The Silent Wall

Artikel ini saya tujukan untuk seorang teman yang sebut saja namanya Yanti.  Dia sosok yang bijak, dan tak jarang juga kita beradu pendapat. Tidak ada yang mau mengalah, dan kita akan pergi bertolak arah.  Namun besok ketika bertemu lagi pertikaian sebelumnya sudah kita lupakan. Dia memiliki karakter yang kuat.  Dia memiliki gaya dan teori hidup sendiri.  Dia sosok yang tegar, atau terlihat seperti itu.  Saya yakin jauh di dalam dirinya dia adalah sosok yang rapuh.  Diamnya menyimpan banyak cerita hidup.  Pengalaman kehidupan yang membuat dia menjadi sosok yang bijaksana atau mungkin juga sosok yang apatis.  Dia sudah makan asam garam kehidupan, yang sering dikiaskan dengan uban yang mulai tumbuh yang dia sebut sebagai garis kebijaksanaan.

Saya berusaha mengingat awal pertemuan kita. Saya adalah tipikal orang yang tidak akan menawarkan bantuan jika tidak terkesan dengan pribadi orang tersebut.  Pada kasus Yanti entah kenapa pada saat ini secara otomatis saya menawarkan tumpangan dan menemani dia makan ketika dia berkunjung ke sebuah kota yang mana saya sedang bertugas disana.  Itulah awal dari sebuah pertemanan jika belum bisa disebut persahabatan.  Pertemanan akhirnya terus berlanjut ketika saya akhirnya saya pindah ke kantor pusat dan kita akhirnya satu kantor. Awalnya pertemanan kita lebih karena persamaan kepentingan dan hobi. Tapi kita tidak pernah berbicara hal yang personal. Saya tidak pernah bercerita hal pribadi mengenai saya, demikian juga halnya dengan Yanti.  Kita hanya berdiskusi mengenai makanan, tempat yang pernah dikunjungi, orang-orang yang pernah kita temui, dan lain-lain.  Ketika hari demi hari berlalu, dan tahunpun berganti, rasa percaya saya terhadap dia mulai tumbuh. Dia orang yang akan menjaga perkataan dan tidak akan membaginya ke orang lain tanpa sepengetahuan saya. Saya menilai kalau dia memiliki sifat yang dapat dipercaya. Dan sayapun mulai terbuka dan membagi cerita dengannya.

Tembok kebijaksanaannya juga mulai goyah.  Pribadi dan semua pengalaman hidupnya yang tertutup rapat mulai terbuka sedikit demi sedikit.  Dia mulai bercerita. Hal ini mungkin dipengaruhi karena saya lebih dahulu terbuka dengannya.  Entah kenapa saya melihat sosok saya pada dirinya.  Dari hobi berpetualang dan beberapa prinsip dasar hidup, kita hampir sama.  Rasa segan dan hormat saya dengan dia juga bertambah.  Saya menganggap dia sebagai kakak (karena saya memiliki satu kakak perempuan yang luar biasa maka yanti akan menjadi kakak saya nomor dua).  Catatan ini akan menjadi pengingat kalau saya pernah memiliki seorang teman yang sangat baik.

Minggu ini dan seterusnya kedepan, saya akan disibukan dengan banyak kegiatan, kita mungkin tidak akan sering lagi bertemu. Dan saya tidak akan lagi bisa belajar dari pengalaman hidupnya yang luar biasa. Namun saya cukup dengan sedikit ilmu yang dia bagikan ke saya. Apapun yang terjadi kedepan, saya akan selalu mengingat kalau dia sebagai teman yang baik, kakak yang bijaksana.  Saya berharap kalau apatis dan kesedihan yang dia simpan (saya hanya menebak) suatu saat bisa sirna. Saya tahu dia adalah pribadi yang kuat dan pejuang yang tangguh dan saya berharap kedepan dia akan terus begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s