Dokter bukan dewa, jadilah pasien kritis.

Sudah hampir seminggu saya tidak  meng-update blog ini.  Alasan klasik, saya sibuk. Hari ini saya menyempatkan untuk menulis. Ada beberapa hal yang hendak saya tulis, dan hal ini adalah penting bagi saya. Saya sudah sering mendengar berita tentang mal praktek dokter di Indonesia atau kesalahan analisis yang dilakukan oleh dokter.  Bahkan rumah sakit mahal sekalipun juga tidak bisa memberikan jaminan keakuratan hasil analisa mereka. Tetapi saya sendiri belum pernah mengalami. Jadi saya tidak bisa berkomentar terhadap banyak pemberitaan di media atau postingan pribadi individu di blog mereka.  Hingga kemarin saya dikejutkan dengan sebuah hasil rekomendasi dari medical check-up yang saya lakukan.

Saya sehat secara fisik.  Saya rajin berolah raga dan pola makan juga terjaga. Saya tidak pernah makan berlebihan. saya juga tidak mencintai junk-food, jeroan, atau makanan bersantan. Saya tidak pernah dirawat di rumah sakit selama 20 tahun terakhir. Saya tidak merokok dan saya tidak minum. Saya tidak pernah punya keluhan berarti.  Jika saya sakit biasanya hal tersebut selalu berhubungan dengan lambung, dan saya sudah sangat mengenal penyebabnya, kopi dan makanan pedas. Jika saya mengkonsumsi makanan pedas dan kopi secara berlebihan maka asam lambung saya akan naik sehingga saya akan mual.

Saya memiliki asuransi kesehatan yang dibayar oleh kantor.  Limit-nya cukup besar, karena saya jarang sakit, saya jarang menggunakannya.  Teman saya menyarankan agar saya tidak membuang fasilitas kesehatan yang tidak semua orang mendapatkannya.  Saya harus memanfaatkannya meski saya tidak sakit. yaitu dengan melakukan medical check-up secara rutin. Medical check-up menyeluruh. Tetapi saya menganggap ini tidak terlalu penting, umur saya masih muda dan gaya hidup saya sehat.  Dan satu lagi saya tidak terlalu percaya dengan dokter.  Saya tahu bahwa banyak dokter yang kompeten di Indonesia, bahkan saya juga punya teman dokter, namun bukan salah saya juga jika saya tidak lagi percaya dengan dokter berdasarkan banyak pengalaman dari sahabat, keluarga, dan juga pemberitaan di media.

Suatu ketika saya membutuhkan surat keterangan sehat untuk penugasan saya di luar negri, dimana saya diminta melakukan sejumlah tes.  Mau tidak mau saya harus ke dokter. Saya memilih rumah sakit terbaik bertaraf internasional untuk melakukan tes tersebut.  Meskipun harga yang saya bayar hampir dua kali lipat dibandingkan dengan rumah sakit lain (saya membayar 1,5 juta untuk basic test medical check-up).  Sebenarnya teman saya menyarankan agar saya melakukan tes di prodia saja; hasilnya lebih cepat, peralatan terbaru, dan juga reliable. Tetapi karena saya sudah berlangganan dengan rumah sakit tersebut (sebelumnya saya periksa gigi dan berobat ketika demam disana), dan jarak rumah sakit juga dekat dari rumah maka-nya saya tetap memilih rumah sakit tersebut.

Rumah sakit tersebut bersih dan nyaman. Tidak seperti gambaran rumah sakit pada umumnya. Ketika saya tiba, seorang perawat dengan senyum ramah sudah menunggu saya (saya sudah bikin janji sebelumnya).  Perawat ini menjelaskan paket-paket tes kesehatan yang ditawarkan oleh rumah sakit tersebut. Saya bilang kalau saya mau melakukan tes ini dan itu, sesuai yang diminta oleh employer, dan saya menegaskan juga kalau saya butuh rekomendasi kesehatan itu secepatnya (4 hari dari hari saya melakukan tes).  Mereka menyanggupi untuk menyelesaikan selama tiga hari, tetapi akhirnya ngaret menjadi 4 hari.  Pelayanannya sangat ramah, dan sangat teratur dan tertata. Saya selalu diantar dan ditunggui oleh perawat untuk setiap tes dan lab yang saya datangi. Bahkan lift untuk saya dipencet oleh perawat, dan tentu saja semua form dan berkas dibawakan oleh perawat. Saya diperlakukan bak ratu.

Di dalam paket kesehatan yang saya bayar, saya seharusnya mendapatkan jatah berkonsultasi dengan internist dan doketr umum. Tetapi saya hanya bertemu sekali dengan dokter umum, itupun untuk pemeriksaan fisik bukan untuk konsultasi. Di hari keeempat, ketika saya hendak mengembil hasil tes kesehatan saya, saya hanya bertemu dengan perawat, dan perawat tersebut menyerahkan hasil ronsen, tes darah, tes urin, tes jantung, dan satu lembar yang berisi kesimpulan pemeriksaan dokter. Saya berani taruhan jika anda membaca kesimpulan dokter tersebut anda akan tertawa. Anda tidak perlu untuk sekolah kedokteran untuk membuat rekomendasi seperti itu.

