits, Cinemax, dan lain-lain. Saya sudah ganti-ganti chanel namun masih belum menemukan siaran yang pas.  Saya mau pergi berolah raga juga masih malas.  Badan saya agak sedikit pegal karena baru pulang dari Anyer dengan rekan-rekan kerja. Dan dengan sengaja saya memeriksa film yang sedang di putar di Red Chanel.  Ada judul yang unik yang menarik perhatian saya. Baby Baby Baby.  Sebuah film komedi dari jepang. Sayapun akhirnya duduk manis menonton acara tersebut. Film tersebut sangat menghibur, lucu, namun juga sarat dengan pesan moral. Film ini bercerita mengenai wanita jepang di usia 30an yang dengan susah payah membangun karir ditengah dunia kerja yang sangat male-dominated.  Dia bekerja siang dan malam dan sangat perfectionist, hingga dia mendapatkan tawaran yang dia inginkan. Menjadi pimpinan sebuah majalah, dimana dia akan menjadi wanita jepang pertama menjabat posisi tersebut.  Tetapi tidak sengaja dia hamil, dan kantor tempat dia bekerja dengan tega dan sengaja memberikan pekerjaan tersebut terhadap rekan laki-laki-nya.  Film ini bercerita mengenai bagaimana dia melalui proses kehamilan, menerima ayah si bayi yang tidak memenui standar, bagaimana akhirnya dia bisa melihat sisi lain hidup diluar dari pekerjaan.  Film ini berakhir happy ending.  Dan dari awal sampai akhir film ini benar-benar mengocok perut.

Bagi anda yang juga lagi bosan dengan film komersil dan mainstream yang beredar di pasaran saat ini, anda bisa mencoba Red Chanel. Di Red chanel anda bisa menemukan film Korea, Jepang, mandarin, dan beberapa film dari negara asia lainnya.  Atau jika anda juga tertarik dengan film-film festival, anda bisa mencarinya di daerah dekat kemang food festival. Dia sana ada dua toko DVD besar, salah satu dari dua toko DVD tersebut memiliki pojok khusus untuk film-film festival. Beberapa hari yang lalu saya membeli DVD Where God Left His Shoes, Silly Sweet Summer, dan Romulus my Father.  Saya belum menonton tiga dari judul film yang saya sebutkan tersebut. Tetapi dari sinopsis film yang baca, saya yakin kalau film tersebut menarik.

Saya akan sudahi disini.  Saya masih memiliki banyak pekerjaan yang harus saya lakukan. Olahraga termasuk satu diantaranya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s