Deru dan Debu: Adventurous Jambi part 1

Motor yang saya tumpangi melaju dengan kencang. Mungkin kecepatannya sekitar atau  lebih dari 100 km/ jam.  Dan secara perlahan kecepatan menurun menjadi sekitar 70 atau 80 km/ jam.  Namun meskipun motor sudah bergerak lebih pelan, guncangan dan hentakan terasa kuat bagi saya yang duduk dibelakang apalagi ketika motor yang saya tumpangi melewati jalanan  berlubang, atau ketika melewati jalanan berbatu yang belum diaspal.  Jam ditangan menunjukan pukul 3 sore dan saya dalam perjalanan ke Jambi dari kabupaten Tanjabtin (Tanjung Jabung Timur).

Tanjabtin adalah nama sebuah kabupaten di Jambi. Menurut teman yang memberikan tumpangan kepada saya, Tanjabtin adalah kabupaten yang relatif tertinggal dibandingkan kabupaten lainnya di Jambi. Jika melihat kondisi jalan dan juga fakta masih ada desa yang belum dialiri listrik maka ucapan teman saya tersebut mungkin ada benarnya.  Tanjabtin sendiri adalah daerah yang kaya dengan minyak. Dan saat ini terdapat perusahaan asing yang melakukan penambangan minyak disana. Hal yang menarik dari Tanjabtin, saat ini ada salah seorang artis yang dulu namanya cukup dikenal, Zumy Zola, mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Tanjabtin.

Zumy Zola adalah anak dari mantan Gubernur Jambi, Zulkifli Nurdin, yang sukses menjabat selama dua periode dan dinilai cukup berhasil.  Akankah Zumi Zola akan memenangkan pemilihan Bupati nanti? mungkin saja.  Secara pendidikan, lumayan bagus, atau mungkin paling bagus dibandingkan dengan calon bupati lain, Zumy adalah lulusan IPB, dan S2 di Inggris.  Dia dari keluarga kaya (katanya sudah kaya semenjak dari Kakeknya), bapaknya memiliki track record yang bagus, dia ganteng dan terkenal. Dia masih muda, yang dalam dunia politik merupakan suatu kelemahan, karena dia dianggap belum cukup berpengalaman, dan menurut teman saya, dan orang yang iseng saya ajak ngobrol di warung ketika makan siang, mereka juga ragu dengan Zemy karena Zemy lebih banyak tinggal di luar Jambi dari pada di Jambi. Mereka tidak begitu yakin kalau Zemy mengenal baik daerah kelahirannya. Mari kita tunggu hasilnya di awal tahun 2011 nanti.

Kembali lagi ke jalanan rusak dan berlubang, paha saya mulai terasa kram dan sakit, punggung dan pinggang juga demikian. Padahal untuk mencapai Jambi masih sekitar 3 jam lagi.  Teman saya yang mungkin juga sudah lelah dan ingin beristirahat dirumah berusaha memacu motornya semaksimal mungkin.  Debu dari jalanan, asap dari truk-truk pengangkut kayu yang bergerak lambat menutup jalan membuat mata saya perih karena motor kita harus bergerak dibelakang truk tersebut, tetapi teman saya cukup berani untuk menyalib truk tersebut dari sebelah kanan terlepas dari jalanan yang sempit dan berlubang.

Ditengah motor yang melaju kencang saya masih bisa menyaksikan keindahan awan putih yang menghiasi langit biru.  Matahari pada hari itu bersinar cerah. Langit biru, jernih dan memikat. Dikiri dan kanan saya melihat banyak pohon kelapa, pinang, hamparan rumput, ilalang, tanaman sawit yang masih muda, dan rumah megah yang dibuatkan khusus untuk burung walet.  Berbicara mengenai burung walet, sungguh ironis, karena rumah burung walet bisa lebih indah dan lebih besar dibandingkan dengan rumah warga. Saya melihat ada sebuah pondok kayu kecil yang dihuni oleh petani sementara persis dibelakang rumahnya terdapat rumah burung walet bertingkat dua, bangunan batu, kokoh, dan besar.  Teman saya, sambil bercanda bilang “karena burung walet bisa menghasilkan banyak uang, maka mereka bisa mendapatkan rumah mewah”, dan kebayang ngga kalau burung saja bisa mengalahkan manusia.  Konon burung walet adalah jenis burung pemakan serangga yang suka hidup di gua-gua dan rumah yang lembab.  Sarang burung walet yang terbuat dari saliva katanya bernilai tingga dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit.  Harga sarang burung walet sekilo katanya bisa mencapai 17 juta bahkan lebih.

Jalanan sepi, tidak banyak kendaraan.  Hal ini mungkin agak sedikit berbeda dengan beberapa provinsi di Sumatra dan di Jawa yang saya kenal, dimana dijalanan antar kabupaten kita akan bertemu dengan banyak bis atau kendaraan umum lainnya yang mengangkut penumpang. Ketika memasuki kabupaten Muaro Jambi baru mulai ditemui banyak rumah disepanjang jalan dan juga sungai atau mungkin anak sungai batang hari.  Rumah warga umumnya adalah rumah kayu dengan bangunan bertingkat.  Model bangunan ini adalah untuk mengantisipasi banjir jika air sungai meluap (leluhur zaman dulu sudah berfikir maju dan bijak).  Bagi orang yang tinggal di kota, melihat rumah kayu dipinggir sungai memiliki kesan eksotis dan romantis.  Apalagi dengan banyak perahu dayung yang tertambat tidak jauh dari rumah. Coba bayangkan jika anda harus mengunjungi teman anda atau saudara dengan mengendarai perahu melintasi sungai? menarik bukan. Dan coba bayangkan jika dari jendela rumah anda, anda bisa menyaksikan sunset dan juga langit jingga yang memerah yang memantulkan keindahan sinarnya di sungai tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s