Lifelong Education

Saya merasa kalau umur saya sudah cukup tua, dan sebagai generasi tua saya tentunya tertinggal dalam banyak hal oleh generasi muda sekarang.  Agar otak saya tidak kaku maka saya memutuskan untuk mengikuti kursus bahasa Prancis.  Saya tidak terlalu tertarik dengan bahasa Prancis, namun malu juga jika tidak bisa mengucapkan Louis Vuitton atau Elle dengan benar.  Ditambah dengan keinginan saya menjelajahi negara Africa miskin jajahan perancis, maka saya fikir tidak ada ruginya.  Teman saya yang bijak dan rambut api bisa berbahasa prancis dengan tingkat kefasihan menengah.   Dan di zaman sekarang sangat mudah menemui orang dengan banyak kemampuan bahasa asing.

Akhirnya saya bergabung dan mengambil kelas pagi. Saya datang lebih awal, dan belum banyak orang terlihat di gedung tersebut. Tak sengaja mata saya tertumbuk pada salah seorang lelaki muda, yang dengan ramah tersenyum kearah saya.  Kitapun berkenalan. Dia bekerja di restoran Italia di Jakarta, dan dulu pernah bekerja di restoran prancis.

Dia mengaku baru pertama ikut kursus bahasa prancis tetapi sumpah bahasa prancisnya lancar banget.  Dia terus berbicara dengan bahasa prancis, seakan tidak peduli kalau saya tidak mengerti.  Saya juga mendapati dia tengah berbicara dalam bahasa prancis dengan petugas lembaga pendidikan bahasa prancis tempat saya belajar.  Akhirnya dia menjelaskan kalau dia sudah belajar bahasa prancis semenjak dua tahun yang lalu secara otodidak.  Dia menggunakan TV, Buku, Internet, Kaset dan juga mempraktekan bahasa prancisnya dengan pelanggan berbahasa prancis di tempat dia bekerja. Dia juga bisa berbicara bahasa Italia dan Inggris lancar.  Dia bercerita kalau dia menyukai belajar bahasa asing.  Dan dia berencana untuk mengambil kuliah kuliner di Swedia.

Akhirnya setelah menunggu kurang lebih 40 menit, akhirnya saya masuk ke kelas. Teman baru saya, anggap namannya Eko, juga ternyata satu kelas dengan saya. Ada kurang lebih 22 orang siswa di kelas tersebut.  Laki-laki berjumlah 4 orang dan sisanya adalah perempuan.  Mereka semua rata-rata masih muda, banyak anak SMA dan juga anak kuliahan.

Mayoritas murid di kelas saya berasal dari keluarga yang berada, nama SMA dan Universitas yang disebutkan adalah SMA/ Universitas swasta standar International yang bayarannya tidak murah.  Rata-rata semua siswa mengerti dan berbahasa Inggris dengan lancar.  Dan lebih mengejutkan lagi ternyata banyak dari mereka yang juga sudah mengenal bahasa perancis.  Mereka tidak buta seperti saya. Kok bisa ya, padahal kan mereka mengambil kelas dasar? Ingatan saya langsung melayang ke masa ketika saya duduk di bangku SMA mengikuti kursus bahasa Inggris, saya pernah muda juga kok dulu.

Ada beberapa orang yang menyatakan alasan dia belajar bahasa Prancis adalah karena mereka ingin kuliah di Prancis.  Beberapa orang lainnya termasuk saya belajar bahasa prancis hanya untuk mengenal dan menambah kemampuan belajar bahasa asing.

Jika orang memiliki kemauan dan juga mampu secara ekonomi maka dunia dan juga masa depan yang cerah menanti mereka.  Saya juga mengenal jenis generasi muda yang lain yang memiliki kemauan untuk belajar namun memiliki kerbatasan ekonomi, sehingga mereka tidak bisa bersaing dengan anak-anak orang kaya yang memiliki tingkat gizi, fasilitas dan kualitas terbaik.

Anak orang kaya bisa mendapatkan komputer, TV kabel, CD belajar, Ipod, Internet atau mengikuti kelas bahasa asing bahkan juga memiliki kemampuan untuk jalan-jalan ke Paris dan mempraktekkan bahasa-nya.  Terus bagaimana dengan anak-anak dari ekonomi menengah atau ekonomi tidak mampu.  Bagaimana jika mereka ingin menggunakan internet namun tidak memiliki komputer? Atau tidak mampu membayar biaya warnet? Anak-anak yang tidak mampu membayar biaya kursus, atau anak-anak yang harus bekerja membantu orang tua? Mungkinkah mereka mendapatkan kesempatan yang sama? Siapa yang bertanggung jawab atas masa depan mereka?

Sebenarnya tidak ada hal yang tidak mungkin bagi orang yang ingin belajar. There is a will there is a way. Jadi jangan pernah menyerah. Memiliki fasilitas yang cukup namun jika tidak ditunjang dengan kerja keras dan tekad yang kuat juga tidak ada artinya.  Sebaliknya, dengan bekerja keras dan semangat anda akan menemukan jalan sukses anda.  Saya banyak bertemu dengan orang yang sudah sukses namun proses menuju kesuksesan harus melalui perjalan panjang yang berliku.

Ada pepatah mengatakan, tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat, atau dalam istilah pendidikan sekarang di kenal sebagai lifelong learning. Jangan pernah membatasi keinginan belajar karena usia.  Saya sendiri langsung sakit kepala setelah mengikuti kelas bahasa prancis. Sangat sulit, ribet, susah dan jelimet.  Tetapi satu yang pasti, saya tidak akan berhenti. Saya akan terus belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s