Dan dia juga menyerahkan form rekomendasi yang sudah ditandatangi dokter, dan hasilnya? saya terkejut bagaikan disambar petir, ketika rekomendasinya saya tidak fit, dan tidak disarankan bertugas diluar Indonesia.

Saya baca kembali hasil tes urin (satu lembar penuh), hasilnya saya dinyatakan normal, hasil tes darah (hemoglobin, leukosit, dll), hati, ginjal, rekam jantung, tes fisik, semuanya perfect, sehat, normal. Saya menanyakan ke perawatnya kok bisa saya dinyatakan tidak sehat, saya butuh penjelasan, dan jawaban perawat ‘saya tidak bisa menjelaskan, karena saya hanya perawat bukan dokter, sedangkan dokter lab hari ini tidak masuk’.  Saya minta ditemukan dengan dokter manapun yang ada, untuk konsultasi, bahkan saya juga menegaskan jika saya harus bayar, saya juga bersedia. Dia meminta saya menunggu, dan tak lama dokter umum datang, dokter tersebut adalah dokter yang melakukan pemeriksaan fisik, dan dia menjelaskan kalau dari hasil ronsen mereka merekomendasikan agar saya berkonsultasi dengan dokter paru. Saya minta penjelasan kenapa saya direkomendasikan ke dokter paru, dokter tersebut tidak memberikan penjelasan, dia hanya bilang setelah konsultasi dengan dokter paru baru kita bisa mengeluarkan rekomendasi kalau saya sehat (tergantung dari dokter paru). Saya meminta dokter menjelaskan mengenai hasil ronsen, dan dia hanya bilang kalau dia dokter umum, dan dia tidak bisa memberikan penjelasan.

Saya bilang kalau saya mau betemu dengan dokter paru rumah sakit tersebut, dan dia bilang kalau dokternya sedang cuti. Saya tidak bisa menjelaskan rincian debat dan diskusi saya dengan dokter tersebut, yang pasti rasa hormat dan percaya saya terhadap dokter dan rumah sakit tersebut lenyap dan sirna. Dari hasil kesimpulan ronsen yang dikeluarkan bag lab rumah sakit tersebut hasilnya normal, saya tidak TB, tidak ada bercak, dan kecurigaan tersebut sungguh tidak beralasan.

Akhirnya saya membuat janji dengan 2 dokter dari dua rumah sakit besar lainnya di Jakarta. Saya butuh second opinion. Saya berkonsultasi dengan dokter spesialis. Bersama-sama kita melihat hasil foto ronsen saya, dan dia menjelaskan secara rinci mengenai paru saya dan hasilnya semua-nya perfectly healty and normal. Dia melihat hasil tes yang lain, dengan bahasa yang gampang mengerti menterjemahkan hasil rekam jantung saya, darah, urin, dan semuanya juga sempurna.  Dia kembali melakukan pemeriksaan fisik dan hasil perfect. Akhirnya saya tersenyum lega. Saya membayar biaya konsultasi yang harga-nya jauh lebih murah dari rumah sakit ‘mahal’ saya sebelumnya.

Jika saya melanjutkan konsultasi di rumah sakit sebelumnya, maka bisa dipastikan saya akan mengeluarkan jumlah uang yang lebih banyak lagi.  Biaya konsultasi dengan dokter paru, biaya tes-tes lab lain terkait dengan paru, yang setelah saya lelah bangkrut hasilnya akan sama kalau saya baik-baik saja.  Tetapi bedanya adalah rumah sakit tersebut akan semakin bertambah kaya, dan bisa jadi diakhir tahun dokternya juga akan mendapatkan bonus yang besar.  Well, kalimat terakhir ini mungkin hanya saya yang berburuk sangka.  Tetapi lesson learned atau pembelajaran yang dipetik disini adalah jangan percaya hasil analisa satu dokter saja. Penting bagi anda mencari second opinion atau third opinion, dan dari situ anda bisa melihat konsistensi jawaban, dan dari berdiskusi dengan dokter anda akan bisa mengetahui mana dokter yang wawasannya benar-benar luas dan berkualitas, dan yang mengerti dengan apa yang dia kerjakan. Anda akan tahu mana dokter yang hanya peduli dengan kesehatan anda atau yang hanya peduli dengan uang anda.

Ada tes yang penting anda lakukan, namun juga ada tes yang tidak behubungan, dan hanya akan menguras uang anda. Ingat uang bukan turun dari langit, jadi jangan pernah takut untuk bertanya mengenai rekomendasi yang dikeluarkan oleh dokter anda. Dokter yang baik akan memberikan penjelasan yang memadai dan bukan hanya memberikan perintah. Satu lagi, rumah sakit mahal atau yang mengklaim sebagai rumah sakit bertaraf Internasional juga bukan jaminan. Marilah kita pasien yang kritis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s